infolinks

Tampilkan postingan dengan label Crime. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Crime. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 Oktober 2011

[Review] DRIVE (2011)

Director Nicolas Winding Refn Writers Hossein Amini
 Cast Ryan Gosling, Carey Mulligan, Albert Brooks, Bryan Cranston
Distributor Film District Genre Action, Crime, Drama, Thriller

Banyak factor yang membuat film bisa jadi menarik dan menaikkan pamor film tersebut. Entah itu dari sisi teknikal promosi seperti poster, trailer, dll, bahkan sampai nama sutradara atau actor di dalamnya. Kali ini factor leading-actor lah yang berperan sebagai factor itu, yaitu Ryan Gosling. Setelah beberapa filmnya yang sebagian besar mendapat critical acclaim berkat penampilannya, kali ini di Drive ia kembali menunjukkan bahwa ia layak dicap sebagai promising actor.

Dari sekian banyaknya festival film yang diadakan per tahun, hanya beberapa yang memiliki prospek berkualitas, sebut saja Toronto Film Festival, Tribeca, Sundance di awal tahun, dan Cannes Film Festival di awal summer season. Di Cannes tahun ini ada beberapa film yang mendapat perhatian lebih, khususnya karena mendapat awards khusus in competition. Empat film paling mengundang perhatian antara lain The Artist dan Melancholia dengan P d’interpretation (best performance), The Tree of Life yang diganjar Palme d’Or (best picture), dan juga Drive dengan Prix de la mise en scene nya (best director). Empat film diatas adalah film-film yang berjaya di Cannes tahun ini dan sukses meraih atensi publik serta kritikus yang nantinya berkemungkinan besar untuk ikut bertarung di awards season, bergabung dengan film-film fall season yang memiliki prospek oscar lebih besar.
 Ryan Gosling bermain sebagai karakter tanpa nama, dengan sebutan ‘Driver’. Driver berkerja sebagai mekanik di garasi milik temannya Shannon (Bryan Cranston). Ia juga melakukan dua part-time job, yaitu sebagai stuntman untuk film seperti adegan car chase, di malam hari ia adalah seorang getaway driver. Shannon memiliki hubungan dengan mafia bernama Bernie Rose (Albert Brooks) yang membayar dirinya atas pembelian mobil balap NASCAR beserta Driver dengan driving skill nya yang baik. Bernie memiliki hubungan dengan Nino (Ron Perlman), yang juga seorang mafia.

Driver hidup sendiri di sebuah low rent apartment. Ia memiliki tetangga bernma Irene (Carey Mulligan), ibu muda yang tinggal berdua bersama sang anak. Driver dan Irene bertemu dan perlahan jadi suka sama suka walaupun in fact Irene sudah mengingatkan bahwa ia mempunyai suami yang berada di penjara. Suaminya, Standard (Oscar Isaac), memiliki hutang dengan seorang mafia dan harus segera melunaskannya dengan ancaman keselamatan Irene dan anaknya. Si Driver pun ikut campur untuk menyelamatkan mereka, sayangnya masalah jadi rumit karena adanya konspirasi yang dilakukan para mafia. 
 Banyak aspek yang membuat saya paling excited dengan film ini. Diluar nama Ryan Gosling yang makin bersinar, aspek promosional film juga mengundang atensi besar saya. Dimulai dari trailer yang lumayan bagus, sampai design poster retro dengan font berwarna pink yang kalau boleh dibilang termasuk poster terbaik tahun ini. Film dibuka dengan opening title yang sangat sederhana dengan font pink seperti di poster, dilanjutkan opening sequence si Driver dalam memperkenalkan dirinya sebagai getaway driver. Dimulai dengan pembicaraan si Driver dalam memberikan instruksi, dalam 20 menit berikutnya tidak banyak bahkan hampir tidak ada line yang diberikan kepada karakter Gosling tersebut. Penonton diperlihatkan sosok Driver yang sangat dingin, menakutkan, sekaligus questionable. Siapa orang ini? Apa latar belakangnya? Saya sangat suka opening sequence Drive ini, salah satu opening film terbaik yang pernah ada. Sebuah muted-sequence yang breathtaking dan memperlihatkan ketelitian seorang Driver.

Nama lain yang memiliki andil besar dalam Drive tidak lain adalah sutradaranya sendiri, yaitu Nicolas Winding Refn. Berkat film ini ia diganjar penghargaan setingkat best director pada Cannes bulan May lalu. Nama Refn dikenal lewat film-filmnya yang kebanyakan bergenre sejenis seperti Valhalla Rising dan Bronson. Belum ada film Refn selain Drive yang pernah saya tonton.  Apa yang menarik dari penyutradaraan Refn? Dari detik pertama Drive saya sudah merasakan jawaban dari pertanyaan disamping. Refn unggul dalam membuat sebuah contemporary film menjadi terlihat beda. Dalam Drive, Refn memberikan sentuhan feel retro dalam berbagai aspek, mulai dari kesederhanaan opening title yang cukup dengan font pink yang sangat hot sampai betapa asiknya ia memberikan mood dari awal sampai penghujung film yang mengingatkan saya akan ’80 noir. Walaupun tidak mencolok, sinematografi dalam Drive adalah nilai plus yang juga membuat mood retronya lebih terasa. Dibantu sinematografer Newton Thomas Sigel, Refn memperlihatkan immersive vision kota Los Angeles lengkap dengan neon eighties dan cara pengambilan gambar yang gampang ditemukan dalam film-film jadul tahun ’80-an. Saya paling suka dengan long-shot yang dipadukan dengan mood calm dan sentuhan efek sudden shift sampai slow motion.

Just as important as its other technical atmosphere, scoring film yang dikerjaan oleh Cliff Martinez, orang yang juga bekerja di film Contagion, sangatlah impresif. Diluar pengambilan gambar yang sangat baik di Drive, scoring beserta soundtrack yang menghiasi banyak scene disinilah yang membangkitkan mood ’80-an paling kental. Kadang saya suka membayangkan gimana ya kalau mereka lebih memilih untuk menggunakan lagu-lagu modern, pasti hilang feel-nya. Baik scoring maupun soundtrack, keduanya menciptakan atmosfir yang sedingin si Driver itu sendiri.

Saya sangat yakin ke depannya Drive akan menjadi sesuatu yang ikonik. Banyak factor yang masuk akal untuk membuat hal ini terjadi, mulai dari mood ’80-an yang kental, long-shot sequence yang masih lekat di ingatan saya, atmosfir retro yang dibangkitkan mulai dari credit title, sampai art direction yang lagi-lagi sangat saya suka. Hal ikonik lainnya? Yang pasti scorpion white satin jacket yang dipakai Gosling sepanjang film, beserta denim jeans tusuk gigi yang tidak kunjung lepas dari mulut sang Driver. I love every single piece in this film, tidak ada satupun adegan yang dibuat sekedar melama-lamakan durasi atau terbilang tidak perlu. Jelas durasi film ini hanyalah sebatas 1jam 30menit. Ada banyak adegan yang sangat memorable dan paling ‘berjiwa’. Favorit saya ialah ending film dimana Irene mengetuk pintu apartemen Driver dan akhirnya pergi dengan tatapan hopeful diikuti shot wajah si Driver, yang menurut saya sangatlah heartbreaking dan strong. Adegan dimana Driver diajak ngobrol seorang former client nya di bar mulai menunjukkan transformasi cold-character nya menjadi ganas, tetap dingin, tapi menakutkan. Favorit saya lainnya tentu saat Driver dengan stuntman mask nya mendatangi Nino dengan tatapan kosong, diiringi lagu soul ’80-an lagi serta slowmotion shot. Saat itu satu hal yang muncul di pikiran saya, this Driver is one of the greatest avenger all the time.

Diluar kesan stylish yang menyelubungi, seperempat jiwa Drive berada dalam tangan Ryan Gosling. Saya yakin dari panjangnya film ini, tidak lebih dari 50 lines diberikan pada dirinya. Gosling bermain sangat baik disini, ketimbang memainkan kata-kata, ia lebih memilih untuk membangkitkan jiwa seorang Driver lewat mimik muka dan bahasa tubuh yang quiet dan calm. Sekalinya ia menunjukkan sisi gelap yang ia timbun dalam dirinya, jujur sangatlah menakutkan. Bukannya berlebihan, tapi the way he look through his eyes is really mesmerizing.  Driver adalah karakter yang misterius, hanya berbicara kalau penting saja. Ryan Gosling menunjukkan kualitas acting yang sangat baik. No doubt this dude is one of the finest actor today. His consistency is remarkable, as is his range and taste of roles. Setelah menonton film-film terbaiknya, Ryan Gosling terbukti adalah salah satu actor muda terbaik di era ini. Dimulai dari peran Jewish kid di The Believer yang dulu tidak sedikit menamai dirinya sebagai best newcomer, dalam Half Nelson sebagai drug addict teacher yang sukses menganugerahi dirinya the first and only Oscar nod, sampai performances nya yang kelewatan underrated seperti Lars and the Real Girl dan Blue Valentine. Untuk tahun ini saja ada tiga film mainstream bagi dirinya dan saya masih nunggu untuk nonton dua lainnya.

Jangan banyak berharap kalau mengira Drive adalah film seperti Fast and Furious atau film balapan mobil lainnya. Drive sepenuhnya berbicara mengenai revenge, dibalut love story yang charming. Momen romantis dalam film ini dipenuhi oleh adegan kalem antara Irene dan Driver yang sangat manis. Tidak berlebihan dan tidak segitu mudahnya untuk dilupakan. Beberapa artikel mempersalahkan adanya lack of characterization of Driver yang tidak menceritakan background kehidupannya. Namun bagi saya malah bagus dan lebih menimbulkan kesan misterius yang memberikan kesan mendalam. Supporting cast film ini juga baik sama halnya seperti aspek lainnya. Saya agak terpaku pada Carey Mulligan yang bermain sangat sweet sebagai Irene, Christina Hendricks yang walaupun muncul sebentar tapi bisa dibilang sebagai scene-stealer.  Albert Brooks paling mengundang perhatian, sebagai villain yang kelihatan baik namun sebenarnya ruthless, lebih dari seorang Nino yang diperankan Ron Perlman. Agak kasihan sama karakternya Bryan Cranston gak tahu kenapa. Oscar Isaac juga bermain baik, padahal awalnya saya kira bakal memberikan sentuhan jealousy.
Talking point... 
Susah untuk tidak menyukai film ini. Drive adalah film action/gangster/neo-noir yang mencekam sekaligus mempesona dari awal sampai akhir, dan dibuat sempurna tanpa ‘nila setitik’. Ditopang penampilan si one-in-a-million, Ryan Gosling.

Rate :
1  2  3  4  5

Kamis, 01 September 2011

[Review] GONE BABY GONE (2007)

Director Ben Affleck Cast Casey Affleck, Michelle Monaghan, Amy Ryan
Distributor Miramax Films Genre Drama, Crime

Pernah nggak, atu lebih tepatnya, pasti sering kan kita dilanda dilema? Ya, mungkin "dilema" merupakan bagian kecil dari pokok permasalahan yang diangkat dalam film yang satu ini. "Gone Baby Gone", debut penyutradaraan Ben Affleck untuk yang pertama kali pada tahun 2007 lalu. Berhasil kah?

Saya sangat menyukai film yang bisa membuat orang bertanya-tanya sepanjang film, tanpa memberikan clue yang bisa merusak kesan misterius. Bahkan lebih bagus lagi kalo diakhiri dengan paksaan bagi kita untuk mempertanyakan apa yang terjadi sesudah film. Siapa yang benar? Apa yang salah? Itulah yang saya rasakan saat nonton Gone Baby Gone. Saya singkat menjadi GBG ya, ini merupakan crime-drama-mystery debutan Ben Affleck  yang diadaptasi langsung dari novel berjudul sama karya Dennis Lehane, yang juga menulis versi novel dari Mystic River dan Shutter Island (jangan kaget kalo ngerasa ada feel yg sama diantara 3buku disamping). GBG dibintangi oleh adik kandung dari si sutradara yaitu Casey Affleck (bromance project?). Casey sebelumnya sempet dapet noms Oscar berkat perannya di Jesse James (judulnya lebih panjang dan males nulisnya). Ada juga Michelle Monaghan dan juga Amy Ryan yang berkat penampilannya di film ini, dirinya diganjar noms Oscar u/ best actress. Gone Baby Gone menurut saya mengalami Oscar-snub dengan tidak dinominasikannya film ini ke beberapa noms yang harusnya pantas, terutama Best Adapted Screenplay atau bisa juga Best Director. Kenapa bisa gitu? 
Mengambil kota Boston sebagai latar tempatnya, Gone Baby Gone bercerita mengenai peristiwa penculikan seorang bocah perempuan yang menyebabkan banyak pihak terlibat dalam proses investigasi kasus misterius tersebut. Dikisahkan Amanda McCready adalah bocah 4 tahun yang tinggal bersama ibunya, Helena McCready (Amy Ryan). Hidup di kota Boston memang sulit dan butuh kewaspadaan penug, wajar, kota ini memang terkenal oleh tingkat kriminalitasnya yang tinggi. Helena hanyalah seorang single-mother (tidak dijelaskan kemana dan siapa suaminya), yang hidupnya berantakan dan bergaul dengan hal-hal kelam seperti narkotika, minum-minuman keras, atau "kehidupan malam". Helena tidak pernah mengurus anaknya itu dengan benar sebagaimana seharusnya tugas utama seorang ibu. Bahkan ia seringkali membawa Amanda ke lingkungan brutalnya. Tidak mau keponakannya terlantar, Lionel McCready (Titus Welliver), yg merupakan kakak kandung Helena malah lebih sering merawat Amanda.

Lalu apa masalahnya? Suatu ketika Amanda dinyatakan menghilang setelah anak itu tidak ditemukan dirumahnya oleh Helena. Segala penelusuran di sekitar rumah pun telah dilakukan dan tetap tak ada hasil. Hingga akhirnya dinyatakan sebagai kasus penculikan, berita tersebut menyebar luas melalui berbagai media. Tidak bisa menunggu lama untuk mendapat hasil investigasi kepolisian yang terkesan mengulur-ulur, Bea McCready (Amy Madigan), yang merupakan istri dari Lionel, mencari tambahan bantuan dan pilihan pun jatuh ke sepasang detektif independen Patrick Kenzie (Casey Affleck) dan Angie Gennaro (Michelle Monaghan). Memiliki banyak relasi/kenalan pelaku kriminal, Patrick dan Angie memanfaatkan hal ini untuk mempermudah proses penyelidikan, dibantu oleh dua detektif kepolisian Remy dan Nick. Semua risiko harus ditanggung dalam kasus ini. Segala kekeliruan, fakta mengejutkan, sampai hal yang tidak sesuai ekspektasi semakin memperumit masalah ini dan berimbas pada keselamatan nyawa hingga menimbulkan masalah personal dalam pasangan Patrick dan Angie begitu juga semua yg terlibat.
Ben Affleck memang nyatanya banyak yang nggak suka, bukan secara personal melainkan kualitasnya dalam berakting. Bahkan sering banget dia dijulukkin salah satu aktor terburuk yang pernah ada. Razzies pun juga sering ia dapet, eh, nggak tahu sih nominasi doang ato menang. Well, berlebihan nggak sih? Menurut saya iya. Ok, dia sering main di film-film jelek ato kasarnya film sampah. Dan nggak usah saya bela-belain dengan sok ngebagusin penampilannya, Affleck tidak jarang main dengan kaku dan nggak bisa memberi feel-good. Tapi ada kok beberapa filmnya yang lumayan saya suka, misalnya Pearl Harbour yang lumayan dihina itu (kalo Daredevil sih lewatin aja ya). Hey, jangan ngeliat orang sekedar dari satu sisi sehingga kesannya semua yg bagus dibuang. Robert DeNiro sampai Julie Roberts nggak jarang kok main jelek, tapi ya gitu, orang terlalu ngeliat predikat mereka sebagai kaliber Oscar sehingga apa-apa pasti dibilang bagus.

Oscar? Nah, ini dia yang banyak orang nggak tau. Jangan remehin Ben Affleck dulu, tahun 1998 lalu dia dapet Oscar berkat hasil kerjanya sebagai writer Good Will Hunting, walaupun shared with Matt Damon. Terus terang film itu belum saya tonton, jadi nggak bisa menilai terlalu gimana gitu. Well, nggak mungkin kan orang dapet Oscar tapi sebenernya dia nggak bagus? Mungkin sih, tapi untuk ajang tinggi seperti ini ya nggak gede-gede banget lah kemungkinannya. Tidak mau stuck disatu hal saja, dan sepertinya mau melepas cap jelek dari banyak orang, Ben Affleck tahun 2007 lalu melakukan debut penyutradaraannya. Langkah yang cukup berani, ditambah merangkap sebagai penulis screenplay. Lewat Gone Baby Gone, Ben Affleck sangat berhasil merubah pola pikir jutaan orang terhadap dirinya. Saya sangat suka dan akan sangat sangat mengagumi seorang sutradara yang bisa menulis sendiri naskah/screenplay cerita film itu sendiri. Itulah yang berhasil Affleck lakukan, sukses membuat saya kagum dan enjoy menikmati GBG ini dari awal sampai akhir. 

Cara Affleck menyutradarai debutnya ini sangat impresif, saya suka dengan caranya yang no-frills (to the point dan tidak kebanyakan embel-embel). Saya nggak suka film yang terlalu mengeksplorisasi ceritanya terlalu jauh dan tidak terkendali, sehingga film kesannya berantakan. Tahu lah, banyak banget loh film-film drama yang terlalu dipanjang-panjangin ceritanya sampai masalah yang ada terkesan repetitif dan maksa. Beda dengan Affleck, suami dari Jennifer Garner ini lebih memilih untuk berusaha memperdalam penampilan semua aktor/aktris yang terlibat. Affleck memiliki kelebihan yaitu power intelegensi dalam menggali dalam-dalam topik utama yg dibahas sehingga tidak menyeleweng ke hal yang nggak ada gunanya. Seperti filmnya yang perseptif, itulah diri Ben Affleck. In the other hand, Daredevil-nya Affleck emang saya akui sampah, sampe mikir kok kayaknya kebanyakan adaptasi komik DC selalu gagal ya? Lucunya, Affleck punya istri, Garner, juga pernah meranin superhero sampah yaitu Elektra.

Oops, hampir lupa ngomongin filmnya. Nyadar nggak sih Boston sering banget dijadikan latar tempat buat film-film jenis crime? Ya, sering banget. Seperti yang saya katakan di sinopsis cerita tadi, Boston adalah salah satu kota yang terkenal akan persentasi kejahatannya. Boston bak forbidden city yang dikelilingi beragam sense, dari ketakutan sampai kemarahan. Semuanya berhasil digambarkan secara sempurna dan terlihat natural dalam Gone Baby Gone sehingga dapat direfleksikan dengan baik oleh penonton. Ben Affleck emang gemar merangkai jalinan cerita yang bernuansa crime dan dileburkan dengan drama humanis ke dalam frame film. Tema universal ini bisa kita lihat dari beberapa film dimana dirinya terlibat, contohnya saja film ini dan The Town. Kalau dilihat dari Gone Baby Gone dan The Town, keduanya sama-sama memiliki permasalahan mengenai pembelokkan inti kasus. Maksudnya adalah crime scene yang akhirnya membawa orang-orang yg terlibat ke dalam konflik personal. 

Apa yang seketika nge-stuck di otak saya pas nonton film ini adalah, Gone Baby Gone berbicara mengenai "dosa putih". Secara tegas film ini mentidakbenarkan apa itu "dosa putih". Apapun alasannya, setulus apapun faktor orang melakukan tindakan yg merugikan pihak lain, itu nggak bisa dibenarkan. Let me tell the term, evil is "black", whereas good is "white". Coba ambil media pewarna, campur hitam sama putih. Hasilnya nggak bakal jadi putih kan? Sebanyak-banyaknya warna putih yang dicampur, tetep aja warnanya bernuansa dark. So, kejahatan sama kebaikan tuh nggak bisa dicampur. Nggak usah berusaha memperlogis argumen, tetep, buat saya jahat ya jahat. Contoh lain yang mempertegas alasan saya kenapa nggak setuju sama yang namanya dosa putih mungkin soal capital punishment/hukuman mati. Saya orang yang nggak setuju sama cara ini, ngapain ngebunuh orang sejahat apapun dia? Toh, nggak ada guna dan nggak bedanya ngelakuin itu (a.k.a sama-sama kriminal tuh hukum). Mungkin ada yang penasaran apa kaitan masalah "dosa putih" yang saya omongin ini dengan film. *spoiler* Ya lihat aja cara-cara Lionel dan Remy menyusun konspirasi kasus dan menutup-nutupinya seakan mereka innocent. Kenapa caranya harus begitu? Sekotor dan seburuknya orang, bukan hak kita dong untuk merampas hak mereka, apalagi kalau sampai buat konspirasi tertutup seperti di film ini. Sama halnya seperti mereka-mereka yang terlalu meremehkan Helena yang sebenarnya masih punya sisi keibuan, banyak banget loh orang yang kayak mereka. Cuma bisa mandang negatif orang dari satu sisi, nggak bisa bayangin gimana sih tuh orang struggle selama ini. Coba deh kalo mau mencemooh seseorang, bayangin gimana kalo diri lo ada di posisi dia, atau sederhananya gimana kalo dia itu relasi lo? Orang tuh pasti berubah, apapun kondisinya apalagi dalam konteks seorang Helena yang mengalami hal ini. 

Lalu bagaimana dengan divisi akting? Nearly flawless. Ya, nyaris sempurna. Gone Baby Gone beruntung punya pemain-pemain yang bermain dengan sangat baik dan unexpectedly-outstanding. Dimulai dari Casey Affleck yang semakin memperlihatkan acting-maturity nya. Ada juga Michelle Monaghan yang kelihatannya sekilas sebagai tempelan. Awalnya sih emang saya pikir begitu, but, then, ternyata penokohannya disini terbilang menarik dan penting dalam membantu satir yang disampaikan GBG. Nggak seperti kebanyakan film yang murni nempel dia, Michelle disini beruntung diberi karakter yang pas. Karakternya, Angie, digambarkan sebagai wanita yang sedikit keras kepala. Dari awal, Angie sudah terlihat sebagai pembelok (nggak bisa nerima kenyataan). Di awal dia udah nggak setuju dengan keterlibatan dirinya dalam kasus itu, dan di akhir ia jelas-jelas nggak mau nerima kenyataan bahwa konspirasi anak yg terjadi pada Amanda adalah kejahatan. Orang tuh nggak bisa dipaksa untuk berpikir sama seperti apa yang kita pandang. Sayang sekali karakternya kurang ditelusur lebih jauh hingga kadang terkesan tempelan. Satu hal yang membuat crime-drama seperti ini cenderung lebih menarik adalah karakter pendukung yang dibuat sangat menarik perhatian. Disini ada Morgan Freeman yang mencerminkan bagaimana kepolisian bisa juga ternoda oleh masalah humanis, Ed Harris yang mengekslorisasi berbagai sifat pada karakternya, dan yang paling penting adalah Amy Ryan dengan karakternya yang rentan dan suka susah untuk berpendirian. 
Talking point...
Gone Baby Gone harus saya katakan sebagai karya outstanding dari seorang actor-turned-director, Ben Affleck. Salah satu contoh "banting stir" terbaik yang pernah ada, didukung ensemble-cast sempurna dan jalan cerita yang penuh dengan twist.

Rate :
1  2  3  4.5  5

Minggu, 19 Juni 2011

Missed Ones in Early 2011 - Pt. 1

Tahun 2011 mungkin akan terus diingat, apalagi dengan peristiwa awal tahun-nya yang sangat mengagetkan para moviegoer bahkan semua orang yang suka nonton dan nunggu film-film baru muncul. Eits, hanya di Indonesia loh. Siapa sih yang nggak tahu masalah itu, film luar nggak bisa masuk Indonesia karena sekelumit masalah pajak yang sepertinya belum ditemukan jalan keluar yang bisa nguntungin dua pihak, yaitu pihak perpajakkan Indo sama MPAA. Yap, masalahnya kan emang langsung pada pihak MPAA, yang menjadi payung bagi enam penyalur film terbesar di Hollywood sana yang gemar menyodorkan banyak film bagus apalagi yang bernafas blockbuster.

Kadang suka sedih jadi masyarakat Indo, hmm, kadang udah nggak ngerti deh gimana cara menjalankan nasionalisme dan patriotisme (?). Oke keluar jalur kan. Meskipun nggak bisa nonton film-film luar yang paling ditunggu, tetep aja ada satu jalan pintas paling menyenangkan. Dvd bajakan dan download!! Hahaha, berikut lima film rilisan awal tahun 2011 yang pada akhirnya berhasil saya tonton. Masih ada banyak lagi sih, nanti saya posting-in sisanya. Lima dibawah ini termasuk film-film yang tergolong memuaskan/cukup bagus/keren, berikutnya akan saya post yang surprisingly bad.

THE ADJUSTMENT BUREAU
Director George Nolfi
Cast Matt Damon, Emily Blunt, Terence Stamp, Anthony Mackie
Distributor Universal Pictures
Genre Sci-Fi, Drama, Romance, Thriller
Release Date 4 March 2011 
Rate 3 out of 5
Mungkin Matt Damon belum bisa lepas dari bayang-bayang Bourne Trilogy-nya sehingga terlihat pasti mau banget menerima job membintangi film yang satu ini, The Adjustment Bureau. Diadaptasi dari cerita pendek berjudul The Adjustment Team, David Norris (Matt Damon) adalah politisi yg gagal mendapat kursi senator setelah dikalahkan rival kampanye-nya. Di saat-saat paska kekalahannya, secara tidak sengaja ia bertemu dgn seorang balerina bernama Elise (Emily Blunt). Di masa2 keduanya semakin dekat, hubungan mereka terancam oleh komplotan pria bertopi yang menganggap diri mereka sebagai agen takdir dan berusaha memisahkan David-Elise dgn alasan mereka keluar jalur dari takdir yang telah digariskan. Duduk di kursi sutradara, George Nolfi menjadikan The Adjustment Bureau sebagai debut karir penyutradaraannya yg pertama kali, setelah sebelumnya banyak menulis naskah u/ film-film sejenis seperti The Bourne Ultimatum dan Ocean's Twelve. Hmm, The Adjustment Bureau sendiri bukanlah sesuatu yg baru kalau dilihat sekilas. Kejar-kejaran, penguntit misterius, dll, mungkin hal yang sering dijumpai dalam film-film layaknya franchise Bourne dan Ocean's. Tapi melihat isi ceritanya sendiri, The Adjustment Bureau sedikit dibikin beda lewat pengembanan unsur sci-fi yang di-pak tidak berlebihan dan tetap "menghormati" banyak unsur lainnya seperti drama-romans itu sendiri. 

Menyinggung masalah George Nolfi yg menjadikan ini sebagai debut-nya, hasil adaptasi ini tergolong sebuah proyek yang berhasil mencapai garis kepuasan, tidak berarti sukses. Dengan mem-"blender" banyak genre ke dalamnya, semuanya berbaur dengan tidak berantakkan. Misalnya dari drama-romans yang selalu diberikan jatah tersendiri untuk mereka menikmati timingnya, lalu seketika disodorkan intens ketegangan lewat konflik antara agen takdir dan David Norris yang sebenernya pro-kontra, tidak ketinggalan lumayan banyaknya singgungan politik dan masalah kebimbangan dalam menentukkan tujuan hidup. Untung saja semuanya diatur dengan seimbang, walaupun kadang saya agak dikecewakan oleh minim-nya kejar-kejaran yang jarang muncul. The Adjustment Bureau sendiri masih memiliki banyak hal klise dimana-mana, contohnya fakta tiga tahun terpisahnya si David dan Elise. Agak ganjil loh dalam waktu sebegitu lama mereka nggak pernah ketemu sekalipun, okelah tau itu kota gede, tapi bukannya mereka suka pergi di jalur yang sama? Saya aja susah untuk nggak bisa "kebetulan ketemu" sama orang yang pernah ditemui. Hmm, selain itu, saya jg mendapati banyak hal yang harusnya bisa dilakukan para agen takdir untuk mencegah David, tapi nyatanya mereka nggak mampu, apalagi kalau disangkut-pautkan dengan ability yang mereka punya. So, kalau kata saya, film ini termasuk karya yang tergolong biasa. Nggak "wah", dan nggak "wooo". Oiya saya agak ngerasain sensasi Eagle Eye dicampur Butterfly Effect pas nonton The Adjustment Bureau!

LIMITLESS
Director Neil Burger
Cast Bradley Cooper, Abbie Cornish, Robert De Niro, Andrew Howard
Distributor Relativity Media
Genre Sci-Fi, Thriller
Release Date 8 March 2011 
Rate 2.5 out of 5
Setelah karirnya ngelonjak sejak Hangover-nya yang asli lucu tapi menurut saya orang-orang menanggapi agak berlebihan, Bradley Cooper sepertinya tambah naik lewat banyak film ber-script biasa tapi punya tingkat hiburan yang nggak terbantahkan. Kali ini di Limitless, lagi-lagi film yang jual muka tajamnya yang mencolok, Bradley Cooper memerankan seorang penulis yang sedang kelabakan dikejar deadline nulis. Tampang berantakan, hidup semrawut, sampai keadaan ekonomi yang terlihat cukup-cukupan jadi berubah drastis saat ia ketagihan mengkonsumsi NZT-48, sebuah "pil superhero" rujukan mantan adik-ipar nya yang bentuknya mini-bening. To the point aja, Limitless ngebosenin. Nggak berarti sampah, tapi alurnya sukses buat saya terobsesi untuk mendorong tubuh saya segera menggapai empuknya tempat tidur di sebelah ruangan tv. Premisnya sih menarik, berhasil buat saya penasaran dari awal tahun. Harapan saya tuh bisa melihat  tontonan yang saya kira sci-fi pinter, eh ternyata semua hal yang diceritakan terlalu ngasih fokus berat ke gimana karakter Bradley dari suffer-happy-struggle-dying. 

Saya sendiri tidak ngerti obat macam apa yang bisa ngubah pola pikir sampai pola hidup seseorang kayak di film ini, emang sih udah dijelasin, tapi tetep nggak logic aja gitu. Oke, namanya film,pasti fiksi, nggak logic, so buang aja akal pikir sehat kita bukan? Tapi anehnya udah tau Limitless sajian sci-fi yang didalamnya punya premis yang bener2 fantasi, tapi kenapa malah dilingkupin cerita yang ngarah ke arah problema kehidupan. Alhasil saya bertanya, "ini film mau nusuk arti penting dari kata humanis, ato mau semrawutin otak saya dengan misteri pil yang less-explained itu? Well, sekali lagi, nggak sampah kok. Tapi kalo disebut film pintar ya nggak bisa, kalo mau tepat anggap aja ini menghibur. Bradley, hmm, main cukup bagus. Ada karakter yang nggak penting disini, Robert DeNiro! Eits salah, karakternya sih nggak bisa dibilang nggak penting, tapi munculnya nama DeNiro sangatlah nggak penting. Hey, kenapa nggak kontrak aktor kelas C aja yang mungkin bisa lebih ngidupin karakter-nya DeNiro yang muncul kadang2 tsb. Hemat biaya dong! Aneh banget ngeliat nama DeNiro ikutan nampang di poster. Lagian nggak ngaruh kok sama arah cerita.  

HANNA
Director Joe Wright
Cast Saoirse Ronan, Eric Bana, Cate Blanchett, Tom Hallander
Distributor Focus Features
Genre Action, Crime, Thriller
Release Date 8 April 2011 
Rate 3.5 out of 5
Jarang rasanya untuk menemukan film bernyawa kuat di musim-musim awal tahun. Biasanya di masa caturwulan pertama dalam satu tahun, kebanyakan film yang beredar bisa dibilang sebagai penyejuk atau pemanasan untuk menunggu hadirnya film2 summer/blockbuster. Seperti yg saya bilang tadi, "jarang", berarti belum tentu "tidak ada". Nah, di tengah kejarangan tersebut, di tahun 2011 terhitung ada beberapa penyejuk yang saya maksud. Selain Source Code yang mengejutkan itu, ada Hanna yang rilis bulan April lalu. Bercerita mengenai Hanna (Saoirse Ronan), gadis tangguh yang hidup bersama sang "ayah", Eric Heller (Eric Bana) di tengah hutan terpencil daerah kutub. Hanna dilatih ayahnya sedari kecil layaknya militer, segala macam kekuatan fisik, otak, dan psikis disodori ayahnya untuk sesuatu yang pada dasarnya tidak terlalu dimengerti oleh Hanna hingga suatu saat ia dan sang ayah harus berpisah demi menjalani misi revenge pada musuh bebuyutan mereka, Marissa Wiegler (Cate Blanchett). Hmm, Joe Wright mungkin lebih terkenal dengan film2 melodrama-nya, misalnya Atonement yang turut dibintangi si "Hanna". Menilik track-record nya yang kelihatan lebih berfokus pada satu genre saja, Wright terbilang berhasil mengeksploitasi keberaniannya untuk tampil beda lewat Hanna ini. 

Dari awal sampai film berakhir, ada dua hal yang saya rasa memiliki similarity terhadap apa yang ditawarkan dalam film ini. Dengan karakternya yang "buta dunia", Hanna seakan mengingatkan saya terhadap film The Island thn 2005 lalu. Dan dengan sosok gadis tangguh yang dicap pada diri Hanna ini, sosok Hit-Girl lah yang pertama kali tercetus dalam pikiran saya. Sepertinya terlalu "munafik" bagi orang untuk berusaha menolak fakta adanya kesamaan antara dua karakter ini. Sebagai penyejuk di cawu awal tahun 2011, Hanna adalah suguhan yang menarik. Film ini beruntung memiliki isi yang di-pak sebegitu lengkap tanpa menimbulkan kesan berantakan. Pertama yang pasti penampilan ketiga tokoh sentral, ada Saoirse yang main gesit luar-dalam dan meyakinkan ketangguhannya lewat tatapan dingin menipunya tsb, ada juga Eric Bana yang hmm, yang walau tidak se-"pria" Hanna tapi tetap menaikkan tensi emosi dalam cerita, dan yang terakhir adalah Cate Blanchett beserta Tom Hallander sbg antagonis yg sukses membuat saya antipati. Unsur kedua yang menjadi kekuatan film ini adalah diaturnya shot demi shot kamera yang memiliki arti sendiri dari tiap adegannya, mungkin untuk menekankan detil kejujuran dari revenge dalam cerita. Semuanya berbaur jadi satu dengan rapi dan lebih mengesankan lewat scoring yang asik dan tidak se-seram ceritanya sendiri. Well, Hanna tergolong sebuah sajian yang forgettable dan tidak terlalu istimewa, terlihat dari naskah cerita yang tidak sedetil "pembantaian" teknik filmnya. But, dilihat dari pencapaian seorang Wright, Hanna rasanya boleh dijadikan salah satu film terbaik di cawu pertama tahun 2011.


DIARY OF A WIMPY KID:
RODRICK RULES
Director David Bowers
Cast Zachary Gordon, Devon Bostick, Robert Capron, Rachael Harris
Distributor 20th Century Fox
Genre Comedy
Release Date 25 March 2011 
Rate 3 out of 5
Setelah sukses dengan penghasilan yang nggak disangka sebelumnya, Diary of Wimpy Kid kembali lagi hanya berselang satu tahun dari rilisan film yang pertama. Dengan sub-title "Rodrick Rules" yang emang dari judul buku asli, film ini tetap menceritakan kehidupan belia Greg Heffley (Zachary Gordon). Kalo yang pertama ceritanya tentang gimana si Greg "menderita" di awal2 masa middle-school/smp, yang kedua ini tetep ngasih "penderitaan" ke dia lewat tingkah laku kakaknya yang jengkelin. Hmmm, saya sangat suka bukunya yang tidak susah2 tanpa hal rumit seperti kebanyakan novel standard yang sok tinggi. Cerita simple, guyonan2 kocak, sampai aksi heboh nan lebay Greg dkk yang divisualisasikan ke bentuk adapted movie book tergolong berhasil di tingkatannya. 

Agak bingung kenapa banyak kritikus2 pro diluar sana yang nganggep nih film ancur dan ruwet, pertanyaannya, ancur dimananya om?! Emang sih film pertama nggak konsisten mau ngasih jokes yang di beberapa scene banyak hal klise yang kayaknya mustahil aja gitu, ya namanya juga bo'ongan/fiksi atau lebih tepatnya pure hiburan. Saya bilang sih yang kedua ini lebih lucu, lengkap dengan karakter2 pelengkap yang nggak sekedar ramein, seperti si india Chirag yang berhasil buat saya kesel setengah mati. Bingung kalo mau cari kelemahannya, bukan maksud saya film ini sempurna, tapi agak maksa aja gitu kalo ngekritik film ini terlampau dalam. Oiya tapi saya makin nggak suka aja sama yang meranin Rodrick, kadang porsinya malah buat suasana agak hambar. Tetep lucu sih. Dan kalo mau bilang ngena ke saya sendiri, hmm, agak. Karena seperti saya bilang tadi, banyak hal klise di sana-sini yang pure fiksi (nggak tahu juga sih mungkin di amrik sana banyak terjadi). Dengan pendapatan yang menyenangkan bagi kedua filmnya, Diary of A Wimpy Kid punya potensi jadi franchise panjang yang sangat beda dilihat genre-nya. Kalo nggak salah novelnya berjumlah lima seri.


PAUL
Director Greg Mottola
Cast Seth Rogen, Simon Pegg, Nick Frost, Kristen Wiig
Distributor Universal Pictures
Genre Comedy, Adventure
Release Date 18 March 2011 
Rate 3 out of 5
Bicara Paul, pasti yang pertama tercetus di kepala adalah duo aktor yang membintanginya, siapa lagi kalo bukan Simon Pegg dan Nick Frost yang beken akan kolaborasi langganan mereka di beberapa film. Setelah Shaun of The Dead dan Hot Fuzz, dua orang ini main satu screen lagi dalam "komedi alien", Paul. Diceritakan Graeme Willy (Simon Pegg) dan Clive Gollings (Nick Frost) adalah dua sahabat dari Inggris yang sering liburan bersama. Terbang jauh dari kampung halaman ke Amerika untuk menghadiri Comic-Con (pameran komik akbar tahunan), sesosok alien bernama Paul terpaksa harus bergabung dgn RV mereka di tengah perjalanan malam yang mengejutkan. Perjalanan panjang penuh kejutan pun mau tidak mau harus mereka jalani demi menyelamatkan Paul dari bahaya misterius yang tengah mengejarnya, lengkap dengan kawan2 baru yg mereka bertiga temui di tengah perjalanan. Yang menjadi faktor bagi saya untuk mau cepet2 nonton Paul adalah nama-nama yang menghiasi jajaran pemain didalamnya. Hmm, sebut aja Pegg-Frost, Kristen Wiig, Blythe Danner, Jason Bateman, Jane Lynch, dll. Agak kaget awalnya liat nama-nama kayak mereka main bareng, jarang aja rasanya isinya bagus semua dan saya kenali untuk film yang bisa dibilang pemasarannya nggak kerasa heboh. Sayang sekali setelah nonton, bahkan pas lagi nonton, ternyata Paul nggak lucu-lucu amat seperti yang banyak orang kira, termasuk saya. Nggak tahu apa mungkin saya ngarep-nya terlalu berlebihan, tapi tetap aja Paul tidak memberikan pengalaman ngakak yang memuaskan.  Padahal film udah diawali dgn lumayan baik, lewat opening datang-nya alien ke bumi yang  agak kontras sama suasana film seiring berjalannya waktu. Dari mikir bakal dapet tontonan komedi ala Pegg/Frost yang seperti sy bilang tadi, kelihatan beda dari awal, eh semuanya seakan surut kayak ombak ketika film sudah berjalan sekitar setengah jam. Ada beberapa momen, bahkan lumayan banyak, yang mau dibuat lucu tapi sayangnya jadi canggung. Soo, kalo mau dihitung, saya lebih banyak ngeluarin senyum dibanding ngakak. 

Tapi Paul tidak jatuh gitu aja berkat adanya beberapa aktor yang sangat membantu meningkatkan tingkat kelucuan film ini. Dan yang paling ngundang perhatian tentu saja karakter-nya Kristen Wiig, yang digambarkan sbg "bible freak" tapi tergoyahkan imannya karena dipengaruhi Paul dan duo Pegg-Frost. Karakter Wiig ini mungkin agak nyindir orang-orang yang nggak bisa berdiri sendiri, yang gampang berubah tanpa peduli akibat dan nggak bisa pegang omongan sendiri (pesan ini lebih ditekankan di ending pas tepatnya omongan Paul "be yourself, speak to your heart"). Justru kalo boleh ngomong, Wiig tampil lebih lucu dibanding Pegg-Frost. Oiya hampir lupa, ada juga Seth Rogen sbg pengisi suara Paul, suaranya sih hmm, menurut saya mengomentari sebuah "suara" sepertinya agak nggak penting. Jane Lynch yang numpang lewat sampai cameo si bos misterius yg nggak saya duga turut memberikan momen unik tersendiri. Once again, bukannya jayus, tapi masih banyak kekurangan disana-sini yang menyebar dalam sebuah "Paul" (oiya banyaknya F-bomb saya rasa sedikit memberi kharisma lawak bagi film).

Selasa, 19 April 2011

[Quick Five] Five of The Great Masterpiece

Untuk kedua kalinya saya gabungin lima film yang baru saja saya tonton ke dalam satu buah artikel singkat, yaitu Quick-Thoughts. Berhubung lagi libur seminggu karena sedang berlangsungnya ujian nasional, tiba-tiba saja terlintas di pikiran saya untuk ngabisin waktu seminggu yang bakal ngebosenin ini dengan nonton beberapa film lama yang belum saya tonton. Semuanya adalah film-film penting, maksud saya film penting adalah film-film yang emang diakui kualitasnya misalnya dapet Oscar ataupun lovelable di kalangan banyak orang. Ya sayang juga sih kalo dipikir-pikir saya baru tonton sekarang, hehe.Better late than never, bos! Oke, beberapa diantaranya adalah film-film terkenal antara lain film arahan sutradara favorit saya. Sebenernya film yang sudah saya tonton dua hari terakhir ini lebih dari lima, tapi dicicil dulu artikelnya, hmm sebenernya mau dibuat satu-satu reviewnya. Tapi akhir-akhir ini lagi nggak mood buat nulis dan cuma mau nonton. Yep, ada waktunya bagi gue untuk males. Dan quick-thoughts kali ini bener-bener singkat, cuma sekedar buat update blog. And here there are:

THE PRESTIGE (2006)
Director Cristopher Nolan Cast Hugh Jackman, Christian Bale, Scarlett Johanson
Bercerita mengenai dua orang pesulap Inggris, Angier dan Borden, yang awalnya bersahabat namun karena suatu kecelakaan aksi panggung, mereka berdua akhirnya saling bersaing untuk menjadi yang terbaik dengan trik tersendiri. Seketika film ini langsung jadi film favorit saya! Nolan oh Nolan, nggak ada hentinya buat orang takjub sekaligus ternganga. Dan untuk kesekian kalinya Bale main di film Nolan. Semua alur plot diatur sesempurna mungkin dengan detail yang sangat rapi. Shockingly twisted ending. Jadi jangan baca spoilernya kalo mau nonton, dijamin bakal ngeganggu. Oops, the wolverine caught my attention! [****]

DISTRICT 9 (2009)
Director Neill Blompkamp Cast Sharlto Copley, David James, Jason Cope
Sudah dua dekade terjadi invasi alien terhadap masyarakat Johannesburg. Alien dengan sebutan prawns tersebut hidup di kota itu layaknya manusia, hingga suatu saat pemerintah memaksa mereka untuk pindah ke kawasan khusus bernama District 9. Di sela proses penggusuran tersebut, seorang petugas Wikus Van De Merwe terkena cairan aneh yang membuatnya bermutasi menjadi prawns. Awalnya nggak ada daya tarik apapun buat nonton ini, tapi karena penasaran ya saya coba tonton. Dan ternyata, keren!! Nggak nyangka ada film invasi alien semenarik ini. Dari visual efek, naskah, sampai akting Sharlto Copley yang sempet main di A-Team, semuanya nearly-perfect! Ceritanya bener-bener nggak sampah, dan shockingly touching! One of my fav all the time. [****]

AMERICAN PSYCHO (2000)
Director Mary Harron Cast Christian Bale, Justin Theorux,Josh Lucas
Secara kasat mata, Patrick Bateman mungkin terlihat baik-baik. Good looking, kaya raya, punya kedudukan di perusahaan. Tetapi ternyata tersembunyi sosok lain dari dirinya yang adalah seorang psikopat. Daya tarik utama untuk film ini yang pasti adalah Bale. Yep, Bale is one of the most promising actor. Sebagian besar filmnya udah tentu bagus, even Terminator Salvation though. Disini Bale main agak berbeda, sangat baik. Saya suka cara dia mengimprovisasi karakter Bateman yang bisa dibilang berkepribadian ganda, perubahan mimik wajah Bateman yang sangat nggak terkira adalah nilai lebih. Mungkin American Psycho punya pesan tersendiri, yaitu mngenai kesempurnaan. Bagaimana kesempurnaan dalam diri seseorang dengan perlahan bisa saja menghancurkan kesempurnaan itu sendiri. Namanya juga film psycho, banyak banget adegan keji dan mengganggu, and some adult content. [***]

MEMENTO
(2000)

Director Christopher Nolan Cast Guy Pearce, Carrie Anne Moss, Joe Pantoliano
Leonard Shelby mengalami suatu kondisi tak lazim dimana otaknya tidak bisa menyimpan memori baru sehingga tiap hari ia akan terus melupakan segala hal yang ia alami, kecuali istrinya yang telah meninggal. Untuk mengatasi keadaannya tersebut, ia men-tattoo beberapa hal di badannya dan juga mempotret orang dan tempat yang ia kunjungi. Untuk kesekian kalinya Nolan buat saya menyukai filmnya. Memento adalah salah satu karya brillian yang pernah ada. Dengan penjabaran masalah yang sangat detail dan pemecahan masalah yang pasti akan buat semua orang ternganga. One of the most shocking twisted ending. Alurnya bener-bener confusing, yaitu ada dua alur disini. Yang satu mundur, yang satu lagi maju. Dan nantinya kedua alur itu ketemu di ending yang ngagetin. Untuk ngebedain dua alur tersebut, alur maju diberi warna black&white. Salah satu film favorit saya! [*****]

CRASH
(2004)

Director Paul Haggis Cast Matt Dillon, Sandra Bullock, Ryan Phillippe
Crash adalah film yang mengusung multi-plot, mungkin bisa dibilang ensemble cast, eh, ensemble cast terbaik. Menceritakan kehidupan beberapa orang berbeda di L.A dalam kurun waktu kurang lebih satu hari. Semua karakter memiliki persoalan tersendiri dan nantinya akan saling terhubung secara langsung maupun tidak langsung. Satu kalimat setelah nonton ini; gw cinta Crash! Masalah yang diangkat Paul Haggis disini adalah mengenai isu perbedaan. Bagaimana kondisi masyarakat Amerika yang sampai sekarang masih mempersalahkan perbedaan rasial. Rasialisme yang masih mendominasi pola pikir masyarakat disana dideskripsikan dengan sangat indah, visualisasi terbaik yang pernah ada. Banyak banget momen menyentuh di Crash, dan semuanya bener-bener buat merinding. Pesan lainnya mungkin jangan memandang orang secara kasat mata. Selain itu orang jahat tidak sepenuhnya jahat, pasti ada sebabnya. Dan orang baik tidak sepenuhnya sempurna. [*****]

Jumat, 15 April 2011

[Review] THE LINCOLN LAWYER (2011)

"I checked the list of people I trust and your name ain’t on it"
Director :
Brad Furman

Cast :
Matthew McConaughey
Ryan Phillippe
Marisa Tomei
William H. Macy
John Leguizamo

Distributor :
Lionsgate Films

Genre :
Thriller, Crime











Hukum, satu unsur terpenting dalam suatu negara yang mengatur segala tata cara maupun aktivitas yang dilakukan semua orang yang menjadi bagian negara tersebut. Hukum pada hakekatnya adalah sebuah norma yang dipergunakan untuk memisahkan mana yang baik dan benar, dan kemudian menindak lebih lanjut bagi siapa saja yang memiliki keterkaitan dengan aktivitas hukum tersebut, misalnya pengadilan bagi pelanggar di pengadilan. Apakah anda tahu apa saja yang dilakukan pengadilan dalam melakukan peradilan?

Nah kali ini Brad Furman (The Take) mengangkat persoalan ini kedalam sebuah crime-thriller The Lincoln Lawyer. Film yang ditulis naskahnya oleh John Romano yang sebelumnya telah menangani naskah film Nights in Rodanthe ini diadaptasi dari novel dengan judul sama buah pena Michael Connelly. The Lincoln Lawyer bukanlah novel pertama Connelly yang dibuat versi motion picture-nya, sembilan tahun lalu novelnya yang berjudul The Blood Work diangkat ke layar lebar dengan bintang Clint Eastwood. Film ini dibintangi oleh Matthew McConaughey, aktor yang mengawali karirnya sembilan belas tahun lalu dan terus berkembang karir seni perannya lewat beberapa jenis film diantaranya yang terkenal adalah A Time To Kill. Terpilihnya McCounaughey di film ini ternyata memang sudah diinginkan oleh penulis novelnya sendiri, Michael Connelly mengaku sudah mengincar aktor tersebut dari tahun 2008 lalu sejak penampilannya di Tropic Thunder.
Michael McConaughey berperan sebagai Mick Haller, seorang pengacara muda berpenampilan menarik yang memiliki kemampuan handal berkaitan dengan menangani kasus-kasus hukum. Menjalani hari-harinya sebagai pengacara, Mick kemana-mana menggunakan mobil klasik Lincoln Continental bersama sang supir, Earl (Laurence Mason), dan biasanya di-backing oleh geng motor yang beberapa anggotanya kadang meminta bantuan Mick berkaitan mengenai hukum. Di mobil tuanya tersebut, Mick biasa mengerjakan beberapa tugasnya selagi di dalam perjalanan, karena itu isi mobil tersebut terlihat sangat berantakan. Mick bukanlah pengacara biasa, ia memiliki kemampuan cerdik dan licik dalam mengatasi masalah kliennya dalam mencapai keberhasilan kasus, tidak peduli apakah itu benar atau tidak. Sebagian besar kliennya adalah pelaku kriminal, bahkan beberapa diantaranya merupakan kalangan atas yang tidak segan-segan memakai Mick dengan bayaran mahal.

Tapi jangan salah, Mick bukanlah pengacara pengasihan orang jahat. Pembelaan akan dilakukannya apabila ia dibayar dengan jumlah besar ataupun sesuai yang diinginkannya. Kelakuan Mick inilah yang menyebabkan sang istri, Maggie McPherson (Marisa Tomei), rela menceraikan Mick karena pemikirannya yang bertolak belakang dengan pekerjaan Maggie sebagai jaksa penuntut umum. Walaupun didera masalah perceraian, keduanya tetap menjalin hubungan dan komunikasi yang baik layaknya pasangan suami istri, dan sama-sama membesarkan buah hati satu-satunya. Eits, semua hal diatas bukanlah sajian utama film ini. Kemampuan Mick diuji saat datang sebuah tawaran pada dirinya untuk mendampingi seorang anak kaya raya, Louis Roulet (Ryan Philippe), yang ditangkap atas tuduhan penganiayaan fisik terhadap seorang PSK. Kasus yang awalnya dianggap mudah oleh Mick semakin rumit ketika dirinya dihadapkan oleh banyak pertanyaan besar akan keganjilan yang ditemukan dalam diri Louis. Louis yang terlihat innocent tersebut ternyata menyimpan banyak fakta yang tidak ia sebutkan dan malah membahayakn nyawa Mick. Konsistensi Mick dalam prinsip terdahulunya pun diuji.

Pada awalnya tidak ada satu hal yang menjadi daya tarik saya untuk mau nonton film yang satu ini. Apalagi dengan kondisi perbioskopan Indonesia yang kosong melompong akan film Hollywood ini, harapan untuk nonton film-film luar pun tidak sebesar tahun lalu. Tetapi kemudian saya menjadi sangat tertarik berhubung dengan diterimanya banyak respon positif bagi The Lincoln Lawyer, dan pada akhirnya harapan saya dikabulkan dengan masuknya film ini ke Indonesia, ya bisa dibilang untung-untungan karena film ini hak distribusinya tidak dipegang oleh anggota MPAA. Kembali ke topik film ini, The Lincoln Lawyer menawarkan sebuah tema yang sifatnya keras dan tinggi, yaitu hukum. Jangan terlalu banyak mengkhawatirkan film ini adalah sebuah tontonan yang berat, tidak usah berpikir terlalu tinggi untuk menikmati film ini. Itulah hal yang saya sukai dengan perjalanan cerita di film ini. Mungkin tema hukum yang dijadikan pedoman berjalannya film ini bukanlah hal yang mudah dilakukan untuk dirombak menjadi versi film. Dibutuhkan banyak penyesuaian untuk merangkum sebegitu tebalnya sebuah novel hingga dirubah menjadi naskah film, sebuah versi yang memiliki keterbatasan dalam hal durasi.

Untungnya John Romano selaku penulis naskah melakukan kerja yang baik dalam merangkai cerita The Lincoln Lawyer. Alur cerita berhasil dirangkai dengan tempo yang seimbang, tidak membosankan, dan tidak melupakan harapan banyak orang untuk mau ikut banyak berpikir mengenai apa yang terjadi dalam cerita. Naskah cerita asli diminimalisir dengan baik tanpa meninggalkan banyak unsur penting dalam film, walaupun saya tidak membaca filmnya tapi saya yakin perasaan yang timbul pada diri saya adalah benar. Sekitar dua puluh menit pertama kita tidak langsung dihadapkan pada topik permasalahan utama yang dihadapi Mick. Film terlebih dahulu memperkenalkan siapa sih Mick itu. Sosok Mick diperkenalkan dengan cara yang sangat mengasyikkan, sebagaimana asyik pekerjaan Mick yang dipenuhi oleh beribu kelicikkan pria tersebut demi uang. Sisi personal Mick dieksplorisasi sangat tajam, begitu pula lika-liku Mick dalam menjalani pekerjaannya yang disuguhkan dengan jelas.

Pendalaman karakter terhadap karakter ini tidak akan berjalan semulus kenyataan apabila tidak diperankan oleh Matthew McConaughey. Memang dari awal saya agak kaget dan ragu mengenai kemunculan pria ini sebagai tokoh sentral, dan tidak ketinggalan mendapat respon positif karena penampilannya itu. Ternyata memang benar, McConaughey bermain dengan baik di film ini. Lupakan aksi-aksi pria yang satu ini di beberapa film komedi maupun romantis, karena dengan film ini kita akan seketika melupakan siapa McConaughey sebenarnya. Ia adalah nyawa film ini, ia sendiri yang membentuk rangkaian cerita menjadi sebuah tontonan menarik. Semua itu tercipta tidak lain berkat kharisma yang ia pancarkan sepanjang durasi film, ya, ia adalah 'tiang tumpuan' bagi fondasi The Lincoln Lawyer. Ia sanggup memancarkan sisi dilematis dalam dirinya saat timbul sebuah kenyataan yang menyebabkan pergoyakkan pemikiran dan faham dalam diri Mick. Aspek moral, itulah satu hal penting yang kemudian muncul seketika dalam personal seorang Mick. Beberapa karakter pendukung juga bermain dengan baik, walaupun tidak sesempurna apa yang dilakukan oleh tokoh utama. Bahkan sisi kharismatik seorang Mick berhasil menggeser ke-playboy-an karakter yang diperankan oleh Ryan Phillipe. Tidak ketinggalan , saya juga suka sinematografi yang dimiliki The Lincoln Lawyer. Terutama opening credit yang berjalan dengan alunan musik retro sehingga menambah intensitas penasaran saya, dan juga mengawali kemulusan jalannya cerita. Kesan retro semakin kuat dengan pengambilan gambar yang memperlihatkan sudut-sudut kota yang dijadikan setting The Lincoln Lawyer.

Talking point...
118 menit bukanlah durasi yang panjang bagi The Lincoln Lawyer. Waktu yang sebenarnya terbilang panjang tersebut terbayar dengan mulusnya jalan cerita yang penuh dengan misteri menjebak penuh keganjilan yang juga mengajak penonton untuk ikut berkontribusi di dalamnya. Kharisma penuh pesona Matthew McConaughey berhasil membuat The Lincoln Lawyer menjadi film yang cukup baik.

Rate :
3.5 out of 5

Jumat, 01 April 2011

[3-in-1-Reviews] I SPIT ON YOUR GRAVE, LET THE RIGHT ONE IN, TRIANGLE

I SPIT ON YOUR GRAVE (2010)
Director Steven R. Monroe
Cast
Sarah Butler, Jeff Branson, Andrew
Howard, Chad Lindberg, Rodney Eastman


Jennifer Hills (Sarah Butler) adalah seorang novelis wanita yang memutuskan untuk tinggal sementara di pinggir danau sebuah kota terpencil yang sangat sepi. Kedatangan Jennifer di kota itu dimanfaatkannya untuk mencari inspirasi dan ketenangan dalam menyelesaikan novelnya yang kedua. Berniat mengasingkan diri, ia pun datang sendiri ke kota tersebut tanpa mengajak teman maupun keluarganya, dan yang pasti tidak lupa untuk membekali dirinya dengan laptop dan keperluan lainnya. Setiba di daerah tujuan, wanita kurus tersebut mampir sebentar di sebuah pom bensin dan bertemu dengan tiga pria penduduk setempat, salah satunya Johnny (Jeff Branson). Namanya juga pria desa, eh, berandal desa, pasti ada saja yang mereka lakukan untuk menggoda pendatang apalagi orang tersebut adalah seorang wanita. Niat jahil mereka awalnya biasa saja, antara lain membuat suara-suara aneh bahkan melempar bangkai burung ke rumah yang ditempati Jennifer. Hal ini jelas mengganggu dan menakuti Jennifer. Belum puas dengan aksi jahilnya, Johnny dan dua kawannya mengajak seorang pria dungu bernama Matthew (Chad Lindberg) untuk mendatangi dan menjahili Jennifer secara langsung. Dimulai dari pelecehan fisik ringan, hingga mencapai klimaks yaitu pemerkosaan yang dilakukan satu per satu dari mereka. Ironisnya, Sheriff Storch (Andrew Howard) yang awalnya diharapkan Jennifer sebagai penyelamat ternyata juga salah satu dari mereka. Beberapa bulan paska kejadian itu Jennifer yang awalnya dikira hilang kembali lagi ke kota tersebut untuk membalas dendam atas kelima pria kejam yang menyiksa dirinya. Diremake dari film berjudul sama, I Spit On Your Grave versi 'laptop' ini bernasib sama dengan film aslinya yang dicekal oleh banyak negara karena kandungan subjek kekerasan dan seksualitas yang mendominasi sebagian besar durasi film. Saya belum menonton versi aslinya, jadi mungkin artikel saya ini agak berbeda karena hanya menilai dari sudut pandang saya yang hanya menonton versin remake-nya. Memakan waktu sepanjang 102 menit, I Spit On Your Grave nyatanya terlalu lambat dalam penceriteraan sehingga dibutuhkan waktu agak lama untuk kita menikmati point utama yang coba diangkat oleh sutradara Ste ven R Monroe. Hingga akhirnya keseluruhan inti cerita beserta bumbu-bumbu psycho muncul juga setelah saya menunggu sekitar satu jam. Tidak afdol memang kalau membicarakan sebuah slasher movie tanpa menyinggung adegan-adegan sadis dan seksualitasnya. Ketika saya menonton film dengan genre seperti ini, logika dan akal sehat saya buang jauh-jauh, karena pada hakekatnya slasher movie adalah sebuah genre yang harus diberikan perhatian lebih pada adegan-adegan sadis yang dijadikan fondasi kuat film tersebut. Adegan pemerkosaan terhadap Jennifer saya bilang agak nanggung, oke, bukannya saya tidak puas dengan konten seksnya yang 'memang nanggung', tapi setelah saya lihat potongan adegan dari film aslinya yang lebih frontal, harus saya katakan I Spit On Your Grave kali ini tidak sekontroversial versi dulunya, yang pasti dalam aspek adegan pemerkosaannya. Kelemahan lainnya datang dari eksploitasi pengembangan karakter Jennifer yang tidak dilakukan, sehingga timbul pertanyaan di benak saya, "Bagaimana bisa dia selamat dan baru datang berbulan-bulan?". Diluar semua itu, film remake ini sangat berhasil dalam menghadirkan aksi keji balas dendam yang dilakukan Jennifer. Walau digarap tanpa detail yang menjanjikan, semua kelemahan berhasil ditutupi berkat adegan bunuh-bunuhan ala Saw yang sukses membuat saya sakit perut. [***]


LET THE RIGHT ONE IN (2008)
Director
Thomas Alfredson
Cast
Lina Leandersson, Kare Hedebrant, Per Ragnar, Henrik Dahl, Karin Bergquist



Oskar (Kare Hedebrant) hanyalah seorang bocah laki-laki berumur 12 tahun yang kerap menjadi sasaran aksi bullying oleh anak-anak di sekolahnya. Bocah berkulit pucat tersebut seakan pantas menjadi sasaran jahil karena karakternya yang penyendiri dan badannya yang kurus. Ia tinggal di sebuah apartemen kecil di pinggiran kota Stockholm bersama ibunya yang telah bercerai dengan sang ayah. Di sela waktu kosongnya di rumah, Oskar hanya bisa bermain sendiri di halaman gedung apartemennya. Suatu malam, Oskar melihat ada seorang anak perempuan pindah ke gedung tempatnya tinggal, bahkan tepat di sebelah apartemennya. Sosok gadis yang akhirnya diketahui bernama Eli (Lina Leandersson) tersebut tinggal bersama seorang pria dewasa yang diketahui sebagai ayahnya. Kehadiran Eli mengundang rasa penasaran dalam benak Oskar. Oskar pun mencoba mendekati Eli dan mengajaknya untuk berteman, meskipun awalnya Eli sudah memperingati Oskar bahwa ia tidak bisa berteman dengannya dan bukanlah sekedar gadis biasa secara kasat mata. Eli bukanlah manusia biasa, ia membutuhkan darah untuk bertahan hidup. Tiap malam manusia, eh, pria, eh, ayah yang tinggal dengan Eli membunuh orang-orang dan mengambil darahnya untuk keperluan nafsu Eli. Di sisi lain, Eli dan Oskar semakin dekat dan terbiasa bersama. Tanpa Oskar sadari, hubungan terlarang yang ia jalani itu lambat laun mengubah takdir kehidupannya.Akhirnya setelah penantian panjang saya berhasil nonton film adaptasi ini. Let The Right One In (Låt den rätte komma) diadaptasi dari novel dengan judul sama buah pena John Ajvide Lindqvist. Berkat respon positif yang diterima dari banyak pihak, tahun lalu Hollywood dengan percaya diri me-remake film ini dengan judul Let Me In dengan bintang Chloe Moretz. Mungkin banyak yang sudah mengerti jalan cerita bahkan kualitas plot cerita film ini karena telah nonton versi remakenya. Let The Right One In bukanlah horror vampir yang bertujuan untuk menakut-nakuti bahkan berisi adegan-adegan kekerasan atau kengerian ala kebanyakan horro lainnya. Film berdurasi 114 menit ini juga bukan film vampir yang mengetengahkan kisah cinta romantis antara manusia dan vampir konyol ala Twilight Saga. Sebagai sutradara, Thomas Alfredson mengadaptasi kisah dalam novel ke bentuk motion picture dengan sangat cantik. Kita tidak akan disuguhkan banyak dialog rumit, kisahnya sendiri tersuguhkan dengan sempurna oleh gaya penceriteraan yang kelam dan indah, berkat berbaurnya plot cerita dari novelnya sendiri yang memang sangat lambat namun kuat. Suasana kelam tercipta berkat sinematography yang diwarnai oleh pemandangan Swedia yang sepi dan klasik yang dijadikan setting lokasi cerita. Sepanjang durasi cerita mengalun dengan sunyi namun tegang, kental akan aspek drama yang tidak dilebih-lebihkan. Disamping fondasi film yang kuat dalam segi cerita, Let The Right One In pastinya berhasil mengumpulkan banyak respon positif berkat penampilan kedua karakter sentral yang sekelam plot cerita itu sendiri. Baik Lina maupun Kare tidak sekedar bermain dingin semata, tapi mereka berhasil menunjukkan sisi kemisteriusan seorang bocah yang masing-masing memiliki 'kelainan'. Walaupun bermain dengan baik, saya lebih menyukai Chloe Moretz dalam menjiwai karakter Eli, sedangkan karakter Oskar di versi asli ini tampil lebih baik daripada versi remake dengan menonjolkan keluguannya. [****]


TRIANGLE (2009)
Director Christopher Smith
Cast
Melissa George, Michael Dorman, Liam Hemsworth, Henry Nixon, Rachael Carpani


Di hari yang sangat cerah, lima orang kawan berlayar dengan sebuah yacht untuk berlibur sekaligus mencari udara segar di tengah laut. Mereka adalah Greg (Michael Dorman), Victor (Liam Hemsworth), Downey (Henry Nixon), Sally (Rachel Carpani), dan Heather (Emma Lung). Mereka juga mengajak Jess (Melissa George), seorang wanita single parent yang kini tinggal dengan putra satu-satunya, Tommy. Membesarkan anak seorang diri bukanlah hal yang mudah bagi Jess, apalagi Tommy mengidap kelainan mental. Kehadiran Jess untuk ikut bergabung bersama lima orang itu awalnya sempat mengundang tanda tanya bagi mereka karena ekspresi Jess yang tidak wajar dan keraguan yang terus-terusan dipertanyakan Jess. Wanita beranak satu tersebut seakan merasa ada kesialan yang akan mereka hadapi di perjalanan nanti. Perjalanan mengarungi laut awalnya aman-aman saja, tidak ada keganjilan, kerusakan pada kapal, ataupun cuaca yang tidak mendukung. Namun sayangnya semua itu berubah saat yacht mereka memasuki daerah gelap dan hantaman badai. Cuaca buruk tersebut lalu pergi dan sialnya membuat Heather tenggelam dan tidak dapat ditemukan. Keadaan seakan terasa akan membaik ketika mereka berpapasan dengan sebuah kapal pesiar besar dan menaikinya. Kapal tanpa awak tersebut kembali menghadapkan mereka kedalam sebuah tanda tanya besar, terutama saat Jess merasa dirinya pernah menaiki kapal aneh itu. Sayangnya kesialan kembali terjadi, satu per satu dari mereka, kecuali Jess, dibunuh oleh seseorang misterius, dan anehnya lagi mereka menuduh Jess adalah pembunuh tersebut.Triangle, awalnya saya mengira plot film ini adalah sekelompok orang yang sedang berlayar di segitiga bermuda dan terhantam ombak misterius. Walaupun tidak disebutkan, ada kemungkinan segitiga bermuda adalah setting tempat bahkan inspirasi dari pembuatan film ini. Sepanjang film kita akan dihadapkan oleh sebuah tanda tanya besar layaknya yang dialami oleh tokoh dalam film. Triangle bukanlah sebuah slasher umum yang menjadikan aksi kejar-kejaran atau bunuh-bunuhan sebagai inti cerita. Rasa penasaran akan kisah misteri film ini tidak bosannya menghinggapi diri saya, menimbulkan pertanyaan besar di dalam benak saya. Triangle adalah sebuah horror-mistery yang digarap sangat baik dengan mengedepankan unsur misteri tanpa memberikan tanda cerah yang bisa membantu penonton untuk memahami apa yang sesungguhnya terjadi. Sebagai sutradara, Christopher Smith layak diancungi jempol berkat garapannya yang satu ini. Triangle berjalan sangat lihai mengombang-ambingkan otak saya dalam rasa penasaran, membuat saya ternganga bahkan tidak bisa beranjak dari depan televisi. Perlu ditekankan lagi, Triangle bukanlah film yang memusatkan adegan kekerasan, lihat saja begitu terburu-burunya semua tokoh di-'matikan'. Tapi jangan salah, justru tiga puluh menit awal akan terus-terusan diulang untuk memberikan detail yang mungkin saja bisa membantu kita siapakah pembunuh bertopeng kain tersebut, atau mengapa kejadian tersebut terus diulang-ulang dengan eksistensi Jess yang tak ada habisnya. Semua coba diterangkan Smith dengan beberapa clue, yang saya yakin susah untuk membantu memahami keseluruhan plot film. Intensitas ketegangan semakin terbantu berkat penampilan Melissa George yang lincah dan gesit. Eksplorisasi karakter Jess juga dilakukan sangat detail. Triangle berhasil membuat saya tidak berhenti bertanya sampai beberapa jam setelah selesai menonton. Mungkin artikel ini malah menambah penasaran, tapi harus saya tekankan, Triangle bukanlah misteri mengenai time-loop maupun time-traveler, melainkan misteri hasil gabungan pecahan-pecahan twist yang tercerai berai dan mengharuskan penonton untuk menyusunnya. [****]