infolinks

Tampilkan postingan dengan label Horror. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Horror. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 April 2011

[Quick Five] Five of The Great Masterpiece

Untuk kedua kalinya saya gabungin lima film yang baru saja saya tonton ke dalam satu buah artikel singkat, yaitu Quick-Thoughts. Berhubung lagi libur seminggu karena sedang berlangsungnya ujian nasional, tiba-tiba saja terlintas di pikiran saya untuk ngabisin waktu seminggu yang bakal ngebosenin ini dengan nonton beberapa film lama yang belum saya tonton. Semuanya adalah film-film penting, maksud saya film penting adalah film-film yang emang diakui kualitasnya misalnya dapet Oscar ataupun lovelable di kalangan banyak orang. Ya sayang juga sih kalo dipikir-pikir saya baru tonton sekarang, hehe.Better late than never, bos! Oke, beberapa diantaranya adalah film-film terkenal antara lain film arahan sutradara favorit saya. Sebenernya film yang sudah saya tonton dua hari terakhir ini lebih dari lima, tapi dicicil dulu artikelnya, hmm sebenernya mau dibuat satu-satu reviewnya. Tapi akhir-akhir ini lagi nggak mood buat nulis dan cuma mau nonton. Yep, ada waktunya bagi gue untuk males. Dan quick-thoughts kali ini bener-bener singkat, cuma sekedar buat update blog. And here there are:

THE PRESTIGE (2006)
Director Cristopher Nolan Cast Hugh Jackman, Christian Bale, Scarlett Johanson
Bercerita mengenai dua orang pesulap Inggris, Angier dan Borden, yang awalnya bersahabat namun karena suatu kecelakaan aksi panggung, mereka berdua akhirnya saling bersaing untuk menjadi yang terbaik dengan trik tersendiri. Seketika film ini langsung jadi film favorit saya! Nolan oh Nolan, nggak ada hentinya buat orang takjub sekaligus ternganga. Dan untuk kesekian kalinya Bale main di film Nolan. Semua alur plot diatur sesempurna mungkin dengan detail yang sangat rapi. Shockingly twisted ending. Jadi jangan baca spoilernya kalo mau nonton, dijamin bakal ngeganggu. Oops, the wolverine caught my attention! [****]

DISTRICT 9 (2009)
Director Neill Blompkamp Cast Sharlto Copley, David James, Jason Cope
Sudah dua dekade terjadi invasi alien terhadap masyarakat Johannesburg. Alien dengan sebutan prawns tersebut hidup di kota itu layaknya manusia, hingga suatu saat pemerintah memaksa mereka untuk pindah ke kawasan khusus bernama District 9. Di sela proses penggusuran tersebut, seorang petugas Wikus Van De Merwe terkena cairan aneh yang membuatnya bermutasi menjadi prawns. Awalnya nggak ada daya tarik apapun buat nonton ini, tapi karena penasaran ya saya coba tonton. Dan ternyata, keren!! Nggak nyangka ada film invasi alien semenarik ini. Dari visual efek, naskah, sampai akting Sharlto Copley yang sempet main di A-Team, semuanya nearly-perfect! Ceritanya bener-bener nggak sampah, dan shockingly touching! One of my fav all the time. [****]

AMERICAN PSYCHO (2000)
Director Mary Harron Cast Christian Bale, Justin Theorux,Josh Lucas
Secara kasat mata, Patrick Bateman mungkin terlihat baik-baik. Good looking, kaya raya, punya kedudukan di perusahaan. Tetapi ternyata tersembunyi sosok lain dari dirinya yang adalah seorang psikopat. Daya tarik utama untuk film ini yang pasti adalah Bale. Yep, Bale is one of the most promising actor. Sebagian besar filmnya udah tentu bagus, even Terminator Salvation though. Disini Bale main agak berbeda, sangat baik. Saya suka cara dia mengimprovisasi karakter Bateman yang bisa dibilang berkepribadian ganda, perubahan mimik wajah Bateman yang sangat nggak terkira adalah nilai lebih. Mungkin American Psycho punya pesan tersendiri, yaitu mngenai kesempurnaan. Bagaimana kesempurnaan dalam diri seseorang dengan perlahan bisa saja menghancurkan kesempurnaan itu sendiri. Namanya juga film psycho, banyak banget adegan keji dan mengganggu, and some adult content. [***]

MEMENTO
(2000)

Director Christopher Nolan Cast Guy Pearce, Carrie Anne Moss, Joe Pantoliano
Leonard Shelby mengalami suatu kondisi tak lazim dimana otaknya tidak bisa menyimpan memori baru sehingga tiap hari ia akan terus melupakan segala hal yang ia alami, kecuali istrinya yang telah meninggal. Untuk mengatasi keadaannya tersebut, ia men-tattoo beberapa hal di badannya dan juga mempotret orang dan tempat yang ia kunjungi. Untuk kesekian kalinya Nolan buat saya menyukai filmnya. Memento adalah salah satu karya brillian yang pernah ada. Dengan penjabaran masalah yang sangat detail dan pemecahan masalah yang pasti akan buat semua orang ternganga. One of the most shocking twisted ending. Alurnya bener-bener confusing, yaitu ada dua alur disini. Yang satu mundur, yang satu lagi maju. Dan nantinya kedua alur itu ketemu di ending yang ngagetin. Untuk ngebedain dua alur tersebut, alur maju diberi warna black&white. Salah satu film favorit saya! [*****]

CRASH
(2004)

Director Paul Haggis Cast Matt Dillon, Sandra Bullock, Ryan Phillippe
Crash adalah film yang mengusung multi-plot, mungkin bisa dibilang ensemble cast, eh, ensemble cast terbaik. Menceritakan kehidupan beberapa orang berbeda di L.A dalam kurun waktu kurang lebih satu hari. Semua karakter memiliki persoalan tersendiri dan nantinya akan saling terhubung secara langsung maupun tidak langsung. Satu kalimat setelah nonton ini; gw cinta Crash! Masalah yang diangkat Paul Haggis disini adalah mengenai isu perbedaan. Bagaimana kondisi masyarakat Amerika yang sampai sekarang masih mempersalahkan perbedaan rasial. Rasialisme yang masih mendominasi pola pikir masyarakat disana dideskripsikan dengan sangat indah, visualisasi terbaik yang pernah ada. Banyak banget momen menyentuh di Crash, dan semuanya bener-bener buat merinding. Pesan lainnya mungkin jangan memandang orang secara kasat mata. Selain itu orang jahat tidak sepenuhnya jahat, pasti ada sebabnya. Dan orang baik tidak sepenuhnya sempurna. [*****]

Jumat, 01 April 2011

[3-in-1-Reviews] I SPIT ON YOUR GRAVE, LET THE RIGHT ONE IN, TRIANGLE

I SPIT ON YOUR GRAVE (2010)
Director Steven R. Monroe
Cast
Sarah Butler, Jeff Branson, Andrew
Howard, Chad Lindberg, Rodney Eastman


Jennifer Hills (Sarah Butler) adalah seorang novelis wanita yang memutuskan untuk tinggal sementara di pinggir danau sebuah kota terpencil yang sangat sepi. Kedatangan Jennifer di kota itu dimanfaatkannya untuk mencari inspirasi dan ketenangan dalam menyelesaikan novelnya yang kedua. Berniat mengasingkan diri, ia pun datang sendiri ke kota tersebut tanpa mengajak teman maupun keluarganya, dan yang pasti tidak lupa untuk membekali dirinya dengan laptop dan keperluan lainnya. Setiba di daerah tujuan, wanita kurus tersebut mampir sebentar di sebuah pom bensin dan bertemu dengan tiga pria penduduk setempat, salah satunya Johnny (Jeff Branson). Namanya juga pria desa, eh, berandal desa, pasti ada saja yang mereka lakukan untuk menggoda pendatang apalagi orang tersebut adalah seorang wanita. Niat jahil mereka awalnya biasa saja, antara lain membuat suara-suara aneh bahkan melempar bangkai burung ke rumah yang ditempati Jennifer. Hal ini jelas mengganggu dan menakuti Jennifer. Belum puas dengan aksi jahilnya, Johnny dan dua kawannya mengajak seorang pria dungu bernama Matthew (Chad Lindberg) untuk mendatangi dan menjahili Jennifer secara langsung. Dimulai dari pelecehan fisik ringan, hingga mencapai klimaks yaitu pemerkosaan yang dilakukan satu per satu dari mereka. Ironisnya, Sheriff Storch (Andrew Howard) yang awalnya diharapkan Jennifer sebagai penyelamat ternyata juga salah satu dari mereka. Beberapa bulan paska kejadian itu Jennifer yang awalnya dikira hilang kembali lagi ke kota tersebut untuk membalas dendam atas kelima pria kejam yang menyiksa dirinya. Diremake dari film berjudul sama, I Spit On Your Grave versi 'laptop' ini bernasib sama dengan film aslinya yang dicekal oleh banyak negara karena kandungan subjek kekerasan dan seksualitas yang mendominasi sebagian besar durasi film. Saya belum menonton versi aslinya, jadi mungkin artikel saya ini agak berbeda karena hanya menilai dari sudut pandang saya yang hanya menonton versin remake-nya. Memakan waktu sepanjang 102 menit, I Spit On Your Grave nyatanya terlalu lambat dalam penceriteraan sehingga dibutuhkan waktu agak lama untuk kita menikmati point utama yang coba diangkat oleh sutradara Ste ven R Monroe. Hingga akhirnya keseluruhan inti cerita beserta bumbu-bumbu psycho muncul juga setelah saya menunggu sekitar satu jam. Tidak afdol memang kalau membicarakan sebuah slasher movie tanpa menyinggung adegan-adegan sadis dan seksualitasnya. Ketika saya menonton film dengan genre seperti ini, logika dan akal sehat saya buang jauh-jauh, karena pada hakekatnya slasher movie adalah sebuah genre yang harus diberikan perhatian lebih pada adegan-adegan sadis yang dijadikan fondasi kuat film tersebut. Adegan pemerkosaan terhadap Jennifer saya bilang agak nanggung, oke, bukannya saya tidak puas dengan konten seksnya yang 'memang nanggung', tapi setelah saya lihat potongan adegan dari film aslinya yang lebih frontal, harus saya katakan I Spit On Your Grave kali ini tidak sekontroversial versi dulunya, yang pasti dalam aspek adegan pemerkosaannya. Kelemahan lainnya datang dari eksploitasi pengembangan karakter Jennifer yang tidak dilakukan, sehingga timbul pertanyaan di benak saya, "Bagaimana bisa dia selamat dan baru datang berbulan-bulan?". Diluar semua itu, film remake ini sangat berhasil dalam menghadirkan aksi keji balas dendam yang dilakukan Jennifer. Walau digarap tanpa detail yang menjanjikan, semua kelemahan berhasil ditutupi berkat adegan bunuh-bunuhan ala Saw yang sukses membuat saya sakit perut. [***]


LET THE RIGHT ONE IN (2008)
Director
Thomas Alfredson
Cast
Lina Leandersson, Kare Hedebrant, Per Ragnar, Henrik Dahl, Karin Bergquist



Oskar (Kare Hedebrant) hanyalah seorang bocah laki-laki berumur 12 tahun yang kerap menjadi sasaran aksi bullying oleh anak-anak di sekolahnya. Bocah berkulit pucat tersebut seakan pantas menjadi sasaran jahil karena karakternya yang penyendiri dan badannya yang kurus. Ia tinggal di sebuah apartemen kecil di pinggiran kota Stockholm bersama ibunya yang telah bercerai dengan sang ayah. Di sela waktu kosongnya di rumah, Oskar hanya bisa bermain sendiri di halaman gedung apartemennya. Suatu malam, Oskar melihat ada seorang anak perempuan pindah ke gedung tempatnya tinggal, bahkan tepat di sebelah apartemennya. Sosok gadis yang akhirnya diketahui bernama Eli (Lina Leandersson) tersebut tinggal bersama seorang pria dewasa yang diketahui sebagai ayahnya. Kehadiran Eli mengundang rasa penasaran dalam benak Oskar. Oskar pun mencoba mendekati Eli dan mengajaknya untuk berteman, meskipun awalnya Eli sudah memperingati Oskar bahwa ia tidak bisa berteman dengannya dan bukanlah sekedar gadis biasa secara kasat mata. Eli bukanlah manusia biasa, ia membutuhkan darah untuk bertahan hidup. Tiap malam manusia, eh, pria, eh, ayah yang tinggal dengan Eli membunuh orang-orang dan mengambil darahnya untuk keperluan nafsu Eli. Di sisi lain, Eli dan Oskar semakin dekat dan terbiasa bersama. Tanpa Oskar sadari, hubungan terlarang yang ia jalani itu lambat laun mengubah takdir kehidupannya.Akhirnya setelah penantian panjang saya berhasil nonton film adaptasi ini. Let The Right One In (Låt den rätte komma) diadaptasi dari novel dengan judul sama buah pena John Ajvide Lindqvist. Berkat respon positif yang diterima dari banyak pihak, tahun lalu Hollywood dengan percaya diri me-remake film ini dengan judul Let Me In dengan bintang Chloe Moretz. Mungkin banyak yang sudah mengerti jalan cerita bahkan kualitas plot cerita film ini karena telah nonton versi remakenya. Let The Right One In bukanlah horror vampir yang bertujuan untuk menakut-nakuti bahkan berisi adegan-adegan kekerasan atau kengerian ala kebanyakan horro lainnya. Film berdurasi 114 menit ini juga bukan film vampir yang mengetengahkan kisah cinta romantis antara manusia dan vampir konyol ala Twilight Saga. Sebagai sutradara, Thomas Alfredson mengadaptasi kisah dalam novel ke bentuk motion picture dengan sangat cantik. Kita tidak akan disuguhkan banyak dialog rumit, kisahnya sendiri tersuguhkan dengan sempurna oleh gaya penceriteraan yang kelam dan indah, berkat berbaurnya plot cerita dari novelnya sendiri yang memang sangat lambat namun kuat. Suasana kelam tercipta berkat sinematography yang diwarnai oleh pemandangan Swedia yang sepi dan klasik yang dijadikan setting lokasi cerita. Sepanjang durasi cerita mengalun dengan sunyi namun tegang, kental akan aspek drama yang tidak dilebih-lebihkan. Disamping fondasi film yang kuat dalam segi cerita, Let The Right One In pastinya berhasil mengumpulkan banyak respon positif berkat penampilan kedua karakter sentral yang sekelam plot cerita itu sendiri. Baik Lina maupun Kare tidak sekedar bermain dingin semata, tapi mereka berhasil menunjukkan sisi kemisteriusan seorang bocah yang masing-masing memiliki 'kelainan'. Walaupun bermain dengan baik, saya lebih menyukai Chloe Moretz dalam menjiwai karakter Eli, sedangkan karakter Oskar di versi asli ini tampil lebih baik daripada versi remake dengan menonjolkan keluguannya. [****]


TRIANGLE (2009)
Director Christopher Smith
Cast
Melissa George, Michael Dorman, Liam Hemsworth, Henry Nixon, Rachael Carpani


Di hari yang sangat cerah, lima orang kawan berlayar dengan sebuah yacht untuk berlibur sekaligus mencari udara segar di tengah laut. Mereka adalah Greg (Michael Dorman), Victor (Liam Hemsworth), Downey (Henry Nixon), Sally (Rachel Carpani), dan Heather (Emma Lung). Mereka juga mengajak Jess (Melissa George), seorang wanita single parent yang kini tinggal dengan putra satu-satunya, Tommy. Membesarkan anak seorang diri bukanlah hal yang mudah bagi Jess, apalagi Tommy mengidap kelainan mental. Kehadiran Jess untuk ikut bergabung bersama lima orang itu awalnya sempat mengundang tanda tanya bagi mereka karena ekspresi Jess yang tidak wajar dan keraguan yang terus-terusan dipertanyakan Jess. Wanita beranak satu tersebut seakan merasa ada kesialan yang akan mereka hadapi di perjalanan nanti. Perjalanan mengarungi laut awalnya aman-aman saja, tidak ada keganjilan, kerusakan pada kapal, ataupun cuaca yang tidak mendukung. Namun sayangnya semua itu berubah saat yacht mereka memasuki daerah gelap dan hantaman badai. Cuaca buruk tersebut lalu pergi dan sialnya membuat Heather tenggelam dan tidak dapat ditemukan. Keadaan seakan terasa akan membaik ketika mereka berpapasan dengan sebuah kapal pesiar besar dan menaikinya. Kapal tanpa awak tersebut kembali menghadapkan mereka kedalam sebuah tanda tanya besar, terutama saat Jess merasa dirinya pernah menaiki kapal aneh itu. Sayangnya kesialan kembali terjadi, satu per satu dari mereka, kecuali Jess, dibunuh oleh seseorang misterius, dan anehnya lagi mereka menuduh Jess adalah pembunuh tersebut.Triangle, awalnya saya mengira plot film ini adalah sekelompok orang yang sedang berlayar di segitiga bermuda dan terhantam ombak misterius. Walaupun tidak disebutkan, ada kemungkinan segitiga bermuda adalah setting tempat bahkan inspirasi dari pembuatan film ini. Sepanjang film kita akan dihadapkan oleh sebuah tanda tanya besar layaknya yang dialami oleh tokoh dalam film. Triangle bukanlah sebuah slasher umum yang menjadikan aksi kejar-kejaran atau bunuh-bunuhan sebagai inti cerita. Rasa penasaran akan kisah misteri film ini tidak bosannya menghinggapi diri saya, menimbulkan pertanyaan besar di dalam benak saya. Triangle adalah sebuah horror-mistery yang digarap sangat baik dengan mengedepankan unsur misteri tanpa memberikan tanda cerah yang bisa membantu penonton untuk memahami apa yang sesungguhnya terjadi. Sebagai sutradara, Christopher Smith layak diancungi jempol berkat garapannya yang satu ini. Triangle berjalan sangat lihai mengombang-ambingkan otak saya dalam rasa penasaran, membuat saya ternganga bahkan tidak bisa beranjak dari depan televisi. Perlu ditekankan lagi, Triangle bukanlah film yang memusatkan adegan kekerasan, lihat saja begitu terburu-burunya semua tokoh di-'matikan'. Tapi jangan salah, justru tiga puluh menit awal akan terus-terusan diulang untuk memberikan detail yang mungkin saja bisa membantu kita siapakah pembunuh bertopeng kain tersebut, atau mengapa kejadian tersebut terus diulang-ulang dengan eksistensi Jess yang tak ada habisnya. Semua coba diterangkan Smith dengan beberapa clue, yang saya yakin susah untuk membantu memahami keseluruhan plot film. Intensitas ketegangan semakin terbantu berkat penampilan Melissa George yang lincah dan gesit. Eksplorisasi karakter Jess juga dilakukan sangat detail. Triangle berhasil membuat saya tidak berhenti bertanya sampai beberapa jam setelah selesai menonton. Mungkin artikel ini malah menambah penasaran, tapi harus saya tekankan, Triangle bukanlah misteri mengenai time-loop maupun time-traveler, melainkan misteri hasil gabungan pecahan-pecahan twist yang tercerai berai dan mengharuskan penonton untuk menyusunnya. [****]

Kamis, 10 Maret 2011

[Quick Five] Random Average Movies

Well, namanya juga demen nonton kayak saya, pasti ngga ada berhentinya nonton film. Dari yang honorable mention sampai yang sampah pun tetap aja saya tonton. Nah, tapi masalahnya ada nih. Namanya juga suka nulis kayak saya, pasti ngga ada berhentinya mau bagi artikel di blog ini. Tapi ada lagi nih masalahnya, namanya juga anak sekolahan kayak saya, pasti ada waktunya capek dan males nulis review. Makanya itu lima film yang saya tulis di post ini disatukan dan dipersingkat aja ya, lumayan, hemat waktu. Ngomong-ngomong ini semua film ini ngga saya tonton dalam rentang waktu singkat, ada yang udah saya tonton lama dan baru kepikiran di post sekarang.

Sekelompok orang-orang jail nan kreatif melakukan banyak aksi ekstrim dan frontal. Mereka tidak lain adalah sekelompok stunt 'handal' di bidang ini yang sebelumnya terkenal lewat serial dan kedua prekuelnya. Hadir tanpa naskah/plot cerita, mungkin bisa dibilang semi-documentary, cukup kegilaan yang menghidupkan durasi film.

Jackass is back! Yap, acara gila nan sinting yang menampilkan berbagai aksi konyol dan gila para krunya ini kembali setelah lama tidak dijumpai di layar kaca. Jackass sendiri sebelumnya muncul pertama kali sebagai serial gokil di stasiun MTV. Tidak ketinggalan pula dua versi film yang mendahului Jackass arahan Jeff Tremaine ini. Mengusung format 3D--mungkin sebagai media penambah intensitas keseruan, Jackass 3D tetap mengajak kru gila teranyar seperti Johnny Knoxville dan Steve-O untuk kembali beraksi di depan kamera. Bedanya kali ini Jackass hadir lebih gila dengan banyak media jahil yang lebih sinting dan menjijikan! Intensitas kegilaan dikembangkan perlahan dari awal durasi hingga klimaksnya tercapai di pertengahan. Well, tidak usah menggali kualitas Jackass 3D, cukup tonton dan nikmati, satu kata yang akan terlintas di pikiran anda...GILA! And beware, the shits they brought to us is very...disgusting. [***]

Dua detektif tidak dianggap atau bisa dibilang loser di kalangan lingkungan kerjanya, Allan Gamble (Will Ferrell) dan Terry Hoitz (Mark Wahlberg), berusaha memperbaiki status dan popularitas mereka. Peluang terbuka saat dua detektif terhormat kebanggan NYPD, Cristopher Danson (Dwayne Johnson) dan PK Highsmith (Samuel L. Jackson) tewas di dalam tugasnya. Di luar kedukaan yang sedang terjadi, semua polisi pun berusaha untuk menjadi tenar seperti dua orang itu, termasuk Allan dan Terry. Tapi yang namanya usaha pasti ada aja penghalangnya, antara lain perbedaan watak kedua loser ini.

The Other Guys tumbuh dengan naskah yang, bisa saya bilang sangat sederhana dan ringan. Tidak terlalu memanfaatkan unsur komedi, film menjadi menjenuhkan untuk diikuti. Suasana yang tercipta di film sendiri kaku dan tidak berwarna. Kalau diibaratkan, film bagaikan padang pasir; tandus. Ya, despite all the good reviews people wrote, menurut saya film ini kurang menarik dan membosankan. Humor dan lelucon yang mewarnai dialog antar pemain juga agak jayus dan bertele-tele. Kalau urusan chemistry, Ferrel dan Wahlberg boleh lah dipuji, tapi komedi yang diusung sebagai genre film ini agak gagal dan dipaksakkan. Dari awal saya emang tidak tertarik untuk nonton film ini, tapi ya namanya juga penasaran. Well, The Other Guys hanyalah komedi sederhana nan ringan yang terlalu merumit-rumitkan jalan cerita. [**]

Bercerita mengenai tujuh orang sahabat di masa SMA yang kembali berkumpul setelah enam tahun tidak bertemu. Momen bahagia ini selain dijadikan ajang reuni sekalian untuk menghadiri pernikahan antara Lila (Anna Paquin) dan Tom (Josh Duhamel); yang merupakan anggota dari tujuh orang yang menyebut mereka dengan nama The Romantics. Konflik mulai muncul saat Laura (Katie Holmes)--salah satu dari mereka yang juga mantan kekasih Tom--ternyata masih memendam perasaan kepada Tom.

Bisa kita tebak apa premis yang menjadi bahasan utama di film romansa ini; love-triangle atau cinta segitiga. Premis yang bagus bukan untuk sebuah film independen kelas festival? Apalagi dihiasi oleh nama-nama yang tidak asing lagi di kancah perfilman apalagi di genre seperti ini. Sebut saja ketiga tokoh utama yang sudah saya sebut diatas. Sayangnya Galt Neiderhoffer gagal mengembangkan premis ini menjadi sebuah plot yang menarik untuk diikuti. Alhasil film sangat membosankan dan arah ceritanya sangat tertebak. Walaupun begitu pengembangan naskah yang dilakukan sutradara boleh dikatakan lumayan sehingga waktu satu hari yang dijadikan setting jalannya cerita cukup logis, tapi tetap saja kaku. Harus ditekankan, semua tokoh diperankan setengah-setengah, mungkin kesalahan ada di tangan Galt yang tidak melakukan pengembangan karakterisasi tokoh, bahkan empat kawan lainnya terasa hanya sebagai tempelan pelengkap. Well, The Romantics tidak memberikan suatu tontonan menarik dan hanya membuang waktu 92 menit yang dimakan durasi, andai saja filmnya dibagusin dikit mungkin aja ada Team Lila / Team Laura, ha! [**]

Mikael Blomkvist (Michael Nyqvist) adalah seorang jurnalis media Millenium yang divonis tiga bulan penjara karena kalah melawan seorang konglomerat di pengadilan. Di sisi lain ada juga Lisbeth Salander (Noomi Rapace), seorang hacker wanita berpenampilan sangat eksentrik yang sedang menguntit keseharian Mikael dengan meng-hack komputernya dalam rangka menyelidiki kasus yang tengah dirundung oleh pria itu. Karena suatu kebetulan mereka berdua malah bekerjasama menyelidiki kasus hilangnya Harriet Vanger (Ewa Fröling)--keponakan konglomerat Henrik Vanger (Sven-Bertil Taube). Mereka pun bekerja sama untuk mengungkap kasus lama yang sampai kini belum mencapai titik terang.

The Girl With The Dragon Tattoo adalah salah satu film ter-detail yang pernah saya tonton sampai sekarang, saya tekankan lagi; detail. Semua hal dijelaskan sangat detail dengan memaparkan akar permasalahan sampai inti dan mencapai klimaks. Film dimulai sangat baik dengan menjelaskan latar belakang tiga cerita karakter yang nantinya akan melebur jadi satu dalam satu konflik. Durasi 152 menit dimanfaatkan sangat bijak dengan menceritakan segala seluk beluk masalah yang didera ketiga karakter yang awalnya terpisah. Salah satu phsycology-thriller terbaik yang pernah ada dengan penampilan Noomi Rapace yang sangat rapi, memaparkan misteri seru yang membuat saya ikutan emosi menjalani detik demi detik waktu berjalan. Atmosfir keseruan berhasil tercipta layaknya sebuah labirin dimana saya berperan sebagai pencari jalan di labirin tersebut untuk berusaha mencapai pintu keluar atau puncak cerita. Memang sih awalnya cerita bergulir agak lambat, tapi ya itulah harga yang harus dibayar kalau mau tau secara jelas segala faktor dan tujuan plot cerita. Well, mungkin ada beberapa hal tidak dijelaskan disini hingga terasa ganjal, tapi tenang, kan ada lanjutannya; The Girl Who Played With Fire. [****]
Yang pertama menceritakan sekelompok pelajar dari sekolah elit yang terpilih untuk menjalani bimbingan belajar khusus yang diberikan sekolah untuk membantu masuk ke universitas bagus. Mereka hanyalah siswa-siswi peringkat teratas yang dapat ikut program khusus ini. Nasib berkata lain kepada semua orang ini, mereka terjebak dalam permainan hidup-mati oleh seorang misterius. Pembunuhan berantai berjalan dimulai dari ranking satu. Sedangkan yang kedua bersetting dua tahun kemudian, di lain sekolah, dimana tiga puluh pelajar berprestasi mengikuti study-camp di musim panas untuk latihan masuk ke universitas. Kejadian di film pertama pun kembali terulang, agak sama seperti yang pertama; kejadian dihubung-hubungkan dengan past-case kematian seorang murid di sekolah tersebut.
Bagi anda penggemar slasher-horror jangan lupakan film Korea yang satu ini, eh, saya koreksi, yang pertama saja. Death Bell adalah salah satu slasher produksi Asia terbaik yang pernah saya tonton. Menggabungkan beberapa aliran, dimulai dengan unsur horror hingga merubah atmosfir horror itu dengan sebuah misteri yang dibalut dengan aksi bunuh-bunuhan ala franchise SAW, cukup bagus dan mengerikan. Misteri yang ditawarkan berhasil membuat saya ikutan main tebak-tebakan siapa pelaku dibalik kecerdikan jahat ini. Film tidak membosankan dan seru. Kalau diibaratkan, slasher ini hasil sama dengan SAW+Final Destination+Detective Conan. Seperti yang saya katakan tadi, seri pertama saja yang saya rekomendasikan. Yang kedua jelas tidak. Tidak adanya benang merah yang menghubungkan plot cerita antar seri pertama dan kedua bisa saja dieksplor lebih jauh dan lebih bagus, tapi sayang Death Bell: Bloody Camp tidak memiliki sebagian unsur yang saya rasakan di pendahulunya. Yang saya rasakan? Tidak ada tebak-tebakan, misteri, bahkan SAW-experience tidak dimasukkan dengan dahsyat disini. All the good point the first film had totally gone. Well, Death Bell berhasil menawarkan gairah horror dan dibaurkan dengan misteri tegang didalamnya, sedangkan sekuelnya harus saya bilang gagal dan terlalu dipaksakan. [1***] [2**]

Kamis, 03 Februari 2011

ALTITUDE (2010)

"Don't look down"
Director :
Kaare Andrews

Cast :
Jessica Lowndes
Julianna Guill

Landon Liboiron
Ryan Donowho
Jake Weary

Distributor :
Alliance Films

Genre :
Horror, Sci-Fi, Thriller










Mari kita flashback ke tahun 2010. Masih segar di pikiran kita bahwa tahun lalu banyak film-film yang gaungnya tak terdengar keras namun ternyata membawa kejutan besar dengan kualitasnya yang lebih baik dari ekspetasi banyak orang, katakan saja film kelas festival atau foreign film. Masih ingat Buried dan Devil? Ya, dua film ini cukup memberikan kejutan yang berarti bagi saya. Keduanya sama-sama mengambil satu lokasi sebagai setting sebagian besar cerita. Nah, ternyata ada juga Altitude yang mencoba hal serupa. Film produksi Kanada besutan Kaare Andrews ini hadir dengan setting kabin pesawat di sepanjang durasi. Film yang sebenarnya dirilis langsung dalam bentuk video ini pertama kali diperkenalkan trailernya pada Comic-Con San Diego 2010 lalu. Lucu juga ya masuk ke Indonesia malah ke bioskop dulu. Namanya juga straight-to-video, semua pemain yang ambil bagian di dalamnya pun tidak terkenal. Paling cuma Jessica Lowndes yang lebih eksis di Hollywood, dia dikenal dalam perannya di serial tv 90210. Mengangkat tema lovecraftian horror, Altitude bercerita mengenai sekelompok pemuda yang hendak berlibur akhir pekan menggunakan pesawat jet kecil. Pesat disewa sekaligus dipiloti oleh Sara. Mirisnya ia membawa jet tersebut tanpa sepengetahuan ayahnya. Sara pun memulai perjalanan bersama keempat temannya, yaitu Bruce, Sal, Mel, dan Cory. Dari awal Bruce sudah terlihat resah seakan takut akan terjadi sesuatu. Awalnya penerbangan berjalan lancar. Namun keadaan berubah parah ketika Sara tidak bisa mengendalikan pesawat yang pada akhirnya malah masuk ke awan gelap. Badai begerak kencang, mesin pesawat jadi rusak, bahan bakar menipis, dan lebih diperparah dengan kenyataan bahwa Sara tidak terlalu mengerti banyak mengenai teknis dan instruksi pesawat. Situasi tambah panik ketika mereka mendapati terdapat makhluk aneh di balik awan yang menginginkan kematian mereka. Perjuangan melawan maut pun dimulai.
Mengusung kejadian supernatural ke dalam plot cerita, Altitude tidak dapat memberikan ketegangan yang berarti. Dari awal mau nonton saya yakin Altitude tidak menawarkan sebuah tontonan berkualitas. Altitude terasa digarap 'setengah-setengah'. Akting para pemain tidak sanggup menyelamatkan cerita yang makin lama berjalan membosankan. Ya harus kita maklumi lagi, mungkin mereka belum cukup berpengalaman. Efek visual yang coba mereka tambahkan untuk mewarnai film bisa sedikit dipuji, walau kadang terlihat biasa bahkan murahan. Tapi masih bisa menambah intens ketegangan dan kepanikan saya. Cerita bergulir kaku dari awal sampai agak pertengahan, namun semakin membaik saat menuju akhir. Makhluk menyeramkan yang diharapkan untuk muncul kelihatan malu-malu kucing. Alhasil pemandangan layar kaca jadi berantakan karena kebanyakan naskah dialog yang tidak penting bahkan tidak bisa menjelaskan apa yang sedang terjadi. Tapi saya suka endingnya - agak berkelas, tidak seperti yang saya pikirkan. Well, harus kita ingat Altitude hakikatnya adalah sebuah home video - tidak perlu berkhayal banyak akan film ini, untuk ukuran film rumahan boleh lah dipilih.


Rate :
2.5/5