infolinks

Tampilkan postingan dengan label Supernatural. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Supernatural. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 April 2011

[Quick Five] Five of The Great Masterpiece

Untuk kedua kalinya saya gabungin lima film yang baru saja saya tonton ke dalam satu buah artikel singkat, yaitu Quick-Thoughts. Berhubung lagi libur seminggu karena sedang berlangsungnya ujian nasional, tiba-tiba saja terlintas di pikiran saya untuk ngabisin waktu seminggu yang bakal ngebosenin ini dengan nonton beberapa film lama yang belum saya tonton. Semuanya adalah film-film penting, maksud saya film penting adalah film-film yang emang diakui kualitasnya misalnya dapet Oscar ataupun lovelable di kalangan banyak orang. Ya sayang juga sih kalo dipikir-pikir saya baru tonton sekarang, hehe.Better late than never, bos! Oke, beberapa diantaranya adalah film-film terkenal antara lain film arahan sutradara favorit saya. Sebenernya film yang sudah saya tonton dua hari terakhir ini lebih dari lima, tapi dicicil dulu artikelnya, hmm sebenernya mau dibuat satu-satu reviewnya. Tapi akhir-akhir ini lagi nggak mood buat nulis dan cuma mau nonton. Yep, ada waktunya bagi gue untuk males. Dan quick-thoughts kali ini bener-bener singkat, cuma sekedar buat update blog. And here there are:

THE PRESTIGE (2006)
Director Cristopher Nolan Cast Hugh Jackman, Christian Bale, Scarlett Johanson
Bercerita mengenai dua orang pesulap Inggris, Angier dan Borden, yang awalnya bersahabat namun karena suatu kecelakaan aksi panggung, mereka berdua akhirnya saling bersaing untuk menjadi yang terbaik dengan trik tersendiri. Seketika film ini langsung jadi film favorit saya! Nolan oh Nolan, nggak ada hentinya buat orang takjub sekaligus ternganga. Dan untuk kesekian kalinya Bale main di film Nolan. Semua alur plot diatur sesempurna mungkin dengan detail yang sangat rapi. Shockingly twisted ending. Jadi jangan baca spoilernya kalo mau nonton, dijamin bakal ngeganggu. Oops, the wolverine caught my attention! [****]

DISTRICT 9 (2009)
Director Neill Blompkamp Cast Sharlto Copley, David James, Jason Cope
Sudah dua dekade terjadi invasi alien terhadap masyarakat Johannesburg. Alien dengan sebutan prawns tersebut hidup di kota itu layaknya manusia, hingga suatu saat pemerintah memaksa mereka untuk pindah ke kawasan khusus bernama District 9. Di sela proses penggusuran tersebut, seorang petugas Wikus Van De Merwe terkena cairan aneh yang membuatnya bermutasi menjadi prawns. Awalnya nggak ada daya tarik apapun buat nonton ini, tapi karena penasaran ya saya coba tonton. Dan ternyata, keren!! Nggak nyangka ada film invasi alien semenarik ini. Dari visual efek, naskah, sampai akting Sharlto Copley yang sempet main di A-Team, semuanya nearly-perfect! Ceritanya bener-bener nggak sampah, dan shockingly touching! One of my fav all the time. [****]

AMERICAN PSYCHO (2000)
Director Mary Harron Cast Christian Bale, Justin Theorux,Josh Lucas
Secara kasat mata, Patrick Bateman mungkin terlihat baik-baik. Good looking, kaya raya, punya kedudukan di perusahaan. Tetapi ternyata tersembunyi sosok lain dari dirinya yang adalah seorang psikopat. Daya tarik utama untuk film ini yang pasti adalah Bale. Yep, Bale is one of the most promising actor. Sebagian besar filmnya udah tentu bagus, even Terminator Salvation though. Disini Bale main agak berbeda, sangat baik. Saya suka cara dia mengimprovisasi karakter Bateman yang bisa dibilang berkepribadian ganda, perubahan mimik wajah Bateman yang sangat nggak terkira adalah nilai lebih. Mungkin American Psycho punya pesan tersendiri, yaitu mngenai kesempurnaan. Bagaimana kesempurnaan dalam diri seseorang dengan perlahan bisa saja menghancurkan kesempurnaan itu sendiri. Namanya juga film psycho, banyak banget adegan keji dan mengganggu, and some adult content. [***]

MEMENTO
(2000)

Director Christopher Nolan Cast Guy Pearce, Carrie Anne Moss, Joe Pantoliano
Leonard Shelby mengalami suatu kondisi tak lazim dimana otaknya tidak bisa menyimpan memori baru sehingga tiap hari ia akan terus melupakan segala hal yang ia alami, kecuali istrinya yang telah meninggal. Untuk mengatasi keadaannya tersebut, ia men-tattoo beberapa hal di badannya dan juga mempotret orang dan tempat yang ia kunjungi. Untuk kesekian kalinya Nolan buat saya menyukai filmnya. Memento adalah salah satu karya brillian yang pernah ada. Dengan penjabaran masalah yang sangat detail dan pemecahan masalah yang pasti akan buat semua orang ternganga. One of the most shocking twisted ending. Alurnya bener-bener confusing, yaitu ada dua alur disini. Yang satu mundur, yang satu lagi maju. Dan nantinya kedua alur itu ketemu di ending yang ngagetin. Untuk ngebedain dua alur tersebut, alur maju diberi warna black&white. Salah satu film favorit saya! [*****]

CRASH
(2004)

Director Paul Haggis Cast Matt Dillon, Sandra Bullock, Ryan Phillippe
Crash adalah film yang mengusung multi-plot, mungkin bisa dibilang ensemble cast, eh, ensemble cast terbaik. Menceritakan kehidupan beberapa orang berbeda di L.A dalam kurun waktu kurang lebih satu hari. Semua karakter memiliki persoalan tersendiri dan nantinya akan saling terhubung secara langsung maupun tidak langsung. Satu kalimat setelah nonton ini; gw cinta Crash! Masalah yang diangkat Paul Haggis disini adalah mengenai isu perbedaan. Bagaimana kondisi masyarakat Amerika yang sampai sekarang masih mempersalahkan perbedaan rasial. Rasialisme yang masih mendominasi pola pikir masyarakat disana dideskripsikan dengan sangat indah, visualisasi terbaik yang pernah ada. Banyak banget momen menyentuh di Crash, dan semuanya bener-bener buat merinding. Pesan lainnya mungkin jangan memandang orang secara kasat mata. Selain itu orang jahat tidak sepenuhnya jahat, pasti ada sebabnya. Dan orang baik tidak sepenuhnya sempurna. [*****]

Rabu, 13 April 2011

[Review] HEREAFTER (2010)

"What do you think happens when we die"
Director :
Clint Eastwood

Cast :
Matt Damon
Cecile de France
Frankie McLaren
Bryce Dallas Howard
Rebekah Staton

Distributor :
Warner Bros. Pictures

Genre :
Drama, Supernatural









Adalah sebuah fakta kekal bagi umat manusia bahwa kematian adalah akhir dari kehidupan yang fana ini. Kematian pada hakekatnya merupakan hal universal yang pasti akan dialami seseorang suatu saat nanti. Satu pertanyaan yang mungkin timbul di benak semua orang; apa yang akan kita alami setelah mati nanti? Dari sudut pandang agama pastinya mempercayakan penganutnya masing-masing bahwa hanya terdapat dua pintu yang akan seseorang masuki setelah mati nanti, neraka dan surga. Diluar kepercayaan agamawi yang meyakini hal tersebut, tidak sedikit kepercayaan lainnya yang memiliki pendapat dan argumentasi sendiri mengenai kehidupan setelah kematian atau afterlife. Setahu saya masih ada sebuah keyakinan yang meyakini bahwa tidak ada dunia lain selain bumi yang akan ditempati manusia, melainkan kehampaan yang akan dihadapi. Diluar perbedaan argumentasi yang saling bersinggungan tersebut, kematian atau afterlife adalah premis sederhana yang coba diangkat oleh aktor sekaligus sutradara, Clint Eastwood. Memulai karirnya sebagai aktor yang berhasil menaikkan kiprahnya hingga meraih status aktor berprestasi, empat puluh tahun belakangan ini Clint Eastwood membelokkan arah karirnya di belakang layar. Mencoba pengalaman baru, 1971 adalah debutnya sebagai sutradara lewat Play Misty For Me. Mendapat banyak respon positif dari banyak kalangan, Eastwood semakin melebarkan karir penyutradaraannya sehingga banyak penghargaan diraihnya, termasuk Oscar. Tidak melupakan karir awalnya, Eastwood tetap setia meneruskan perjalanan seni perannya lewat beberapa film termasuk filmnya sendiri, sebut saja Million Dollar Baby yang berhasil menganugerahinya sebagai sutradara terbaik.
Hereafter menceritakan tiga kisah dari tiga t
okoh beda negara yang tidak saling kenal dan sama-sama sedang menghadapi persoalan mengenai afterlife. Dimulai dari seorang wanita Prancis, Marie Lelay (Cecile De France), jurnalis yang sedang bertugas di Thailand bersama suaminya. Di pagi yang cerah pesisir pantai tempatnya menginap diterjang gelombang tsunami dan mengakibatkan dirinya ikut terseret arus tsunami tersebut. Kejadian yang mengakibatkan dirinya mengalami mati suri atau near-death-experience tersebut cukup mengguncang pikirannya sehingga ia harus mengalami cuti pekerjaan sementara dan membuat dirinya menggali banyak informasi tentang afterlife. Tokoh kedua adalah George Lonegan (Matt Damon), seorang pria dari San Fransisco yang berusaha untuk mengabaikan kemampuan sixth-sense nya. Ia ingin hidup normal tanpa diganggu oleh kelainan yang dimilikinya itu. Dan yang terakhir adalah si kembar Marcus (Frankie McLaren) dan Jason (George McLaren) yang hidup bersama ibu mereka yang single-mother. Suatu saat Jason mengalami kecelakaan yang berujung pada kematian. Peristiwa naas yang sangat mengguncang pribadi Marcus tersebut membuat dirinya mencari tahu hal-hal mengenai kematian, karena dirinya merasa kehilangan dan masih ingin bertemu dengan saudara terdekatnya tersebut.Clint Eastwood, salah satu tokoh terbaik yang dimiliki Hollywood. Karya penyutradaraannya tidak diragukan lagi, begitu juga dengan karirnya sebagai aktor. Mengangkat premis sederhana untuk ditelaah lebih lanjut, Hereafter bisa digolongkan sebagai drama humanis; berdasarkan fakta universal mengenai kemanusiaan. Mungkin karena banyaknya perbedaan pemikiran mengenai persoalan kematian ini, agak susah untuk mengatakan film ini berinti pada hal keagamaan, atau hal ketuhanan. Dilihat dari track-recordnya, Eastwood terbilang sangat baik dalam mengangkat persoalan-persoalan humanis ke dalam sebuah drama. Berbagai hal coba ia digali dalam-dalam mengenai arti sebuah kehidupan dan hal-hal lainnya yang saling berkaitan. Kali ini lewat Hereafter, dirinya mencoba mengeksplor hal yang agak berbeda dan mungkin bersifat sensitif bagi sebagian besar kalangan. Tidak sembarang menyusun alur cerita, Eastwood terbilang pintar dalam memodifikasi dan menggabungkan hal fiksi dan non-fiksi. Beberapa peristiwa-peristiwa penting coba ia masukkan sebagai inspirasi sehingga cerita terasa agak nyata dan kuat. Peristiwa tersebut antara lain 'London Tube Bombing', tragedi pengeboman yang dilakukan teroris pada tahun 2005 lalu yang menjadikan transportasi umum sebagai sasaran serangan mereka. Hal yang sangat mengagetkan dan mengguncang Inggris bahkan seluruh dunia tersebut diselipkan Eastwood ke dalam adegan yang dialami oleh Marcus. Peristiwa lain yang sangat lekat di pikiran saya adalah adegan pembuka Hereafter yang memperlihatkan peristiwa tsunami di Thailand. Adegan yang mungkin saja diinspirasi dari bencana tsunami Aceh tujuh tahun tersebut sangatlah singkat, inilah alasan mengapa sampai sekarang saya masih mempertanyakan kemunculan Hereafter di jajaran nominasi Oscar awal tahun ini untuk Best Visual Effect. Ya, walaupun pada akhirnya piala tersebut harus jatuh ke Inception, tapi sangat disayangkan Hereafter bisa disamakan dengan kedua kompetitornya. Selain terbilang singkat, hanya adegan pembuka itulah yang menjadi perhatian para juri sehingga menyelipkannya ke dalam nominasi. Padahal masih banyak film lain yang memiliki porsi visual efek yang lebih berkualitas dan menyenangkan, sebut saja Tron: Legacy atau Narnia 3. Oke, mungkin hal yang masih menjadi pro-kontra tersebut tidak usah terlalu dipikirkan lebih lanjut. Bagaimana dengan filmnya sendiri? Eastwood terbilang baik dalam membuka menit- demi menit pertama Hereafter. Segala hal yang mendasari seluruh cerita ia tuturkan di awal cerita. Tapi sayangnya hal tersebut tidak akan berlangsung lama karena setelah sekitar dua puluh menit awal cerita akan terasa sedikit membosankan. Walaupun mengatur alur cerita sedemikian rapi dengan transisi penceritaan karakter secara teratur, Cecile ke George ke Marcus, saya merasakan adanya kelemahan besar yang timbul dari pendalaman karakter begitu pula dengan naskahnya. Pendalaman karakter dibuat terlampau datar, tidak terjadi ekslorisasi yang baik mengenai hal afterlife yang dihadapi ketiga tokoh. Dengan premis yang ditawarkan, seharusnya ada pengembangan lebih jauh mengenai hal utama yang menjadi pokok pikiran dari cerita. Sayangnya yang ditonjolkan dari semua karakter adalah aktivitas demi aktivitas yang mereka lakukan. Tema afterlife dihadirkan sangat lemah, terasa hanya numpang lewat untuk mewarnai tiap manit aktivitas yang dijalani ketiga tokoh. Justru menurut saya unsur terbesar yang menjadi tujuan utama Hereafter adalah takdir. Bagaimana ketiga tokoh tersebut mencari jawaban apa yang akan mereka hadapi ke depannya, paska fakta tak diharapkan yang menimpa mereka. Dan juga bagaimana mereka mengarungi gelombang misteri, hingga pada akhirnya mereka sampai di dermaga yang sama dan bertemu satu sama lain; yaitu London Bookfair (akhir cerita) yang merupakan takdir dari cerita ini. Penampilan ketiga aktor tidak mengecewakan, walaupun tetap saja datar sama halnya seperti lemahnya naskah cerita. Hereafter adalah kali keduanya Matt Damon (Bourne Ultimatum, True Grit) berkolaborasi dengan Eastwood, setelah sebelumnya sukses dengan Invictus. Nama tenar Matt Damon pun tidak sanggup melonjakkan kualitas Hereafter yang beberapa waktu lalu diboikot di Jepang karena memiliki konten tsunami seperti yang baru saja dialami negara tersebut.
Talking point...
Secara keseluruhan, Hereafter tidak sepenuhnya mengecewakan. Masih bisa dikategorikan sebagai drama humanis walaupun unsur utama yang awalnya digembor-gemborkan tidak dieksekusi dengan pintar. Diluar bakat penyutradaraan Eastwood yang sudah banyak diakui, ia gagal dalam menciptakan sebuah drama inspiratif hingga akhirnya hanyalah tanda tanya yang ditawarkan di penghujung cerita.

Rate :
3 out of 5

Selasa, 15 Maret 2011

DRIVE ANGRY (2011)

"All Hell Breaks Loose"
Director :
Patrick Lussier

Cast :
Nicolas Cage

Amber Heard
Billy Burke

William Fichtner
David Morse

Distributor :
Summit Entertainment

Genre :
Action, Thriller, Supernatural, 3D









Lirik dulu posternya; Yap, Nicolas Cage (National Treasure, Sorcerer's Apprentice). Jangan sampai salah mengenali pria berambut gondrong nanggung ini. Lalu siapa 'pajangan' yang duduk di sebelah jok Cage? Yap, Amber Heard (Zombieland, Pineapple Express). Cewe yang mungkin menjadi nilai tambah apalagi bagi kalangan pria ini--shit, hate to say this--baru-baru ini mengaku bahwa dirinya adalah seorang lesbian. Tidak hanya mereka berdua, film yang lebih layak dimasukkan ke dalam 'perbendaharaan' film kelas-B ini juga dipermanis oleh beberapa aktor yang tidak setenar Cage, sebut saja Billy Burke (Twilight, New Moon) dan William Fichtner (Crash, Armageddon). Diarahkan oleh Patrick Lussier (Dracula 2000, White Noise 2: The Light), Drive Angry ikutan unjuk gigi lewat teknologi 3D yang juga disematkan ke dalam film ini, ya, selain menambah pundi-pundi uang mungkin juga agar film tambah 'dikenal' kemunculannya. Saya tak terlalu mengerti mengapa ada 'film bule' bisa masuk ke Indonesia, tapi menurut beberapa penjelasan yang saya baca hal ini dikarenakan Drive Angry tidak termasuk 'film MPAA'. Tapi semoga saja direktorat pajak negeri Indonesia yang menyedihkan ini, dan juga pihak Hollywood membuka jalan keluar yang lebar bagi masuknya film-film Hollywood yang masih saya tunggu sampai sekarang. Sebagai tambahan, anda yang nonton film ini di bioskop Indo mungkin mengalami hal yang sama dengan saya; subtitle dengan font besar, aneh, dan kadang beberapa dialog tidak diterjemahkan. John Milton (Nicolas Cage) adalah sosok misterius, berambut aneh, dan tiba-tiba saja muncul di permukaan bumi ini--ya, Milton merupakan orang yang sesungguhnya telah mati dan masuk ke neraka, dan kembali ke bumi untuk menjalankan suatu misi. Misi kedatangannya ke bumi tidak lain adalah untuk menyelamatkan ekistensi satu-satunya sisa keturunannya, yaitu sang cucu. Dikisahkan anak Milton dibunuh oleh seorang pemimpin sekte aliran sesat pemuja setan bernama Jonah King (Billy Burke). Pria sadis itu tidak enggan menculik bayi wanita tersebut, alias cucu Milton, untuk dijadikan tumbal dan akan dibunuh tepat di hari bulan purnama. Menurut mereka bayi tidak bersalah ini adalah kunci terbukanya jalan menuju neraka dan menguasai seluruh dunia. Di bumi Milton bertemu dengan Piper (Amber Heard), wanita yang baru saja berhenti bekerja sebagai pramusaji sebuah kafe kecil. Berawal dari Milton numpang mobil Piper, lalu ikut campur dalam permasalahan cinta wanita tersebut dengan pacarnya, Piper terpaksa ikut Milton berkelana dan setelahnya Piper merasa dirinya terpanggil untuk menemani Milton. Sambil berusaha memburu sekte sesat yang menculik cucunya, ternyata ada orang, eh, pihak lain yang memburu Milton. Ia adalah sosok tanpa nama yang menamai dirinya dengan sebutan The Accountant (William Fichtner), 'sipir' neraka dengan misi menangkap Milton yang kabur dari 'penjara'. Perburuan berantai pun dimulai--sipir mengejar tahanan, tahanan mengejar penculik. Tidak ketinggalan Piper yang mempertanyakan apa yang sebenarnya sedang terjadi dalam hari yang sangat sial itu. Jujur sampai sekarang saya belum lihat trailer film ini, hanya sebatas poster yang saya jadikan informasi utama. Dilihat dari posternya mungkin tidak tertebak apa tema maupun inti cerita film ini. Tapi kalau dilihat dari Nic Cage di poster film ini, cerita semacam Ghost Rider yang terlintas di pikiran saya. Jawabannya; hampir. Drive Angry ternyata mengusung tema yang mirip dengan Ghost Rider. Sosok dari neraka datang ke bumi, tapi bedanya kendaraan yang hadir di Drive Angry murni made in earth. Meskipun banyak yang menganggap Drive Angry terlalu berlebihan dalam mengeksploitasi sex dan kekerasan tanpa mempedulikan segi cerita, Drive Angry nyatanya masih bisa dikategorikan sebagai film yang menghibur. Jika ditelusuri plot ceritanya, mungkin penonton, termasuk saya, menganggap film berdurasi 104 menit ini menghadirkan jalan cerita yang terlampau aneh dan gampang dijumpai dalam beberapa film. Di luar kedangkalan jalan cerita yang konyol, Drive Angry mampu menghibur kita dengan komposisi action yang hampir mendominasi durasi film. Dari awal sampai akhir film terus berjalan dengan mengeksploitasi action blak-blakkan dan kekerasan di adegan demi adegan. Ya, semua fitur ini terus-terusan dieksploitasi diluar batas tanpa henti, tapi tetap saja menciptakan suatu hiburan yang sangat baik dan tidak tanggung-tanggung. Kehebatan fitur action yang digarap baik oleh Patrick Lussier ini mungkin pengaruh dari pengalaman Patrick yang sebelumnya sering menggarap ataupun bergabung dalam tim di film-film sejenis seperti My Bloody Valentine 3D dan Scream. Secara keseluruhan, semua hal ini berhasil menutupi kedangkalan unsur cerita. Teknologi 3D yang dipakai juga tidak murahan, menggunakan embel-embel 'shot-in-3D', lagi-lagi eksploitasi 3D disematkan dengan baik lewat adegan berdarah-darah, ledakan-ledakan, hingga balapan mobil. Ya, namanya juga film kelas-B--sebuah cap bagi film-film yang mengandung eksloitasi besar-besaran terhadap unsur sex, kekerasan, dan banyak subjek ekstrim. Dari departemen akting tidak ada yang menonjol, walau bermain cukup baik namun Nic Cage tetap saja tidak memberikan perubahan besar bagi kualitas karirnya yang semakin menurun. Selain itu dengan berani dan sangar Amber Heard bermain cukup baik, malah Billy Burke rasanya yang lebih pantas di cap sebagai pemanis film. Dan jangan tertipu oleh posternya, Drive Angry bukanlah film yang pantas dipelototi anak kecil, walau beberapa nudity dan sex scene telah disensor, tetap saja kata-kata kasar dan kekerasan bersebaran dimana-mana. Well, walau plot cerita yang diusung terlihat murahan, Drive Angry terbukti unggul dalam mengeksploitasi semua unsur penting dalam kelas-B yang berhasil sampai di garis finish; menghibur.

Rate :
3/5