infolinks

Tampilkan postingan dengan label Drama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Drama. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 November 2011

[Short Review] THE HELP & CONTAGION (2011)

Sejauh ini ada satu film berensemble cast terbaik yang saya kagumi; The Social Network. Didukung oleh kombinasi cerita, directorial, dan sisi teknikal film lainnya. Hadirnya para aktor yang sebelumnya tidak terlalu dipertimbangkan mengisi jajaran pemain di ensemble cast yang out of ordinary. Alhasil bisa dibilang yang didapat adalah ‘born to be rising star’ bagi semua aktor tersebut yang ikut berperan di departemen akting film David Fincher tersebut. Tahun ini ada banyak film embel-embel ensemble cast of the year, kali ini adalah The Help dan Contagion. Dua film yang termasuk terbaik tahun ini.

THE HELP
Director Tate Taylor Writer Tate Taylor
 Cast Emma Stone, Bryce Dallas Howard, Viola Davis, Octavia Spencer
Distributor Dreamworks SKG Genre Drama, Comedy

Diangkat dari buah pena Kathryn Sockett berjudul sama, The Help mengangkat isu rasialisme di era 1960-an ke dalam balutan drama komedi. Dengan Jackson, Mississippi yang terkenal akan its summer’s heat sebagai settingnya, Skeeter Phelan (Emma Stone) adalah ‘would-be-writer’ kalangan kaya raya dan berbeda dari sebagian teman rasisnya. Pada zaman itu, kaum hitam banyak bekerja sebagai 'maid' atau pembantu. Skeeter  meyakinkan dua maid untuk diam-diam berkerja dengannya dalam penulisan buku mengenai kaum hitam. Penulisan buku itu pun membuka pintu besar bagi perubahan kedua pihak; langkah meraih persamaan rasial, dan juga pencapaian publishing buku tersebut berikut dengan karir si Skeeter sendiri.

The Help mengambil settingan waktu pada masa pergolakan sosial waktu itu. Naskahnya berkonsentrasi pada konflik ‘same but different’ antar dua individu dengan maksud menyederhanakan cerita untuk berikutnya bisa dikembangkan sendiri dalam ruang lingkup yang lebih besar. The Help tidak memiliki jalan cerita yang bersifat lecture berkaitan dengan kesederhanaannya. Kekuatan The Help justru datang dari karakterisasi jajaran cast yang sempurna. Walaupun bukan the real star di sini, Emma Stone dengan baik menekankan semangat seorang wanita sebagai seorang leader (ada hubungannya dengan emansipasi mungkin?). Bryce Dallas Howard sedikit lebih baik sebagai antagonis yang insensitive. Dua scene-stealer adalah Octavia Spencer dan Jessica Chastain yang memberikan unsur komikal dan tetap memiliki adegan kuat tersendiri – misalnya perang pie Hilly vs Minny, saat Minny dipecat karena menggunakan toilet Hilly, dan juga ketika Celia ditolak Hilly, cs. secara menyakitkan. Viola Davis adalah bintang disini, dengan penampilannya yang sangat emosional. Penampilannya yang mendominasi buzz bagi film ini menjadi titik kebingungan; apakah dia leading actress atau hanya sebagai supporting role? The Help merupakan salah satu bintang besar di summer 2011. Dan kemungkinan besar akan maju sebagai frontrunner bidang performances di award season nanti. At least please give Davis another nomination, and I hope for Spencer also. Ingat waktu pertama kali Davis mendapat Oscar buzz karena posisinya sebagai ‘scene-stealer’ di Doubt?

Rate : 1 2 3 4½ 5

CONTAGION
Director Steven Soderbergh Writer Scott Z. Burns
 Cast Matt Damon, Kate Winslet, Jude Law, Marion Cotillard
Distributor Warner Bros. Pictures Genre Drama, Thriller

Contagion memiliki judul yang dengan cepat merasuki dan menyebar di pikiran saya, apa yang akan menular di film ini; entah itu virus penyakit atau hal supernatural mustahil yang biasanya terlihat menjijikkan. Lupakan zombie, alien, atau apakah itu yang ada dipikiran anda, karena Contagion berbicara mengenai instrumen ketakutan baru yang lebih real dan mewabah di 60% belahan bumi. Beth Emhoff (Gwyneth Paltrow) baru saja pulang dari Hong Kong dan bertemu dengan sang suami, Mitch (Matt Damon) serta dua anaknya di Minneapolis. Beth yang terlihat lemah seketika jatuh di dapur, mulut mengeluarkan busa, dan meninggal dengan cara yang menakutkan. Kematiannya yang disebabkan virus yang diprediksi berasal dari kelelawar mengundang reaksi besar di berbagai negara, setelah virus itu menginfeksi jutaan manusia lainnya.

Contagion punya banyak nama besar didalamnya, selain dua nama diatas, ada juga Kate Winslet, Marion Cotillard, Jude Law, sampai John Hawkes yang tidak menonjol. Sepanjang durasi, Contagion mengalir dengan kecepatan dan konsentrasi yang mengerikan. Ceritanya sendiri dibuat se-real mungkin dengan menambahkan segala teori biologikal rumit dalam pembahasannya. Contagion sedikit membuat saya paranoid akan kebersihan di sarana publik. Contagion juga membangkitkan memori lama akan awal-awal munculnya virus HIV, Ebola, flu babi, etc. yang diselimuti ketidakberdayaan manusia. Ini adalah well-made film yang mendekati sempurna, dengan naskah yang pintar dan penampilan jajaran cast yang baik. Tidak ada yang menonjol disini, semua aktor bermain secara equal sesuai porsinya masing-masing. Definitely one of this year’s bests, and I’m currently considering this to be one of my top10 list later. Satu hal teknikal yang mengundang Oscar buzz lumayan besar adalah scoring ciptaan Cliff Martinez yang merangsang dan buat merinding. Sebelumnya ia juga menangani scoring untuk The Lincoln Lawyer dan Drive.

Rate : 1 2 3 4½ 5

Jumat, 11 November 2011

[Short Review] THE TREE OF LIFE & MELANCHOLIA (2011)

Film art house seringkali menimbulkan penafsiran. To the point, saya bukan pecinta jenis film ini. Film art house pada dasarnya merupakan sebuah karya artistik yang serius, tidak jarang dijadikan eksperimental si sutradara dan tidak dirancang untuk menjadi daya tarik secara umum. Satu hal yang impresif dari pengerjaan kebanyakan art house adalah aspek visual yang indah dan diusahakan sebaik mungkin untuk dialegorikan dengan plot yang ada. Di short review saya ini ada dua film art house tahun ini yang paling banyak mengundang atensi tinggi di kalangan luas, yaitu The Tree of Life dan Melancholia.

THE TREE OF LIFE
Director Terrence Malick Writer Terrence Malick
 Cast Brad Pitt, Jessica Chastain, Hunter McCracken, Sean Penn
Distributor Fox Searchlight Pictures Genre Drama, Arthouse

Menonton The Tree of Life menyebabkan dua hal; mengantuk, atau memaksa kita menelan banyak air karena kehausan. Setelah layar berubah menjadi hitam, secepatnya kata-kata “written and directed by Terrence Malick” muncul, ada dua hal yang terjadi; desahan nafas orang dan keluh syukur orang ‘akhirnya!’. Ada apa dengan film ini? Ada dua pria dalam The Tree of Life yang terpisah zaman; sosok ayah yang keras dan pengontrol, Mr. O’Brien (Brad Pitt), di Texas tahun ’50-an. Pria kedua adalah Jack O’Brien (Sean Penn), sosok dewasa dari putra Mr. O’Brien di masa kini. Dengan dimulainya film, Jack dewasa menciptakan koneksi antara dirinya dengan sang ayah dan keluarga lewat imajinasi atau memori masa kecil, yang diselingi gambar-gambar abstrak terbentuknya jagat raya oleh Terrence Malick.

Saya belum nonton film Malick kecuali ToL ini. Adalah benar kalau Tree of Life agak membosankan seperti yang saya lebih-lebihkan tadi, in a good way. The Tree of Life adalah film yang challenging dan unconvensional, memompa kesanggupan orang untuk bersedia mengikuti sajian-sajian gambar ‘aneh’ bernarasi karya Malick yang tetap solid menyajikan cerita keluarga O’Brien yang touching dan enigmatis. Tidak sekedar main-main dalam ‘membingungkan’ orang lewat semua gambar yang secara kasat mata tidak nyambung sama film, performance yang solid dari para pemain juga baik, khususnya Hunter McCracken. Makna dari film ini terbuka untuk interpretasi, tapi sebaiknya cukup ditonton tanpa perlu men-decode, mentafsir, atau memaksakan pikiran sendiri untuk mencari tahu jawaban dari film yang penuh akan pertanyaan ini. 

Rate : 1 2 3 4 5

MELANCHOLIA
Director Lars von Trier Writer Lars von Trier
 Cast 
Kirsten Dunst, Charlotte Gainsbourg, Alexander Skarsgard, Kiefer Sutherland
Distributor Magnolia Pictures Genre Drama, Arthouse, Sci-Fi

Di saat The Tree of Life berjaya di Cannes tahun lalu dengan merebut Palme d’ Or dan menjadi perbincangan karena sajian visual yang mengagetkan diluar ekspektasi penonton untuk melihat ‘film Brad Pitt’, ada juga Melancholia yang serupa tapi beda dalam bertutur. Kalau The Tree of Life lebih mengaitkan komparasi antara keluarga yang agak bermasalah dengan awal mula terbentuknya jagat raya, Melancholia justru lebih main halus dengan mengaitkan bagaimana bencana jagat raya yang akan segera terjadi di current time bisa mempengaruhi karakter seseorang. Dibintangi oleh Kirsten Dunst, memerankan Justine, yang di sela-sela acara pernikahannya dengan Michael (Alexander Skarsgard) malah merubah keputusannya. Dan berpengaruh kepada sosok sang kakak, Claire (Charlotte Gainsbourg). Film ini bukanlah apocalyptic semacam jenis lainnya yang kebanyakan mengandalkan sense of character’s patriotism, cheesy script, atau aksi pahlawan semacam Bruce Willis.

Melancholia dibagi menjadi dua bagian, Part One: Justine yang menceritakan pernikahan si Justine dan perubahan yang perlahan namun pasti menggerogoti pikirannya. Yang awalnya terlihat senang, hingga terlihat bimbang dan tidak berani bahkan tidak bertanggung jawab akan pernikahannya sendiri. Sedangkan Part Two: Claire lebih menekankan flipping antara Claire dan Justine, dimana Claire yang tadinya tenang berbalik jadi panik akan hari yang mendekati waktu ramalan planet Melancholia akan menabrak bumi. Film dibuka potongan gambar slowmotion yang keren dan ‘bersifat ending’, maksud saya menekankan bahwa akhirnya planet itu memang akan menabrak bumi. Jadi keiistimewaan Lars von Trier disini adalah memanfaatkan planet Melancholia untuk menjerumuskan kedua karakter utamanya ke dalam studi karakter; bagaimana seseorang menyikapi suatu masalah. Kirsten Dunst bermain baik disini, walaupun Gainsbourg jauh lebih dahsyat. Skarsgard muda (‘Skarsgard tua’ juga turut ambil bagian dalam film) tidak sekedar berfungsi sebagai pelengkap ruang lingkup karakterisasi, karakternya menarik simpati saya dan for a moment membuat saya nge-blame Justine. Jujur saya lebih suka dan tertarik sama Melancholia ini ketimbang ToL, karena penuturannya yang lembut dan pas dibanding Tree of Life yang menurut saya pribadi terlalu hyperbola, but still great.

Rate : 1 2 3 4 5

Sabtu, 08 Oktober 2011

[Review] DRIVE (2011)

Director Nicolas Winding Refn Writers Hossein Amini
 Cast Ryan Gosling, Carey Mulligan, Albert Brooks, Bryan Cranston
Distributor Film District Genre Action, Crime, Drama, Thriller

Banyak factor yang membuat film bisa jadi menarik dan menaikkan pamor film tersebut. Entah itu dari sisi teknikal promosi seperti poster, trailer, dll, bahkan sampai nama sutradara atau actor di dalamnya. Kali ini factor leading-actor lah yang berperan sebagai factor itu, yaitu Ryan Gosling. Setelah beberapa filmnya yang sebagian besar mendapat critical acclaim berkat penampilannya, kali ini di Drive ia kembali menunjukkan bahwa ia layak dicap sebagai promising actor.

Dari sekian banyaknya festival film yang diadakan per tahun, hanya beberapa yang memiliki prospek berkualitas, sebut saja Toronto Film Festival, Tribeca, Sundance di awal tahun, dan Cannes Film Festival di awal summer season. Di Cannes tahun ini ada beberapa film yang mendapat perhatian lebih, khususnya karena mendapat awards khusus in competition. Empat film paling mengundang perhatian antara lain The Artist dan Melancholia dengan P d’interpretation (best performance), The Tree of Life yang diganjar Palme d’Or (best picture), dan juga Drive dengan Prix de la mise en scene nya (best director). Empat film diatas adalah film-film yang berjaya di Cannes tahun ini dan sukses meraih atensi publik serta kritikus yang nantinya berkemungkinan besar untuk ikut bertarung di awards season, bergabung dengan film-film fall season yang memiliki prospek oscar lebih besar.
 Ryan Gosling bermain sebagai karakter tanpa nama, dengan sebutan ‘Driver’. Driver berkerja sebagai mekanik di garasi milik temannya Shannon (Bryan Cranston). Ia juga melakukan dua part-time job, yaitu sebagai stuntman untuk film seperti adegan car chase, di malam hari ia adalah seorang getaway driver. Shannon memiliki hubungan dengan mafia bernama Bernie Rose (Albert Brooks) yang membayar dirinya atas pembelian mobil balap NASCAR beserta Driver dengan driving skill nya yang baik. Bernie memiliki hubungan dengan Nino (Ron Perlman), yang juga seorang mafia.

Driver hidup sendiri di sebuah low rent apartment. Ia memiliki tetangga bernma Irene (Carey Mulligan), ibu muda yang tinggal berdua bersama sang anak. Driver dan Irene bertemu dan perlahan jadi suka sama suka walaupun in fact Irene sudah mengingatkan bahwa ia mempunyai suami yang berada di penjara. Suaminya, Standard (Oscar Isaac), memiliki hutang dengan seorang mafia dan harus segera melunaskannya dengan ancaman keselamatan Irene dan anaknya. Si Driver pun ikut campur untuk menyelamatkan mereka, sayangnya masalah jadi rumit karena adanya konspirasi yang dilakukan para mafia. 
 Banyak aspek yang membuat saya paling excited dengan film ini. Diluar nama Ryan Gosling yang makin bersinar, aspek promosional film juga mengundang atensi besar saya. Dimulai dari trailer yang lumayan bagus, sampai design poster retro dengan font berwarna pink yang kalau boleh dibilang termasuk poster terbaik tahun ini. Film dibuka dengan opening title yang sangat sederhana dengan font pink seperti di poster, dilanjutkan opening sequence si Driver dalam memperkenalkan dirinya sebagai getaway driver. Dimulai dengan pembicaraan si Driver dalam memberikan instruksi, dalam 20 menit berikutnya tidak banyak bahkan hampir tidak ada line yang diberikan kepada karakter Gosling tersebut. Penonton diperlihatkan sosok Driver yang sangat dingin, menakutkan, sekaligus questionable. Siapa orang ini? Apa latar belakangnya? Saya sangat suka opening sequence Drive ini, salah satu opening film terbaik yang pernah ada. Sebuah muted-sequence yang breathtaking dan memperlihatkan ketelitian seorang Driver.

Nama lain yang memiliki andil besar dalam Drive tidak lain adalah sutradaranya sendiri, yaitu Nicolas Winding Refn. Berkat film ini ia diganjar penghargaan setingkat best director pada Cannes bulan May lalu. Nama Refn dikenal lewat film-filmnya yang kebanyakan bergenre sejenis seperti Valhalla Rising dan Bronson. Belum ada film Refn selain Drive yang pernah saya tonton.  Apa yang menarik dari penyutradaraan Refn? Dari detik pertama Drive saya sudah merasakan jawaban dari pertanyaan disamping. Refn unggul dalam membuat sebuah contemporary film menjadi terlihat beda. Dalam Drive, Refn memberikan sentuhan feel retro dalam berbagai aspek, mulai dari kesederhanaan opening title yang cukup dengan font pink yang sangat hot sampai betapa asiknya ia memberikan mood dari awal sampai penghujung film yang mengingatkan saya akan ’80 noir. Walaupun tidak mencolok, sinematografi dalam Drive adalah nilai plus yang juga membuat mood retronya lebih terasa. Dibantu sinematografer Newton Thomas Sigel, Refn memperlihatkan immersive vision kota Los Angeles lengkap dengan neon eighties dan cara pengambilan gambar yang gampang ditemukan dalam film-film jadul tahun ’80-an. Saya paling suka dengan long-shot yang dipadukan dengan mood calm dan sentuhan efek sudden shift sampai slow motion.

Just as important as its other technical atmosphere, scoring film yang dikerjaan oleh Cliff Martinez, orang yang juga bekerja di film Contagion, sangatlah impresif. Diluar pengambilan gambar yang sangat baik di Drive, scoring beserta soundtrack yang menghiasi banyak scene disinilah yang membangkitkan mood ’80-an paling kental. Kadang saya suka membayangkan gimana ya kalau mereka lebih memilih untuk menggunakan lagu-lagu modern, pasti hilang feel-nya. Baik scoring maupun soundtrack, keduanya menciptakan atmosfir yang sedingin si Driver itu sendiri.

Saya sangat yakin ke depannya Drive akan menjadi sesuatu yang ikonik. Banyak factor yang masuk akal untuk membuat hal ini terjadi, mulai dari mood ’80-an yang kental, long-shot sequence yang masih lekat di ingatan saya, atmosfir retro yang dibangkitkan mulai dari credit title, sampai art direction yang lagi-lagi sangat saya suka. Hal ikonik lainnya? Yang pasti scorpion white satin jacket yang dipakai Gosling sepanjang film, beserta denim jeans tusuk gigi yang tidak kunjung lepas dari mulut sang Driver. I love every single piece in this film, tidak ada satupun adegan yang dibuat sekedar melama-lamakan durasi atau terbilang tidak perlu. Jelas durasi film ini hanyalah sebatas 1jam 30menit. Ada banyak adegan yang sangat memorable dan paling ‘berjiwa’. Favorit saya ialah ending film dimana Irene mengetuk pintu apartemen Driver dan akhirnya pergi dengan tatapan hopeful diikuti shot wajah si Driver, yang menurut saya sangatlah heartbreaking dan strong. Adegan dimana Driver diajak ngobrol seorang former client nya di bar mulai menunjukkan transformasi cold-character nya menjadi ganas, tetap dingin, tapi menakutkan. Favorit saya lainnya tentu saat Driver dengan stuntman mask nya mendatangi Nino dengan tatapan kosong, diiringi lagu soul ’80-an lagi serta slowmotion shot. Saat itu satu hal yang muncul di pikiran saya, this Driver is one of the greatest avenger all the time.

Diluar kesan stylish yang menyelubungi, seperempat jiwa Drive berada dalam tangan Ryan Gosling. Saya yakin dari panjangnya film ini, tidak lebih dari 50 lines diberikan pada dirinya. Gosling bermain sangat baik disini, ketimbang memainkan kata-kata, ia lebih memilih untuk membangkitkan jiwa seorang Driver lewat mimik muka dan bahasa tubuh yang quiet dan calm. Sekalinya ia menunjukkan sisi gelap yang ia timbun dalam dirinya, jujur sangatlah menakutkan. Bukannya berlebihan, tapi the way he look through his eyes is really mesmerizing.  Driver adalah karakter yang misterius, hanya berbicara kalau penting saja. Ryan Gosling menunjukkan kualitas acting yang sangat baik. No doubt this dude is one of the finest actor today. His consistency is remarkable, as is his range and taste of roles. Setelah menonton film-film terbaiknya, Ryan Gosling terbukti adalah salah satu actor muda terbaik di era ini. Dimulai dari peran Jewish kid di The Believer yang dulu tidak sedikit menamai dirinya sebagai best newcomer, dalam Half Nelson sebagai drug addict teacher yang sukses menganugerahi dirinya the first and only Oscar nod, sampai performances nya yang kelewatan underrated seperti Lars and the Real Girl dan Blue Valentine. Untuk tahun ini saja ada tiga film mainstream bagi dirinya dan saya masih nunggu untuk nonton dua lainnya.

Jangan banyak berharap kalau mengira Drive adalah film seperti Fast and Furious atau film balapan mobil lainnya. Drive sepenuhnya berbicara mengenai revenge, dibalut love story yang charming. Momen romantis dalam film ini dipenuhi oleh adegan kalem antara Irene dan Driver yang sangat manis. Tidak berlebihan dan tidak segitu mudahnya untuk dilupakan. Beberapa artikel mempersalahkan adanya lack of characterization of Driver yang tidak menceritakan background kehidupannya. Namun bagi saya malah bagus dan lebih menimbulkan kesan misterius yang memberikan kesan mendalam. Supporting cast film ini juga baik sama halnya seperti aspek lainnya. Saya agak terpaku pada Carey Mulligan yang bermain sangat sweet sebagai Irene, Christina Hendricks yang walaupun muncul sebentar tapi bisa dibilang sebagai scene-stealer.  Albert Brooks paling mengundang perhatian, sebagai villain yang kelihatan baik namun sebenarnya ruthless, lebih dari seorang Nino yang diperankan Ron Perlman. Agak kasihan sama karakternya Bryan Cranston gak tahu kenapa. Oscar Isaac juga bermain baik, padahal awalnya saya kira bakal memberikan sentuhan jealousy.
Talking point... 
Susah untuk tidak menyukai film ini. Drive adalah film action/gangster/neo-noir yang mencekam sekaligus mempesona dari awal sampai akhir, dan dibuat sempurna tanpa ‘nila setitik’. Ditopang penampilan si one-in-a-million, Ryan Gosling.

Rate :
1  2  3  4  5

Kamis, 01 September 2011

[Review] GONE BABY GONE (2007)

Director Ben Affleck Cast Casey Affleck, Michelle Monaghan, Amy Ryan
Distributor Miramax Films Genre Drama, Crime

Pernah nggak, atu lebih tepatnya, pasti sering kan kita dilanda dilema? Ya, mungkin "dilema" merupakan bagian kecil dari pokok permasalahan yang diangkat dalam film yang satu ini. "Gone Baby Gone", debut penyutradaraan Ben Affleck untuk yang pertama kali pada tahun 2007 lalu. Berhasil kah?

Saya sangat menyukai film yang bisa membuat orang bertanya-tanya sepanjang film, tanpa memberikan clue yang bisa merusak kesan misterius. Bahkan lebih bagus lagi kalo diakhiri dengan paksaan bagi kita untuk mempertanyakan apa yang terjadi sesudah film. Siapa yang benar? Apa yang salah? Itulah yang saya rasakan saat nonton Gone Baby Gone. Saya singkat menjadi GBG ya, ini merupakan crime-drama-mystery debutan Ben Affleck  yang diadaptasi langsung dari novel berjudul sama karya Dennis Lehane, yang juga menulis versi novel dari Mystic River dan Shutter Island (jangan kaget kalo ngerasa ada feel yg sama diantara 3buku disamping). GBG dibintangi oleh adik kandung dari si sutradara yaitu Casey Affleck (bromance project?). Casey sebelumnya sempet dapet noms Oscar berkat perannya di Jesse James (judulnya lebih panjang dan males nulisnya). Ada juga Michelle Monaghan dan juga Amy Ryan yang berkat penampilannya di film ini, dirinya diganjar noms Oscar u/ best actress. Gone Baby Gone menurut saya mengalami Oscar-snub dengan tidak dinominasikannya film ini ke beberapa noms yang harusnya pantas, terutama Best Adapted Screenplay atau bisa juga Best Director. Kenapa bisa gitu? 
Mengambil kota Boston sebagai latar tempatnya, Gone Baby Gone bercerita mengenai peristiwa penculikan seorang bocah perempuan yang menyebabkan banyak pihak terlibat dalam proses investigasi kasus misterius tersebut. Dikisahkan Amanda McCready adalah bocah 4 tahun yang tinggal bersama ibunya, Helena McCready (Amy Ryan). Hidup di kota Boston memang sulit dan butuh kewaspadaan penug, wajar, kota ini memang terkenal oleh tingkat kriminalitasnya yang tinggi. Helena hanyalah seorang single-mother (tidak dijelaskan kemana dan siapa suaminya), yang hidupnya berantakan dan bergaul dengan hal-hal kelam seperti narkotika, minum-minuman keras, atau "kehidupan malam". Helena tidak pernah mengurus anaknya itu dengan benar sebagaimana seharusnya tugas utama seorang ibu. Bahkan ia seringkali membawa Amanda ke lingkungan brutalnya. Tidak mau keponakannya terlantar, Lionel McCready (Titus Welliver), yg merupakan kakak kandung Helena malah lebih sering merawat Amanda.

Lalu apa masalahnya? Suatu ketika Amanda dinyatakan menghilang setelah anak itu tidak ditemukan dirumahnya oleh Helena. Segala penelusuran di sekitar rumah pun telah dilakukan dan tetap tak ada hasil. Hingga akhirnya dinyatakan sebagai kasus penculikan, berita tersebut menyebar luas melalui berbagai media. Tidak bisa menunggu lama untuk mendapat hasil investigasi kepolisian yang terkesan mengulur-ulur, Bea McCready (Amy Madigan), yang merupakan istri dari Lionel, mencari tambahan bantuan dan pilihan pun jatuh ke sepasang detektif independen Patrick Kenzie (Casey Affleck) dan Angie Gennaro (Michelle Monaghan). Memiliki banyak relasi/kenalan pelaku kriminal, Patrick dan Angie memanfaatkan hal ini untuk mempermudah proses penyelidikan, dibantu oleh dua detektif kepolisian Remy dan Nick. Semua risiko harus ditanggung dalam kasus ini. Segala kekeliruan, fakta mengejutkan, sampai hal yang tidak sesuai ekspektasi semakin memperumit masalah ini dan berimbas pada keselamatan nyawa hingga menimbulkan masalah personal dalam pasangan Patrick dan Angie begitu juga semua yg terlibat.
Ben Affleck memang nyatanya banyak yang nggak suka, bukan secara personal melainkan kualitasnya dalam berakting. Bahkan sering banget dia dijulukkin salah satu aktor terburuk yang pernah ada. Razzies pun juga sering ia dapet, eh, nggak tahu sih nominasi doang ato menang. Well, berlebihan nggak sih? Menurut saya iya. Ok, dia sering main di film-film jelek ato kasarnya film sampah. Dan nggak usah saya bela-belain dengan sok ngebagusin penampilannya, Affleck tidak jarang main dengan kaku dan nggak bisa memberi feel-good. Tapi ada kok beberapa filmnya yang lumayan saya suka, misalnya Pearl Harbour yang lumayan dihina itu (kalo Daredevil sih lewatin aja ya). Hey, jangan ngeliat orang sekedar dari satu sisi sehingga kesannya semua yg bagus dibuang. Robert DeNiro sampai Julie Roberts nggak jarang kok main jelek, tapi ya gitu, orang terlalu ngeliat predikat mereka sebagai kaliber Oscar sehingga apa-apa pasti dibilang bagus.

Oscar? Nah, ini dia yang banyak orang nggak tau. Jangan remehin Ben Affleck dulu, tahun 1998 lalu dia dapet Oscar berkat hasil kerjanya sebagai writer Good Will Hunting, walaupun shared with Matt Damon. Terus terang film itu belum saya tonton, jadi nggak bisa menilai terlalu gimana gitu. Well, nggak mungkin kan orang dapet Oscar tapi sebenernya dia nggak bagus? Mungkin sih, tapi untuk ajang tinggi seperti ini ya nggak gede-gede banget lah kemungkinannya. Tidak mau stuck disatu hal saja, dan sepertinya mau melepas cap jelek dari banyak orang, Ben Affleck tahun 2007 lalu melakukan debut penyutradaraannya. Langkah yang cukup berani, ditambah merangkap sebagai penulis screenplay. Lewat Gone Baby Gone, Ben Affleck sangat berhasil merubah pola pikir jutaan orang terhadap dirinya. Saya sangat suka dan akan sangat sangat mengagumi seorang sutradara yang bisa menulis sendiri naskah/screenplay cerita film itu sendiri. Itulah yang berhasil Affleck lakukan, sukses membuat saya kagum dan enjoy menikmati GBG ini dari awal sampai akhir. 

Cara Affleck menyutradarai debutnya ini sangat impresif, saya suka dengan caranya yang no-frills (to the point dan tidak kebanyakan embel-embel). Saya nggak suka film yang terlalu mengeksplorisasi ceritanya terlalu jauh dan tidak terkendali, sehingga film kesannya berantakan. Tahu lah, banyak banget loh film-film drama yang terlalu dipanjang-panjangin ceritanya sampai masalah yang ada terkesan repetitif dan maksa. Beda dengan Affleck, suami dari Jennifer Garner ini lebih memilih untuk berusaha memperdalam penampilan semua aktor/aktris yang terlibat. Affleck memiliki kelebihan yaitu power intelegensi dalam menggali dalam-dalam topik utama yg dibahas sehingga tidak menyeleweng ke hal yang nggak ada gunanya. Seperti filmnya yang perseptif, itulah diri Ben Affleck. In the other hand, Daredevil-nya Affleck emang saya akui sampah, sampe mikir kok kayaknya kebanyakan adaptasi komik DC selalu gagal ya? Lucunya, Affleck punya istri, Garner, juga pernah meranin superhero sampah yaitu Elektra.

Oops, hampir lupa ngomongin filmnya. Nyadar nggak sih Boston sering banget dijadikan latar tempat buat film-film jenis crime? Ya, sering banget. Seperti yang saya katakan di sinopsis cerita tadi, Boston adalah salah satu kota yang terkenal akan persentasi kejahatannya. Boston bak forbidden city yang dikelilingi beragam sense, dari ketakutan sampai kemarahan. Semuanya berhasil digambarkan secara sempurna dan terlihat natural dalam Gone Baby Gone sehingga dapat direfleksikan dengan baik oleh penonton. Ben Affleck emang gemar merangkai jalinan cerita yang bernuansa crime dan dileburkan dengan drama humanis ke dalam frame film. Tema universal ini bisa kita lihat dari beberapa film dimana dirinya terlibat, contohnya saja film ini dan The Town. Kalau dilihat dari Gone Baby Gone dan The Town, keduanya sama-sama memiliki permasalahan mengenai pembelokkan inti kasus. Maksudnya adalah crime scene yang akhirnya membawa orang-orang yg terlibat ke dalam konflik personal. 

Apa yang seketika nge-stuck di otak saya pas nonton film ini adalah, Gone Baby Gone berbicara mengenai "dosa putih". Secara tegas film ini mentidakbenarkan apa itu "dosa putih". Apapun alasannya, setulus apapun faktor orang melakukan tindakan yg merugikan pihak lain, itu nggak bisa dibenarkan. Let me tell the term, evil is "black", whereas good is "white". Coba ambil media pewarna, campur hitam sama putih. Hasilnya nggak bakal jadi putih kan? Sebanyak-banyaknya warna putih yang dicampur, tetep aja warnanya bernuansa dark. So, kejahatan sama kebaikan tuh nggak bisa dicampur. Nggak usah berusaha memperlogis argumen, tetep, buat saya jahat ya jahat. Contoh lain yang mempertegas alasan saya kenapa nggak setuju sama yang namanya dosa putih mungkin soal capital punishment/hukuman mati. Saya orang yang nggak setuju sama cara ini, ngapain ngebunuh orang sejahat apapun dia? Toh, nggak ada guna dan nggak bedanya ngelakuin itu (a.k.a sama-sama kriminal tuh hukum). Mungkin ada yang penasaran apa kaitan masalah "dosa putih" yang saya omongin ini dengan film. *spoiler* Ya lihat aja cara-cara Lionel dan Remy menyusun konspirasi kasus dan menutup-nutupinya seakan mereka innocent. Kenapa caranya harus begitu? Sekotor dan seburuknya orang, bukan hak kita dong untuk merampas hak mereka, apalagi kalau sampai buat konspirasi tertutup seperti di film ini. Sama halnya seperti mereka-mereka yang terlalu meremehkan Helena yang sebenarnya masih punya sisi keibuan, banyak banget loh orang yang kayak mereka. Cuma bisa mandang negatif orang dari satu sisi, nggak bisa bayangin gimana sih tuh orang struggle selama ini. Coba deh kalo mau mencemooh seseorang, bayangin gimana kalo diri lo ada di posisi dia, atau sederhananya gimana kalo dia itu relasi lo? Orang tuh pasti berubah, apapun kondisinya apalagi dalam konteks seorang Helena yang mengalami hal ini. 

Lalu bagaimana dengan divisi akting? Nearly flawless. Ya, nyaris sempurna. Gone Baby Gone beruntung punya pemain-pemain yang bermain dengan sangat baik dan unexpectedly-outstanding. Dimulai dari Casey Affleck yang semakin memperlihatkan acting-maturity nya. Ada juga Michelle Monaghan yang kelihatannya sekilas sebagai tempelan. Awalnya sih emang saya pikir begitu, but, then, ternyata penokohannya disini terbilang menarik dan penting dalam membantu satir yang disampaikan GBG. Nggak seperti kebanyakan film yang murni nempel dia, Michelle disini beruntung diberi karakter yang pas. Karakternya, Angie, digambarkan sebagai wanita yang sedikit keras kepala. Dari awal, Angie sudah terlihat sebagai pembelok (nggak bisa nerima kenyataan). Di awal dia udah nggak setuju dengan keterlibatan dirinya dalam kasus itu, dan di akhir ia jelas-jelas nggak mau nerima kenyataan bahwa konspirasi anak yg terjadi pada Amanda adalah kejahatan. Orang tuh nggak bisa dipaksa untuk berpikir sama seperti apa yang kita pandang. Sayang sekali karakternya kurang ditelusur lebih jauh hingga kadang terkesan tempelan. Satu hal yang membuat crime-drama seperti ini cenderung lebih menarik adalah karakter pendukung yang dibuat sangat menarik perhatian. Disini ada Morgan Freeman yang mencerminkan bagaimana kepolisian bisa juga ternoda oleh masalah humanis, Ed Harris yang mengekslorisasi berbagai sifat pada karakternya, dan yang paling penting adalah Amy Ryan dengan karakternya yang rentan dan suka susah untuk berpendirian. 
Talking point...
Gone Baby Gone harus saya katakan sebagai karya outstanding dari seorang actor-turned-director, Ben Affleck. Salah satu contoh "banting stir" terbaik yang pernah ada, didukung ensemble-cast sempurna dan jalan cerita yang penuh dengan twist.

Rate :
1  2  3  4.5  5

Kamis, 04 Agustus 2011

[Review] X-MEN: FIRST CLASS (2011)

Director Matthew Vaughn
Cast James McAvoy, Michael Fassbender, Jennifer Lawrence
Distributor 20th Century Fox Genre Action, Adventure, Drama

This year is all about Marvel. Tahun 2011 diserbu oleh banyak adaptasi live-action comic yang berebut posisi teratas, dan sekali lagi didominasi oleh comic group terbesar dan termenarik di dunia, Marvel. Kali ini, dengan "X-Men First Class", semua hal yang belum terjawab di empat instalmen sebelumnya coba dijelaskan dengan detail dan seru. Apa saja yang terjadi di proyek superhero yang satu ini?

Marvel dan DC Comics memang nggak asing di telinga jutaan moviegeek khususnya yang gila sama komik. Dua comic-publication-media ini nggak ada bosannya mengeluarkan jagoan mereka masing-masing ke publik. Jagoan Marvel sebut saja superhero semacam Spiderman, X-Men, sampai The Avengers yang didalamnya beranggotakan beberapa superhero gabungan seperti Thor, Iron Man, dll. Sedangkan bagi DC Comics, mereka punya satu jagoan terkenal yang pasti semua orang tahu, siapa lagi kalo bukan Superman. Oiya Batman, Catwoman, dll juga DC Comics loh. Mungkin bagi beberapa orang sulit untuk ngebedain antara superhero DC dan Marvel, tapi menurut gw, kayaknya cerita superhero DC lebih ke feel-dark aja gitu, dibanding Marvel yang lebih fun. Seperti yang udah gw sebut tadi, X-men juga salah satu superhero termahsyur dari Marvel. Setelah sebelumnya diadaptasi ke dalam empat buah film, kali ini muncul lagi film X-Men yang baru, yaitu X-Men First Class. Apa aja yang diceritakan di proyek prekuel ini? Sebagus apa sih film ini dibanding empat predecessor nya?
Mengambil setting waktu sekitar tahun '40-an dan '60-an, di era perang dingin antara Amerika Serikat dan Uni Soviet, X-Men First Class memulai ceritanya. Cerita dimulai dengan prolog childhood yang disajikan bergantian antara Charles Xavier dan Erik Lehnserr (yang nantinya akan dikenal sebagai Professor X dan Magneto). Erik adalah seorang bocah Jewish yang menjadi tawanan di sebuah camp-concentration milik faksi Nazi pada era Perang Dunia II. Saat memaksa untuk dipersatukan dengan ibunya karena keduanya dipisahkan satu sama lain, Erik melampiaskan amarahnya hingga mengeluarkan mutant-power dimana ia bisa menggerakkan dan mengontrol semua benda logam. Melihat hal tersebut seorang ilmuwan kejam asal Auschwitz bernama Sebastian Shaw (Kevin Bacon), memaksa Erik untuk menggerakkan sebuah koin logam, dengan ancaman akan membunuh ibunya apabila ia tak sanggup melakukan hal tersebut. Gagal memenuhi permintaan Shaw, ibu Erik pun ditembak mati dibelakang dirinya, dan seketika kemarahan ia lontarkan dengan mengeluarkan kekuatan mutannya.

Di tempat yang berbeda, si bocah Charles adalah anak dari keluarga kaya raya di New York. Suatu malam tanpa sengaja ia bertemu dengan mutan bernama Raven (Jennifer Lawrence) yang sedang mencari makan di dapurnya. Dari situ mereka mulai berkenalan dan membentuk ikatan kakak-beradik. Dari awal sudah terlihat bagaimana kehidupan Charles dan Erik yang sangat bertolak belakang. Bertahun-tahun kemudian saat mereka dewasa, Charles berubah menjadi profesor hebat dan bekerja sama dengan Moira MacTaggert (Rose Byrne), agen CIA yang sedang menyelidiki eksistensi mutan di Amerika sana. Erik masih menantikan saat yang tepat untuk bertemu Shaw dan membalaskan dendamnya. Dipertemukan oleh persamaan tujuan dan sasaran, Charles dan Erik pun mengumpulkan kekuatan untuk membentuk kelompok mutan yang akan menghadang misi Sebastian Shaw, yang bisa mempengaruhi terjadinya Perang Dunia III. Satu per satu mutan bergabung dengan mereka. Pertempuran mencapai klimaksnya pada krisis Kuba dimana armada Angkatan Laut Amerika Serikat dan Uni Soviet berkonfrontasi di Teluk Babi. Walaupun memiliki tujuan yang sama, tapi perbedaan visi antara Charles dan Erik tidak bisa mempertahankan hubungan satu sama lain.
Jujur, X-Men adalah superhero favorit gw. Menurut gw, X-Men menunjukkan bagaimana sebuah live-action dari komik superhero seharusnya dibikin. X-Men sendiri sebelumnya telah dibuat beberapa film adaptasi. Dari X-Men pertama di tahun 2000 yang terbilang sukses, lalu hadir X2 yang bagus banget, diikuti oleh instalmen final dari trilogi awal yang lumayan bagus. Lalu ada lagi spin-off dari mutan tangguh Wolverine, lewat X-Men Origins: Wolverine di tahun 2009 lalu. Agak ruwet juga sih kalo melihat film-film X-Men yang semuanya muncul di dekade yang sama, dan ditambah First Class yang hadir dengan pernyataan bahwa ini adalah awal dari trilogi yang baru. Ok, dulu gw cukup bingung tapi sekarang udah ngerti lah. According to people says about X2, gw setuju banget. Sekuel pertama itu memang terbukti bagus dan lebih baik dari predecessor-nya sendiri. X-Men 1 dan X2 punya kelebihan di sisi satirnya yang mengedepankan isu rasialisme dan kemanusiaan. Sayangnya semuanya jadi kendor lewat kehadiran X-Men: The Last Stand sebagai final dari trilogi awal tersebut. Menurut gw agak berlebihan juga mendengar kritikkan banyak orang yang berpikiran bahwa Last Stand sangatlah buruk. Nggak kok, bagi gw X-Men: The Last Stand masih bagus, yang pasti minus isu-isu maupun konflik yang tidak seistimewa dua film sebelumnya. Spin-off dari Wolverine lah yang kata gw sangat menurunkan citra dari film-film X-Men itu sendiri. Dibuat dengan kesan buru-buru dan memanfaatkan kesuksesan finansial sangatlah terlihat, alhasil filmnya jadi nggak berkesan.

Melihat kesuksesan X-Men dan X2 baik dari segi finansial maupun respon positif yang membanjir, Bryan Singer sepertinya masih menaruh hati pada proyek instalmen ini. Tidak mau meninggalkan X-Men dan sepertinya mau 'menyembuhkan' banyak kesalahan di The Last Stand dan Wolverine, Singer memutuskan untuk bergabung dalam prekuel ini. Meskipun begitu, ia hanya mampu menduduki posisi produser dan memberikan kursi sutradara ke Matthew Vaughn. Keputusan itu cukup berdalih, ia mengaku tidak mau terlalu direpotkan banyak pekerjaan karena sedang terfokus pada proyek Jack The Giant Killer. Oiya ada yang unik, sutradara yang came-out-as-a-gay ini pada tahun 2006 lalu lumayan sukses menyutradarai film superhero lain yang datang dari 'negeri seberang', yaitu Superman (DC Comics). Lalu apakah X-Men: First Class ini boleh disebut dengan sebutan lain seperti X-Men 5? Tidak. Banyak yang tidak diketahui orang-orang mengenai hal yang satu ini. X-Men 1 sampai X-Men: The Last Stang adalah trilogi tunggal yang terpisah dari dua film berikutnya, baik itu Wolverine maupun First Class. Sedangkan X-Men Origins: Wolverine hanyal proyek spin-off gagal yang ironisnya disarankan oleh Singer sendiri untuk tidak mempedulikan film tersebut (waktu itu saya interviewnya di TotalFilm). Nah, kalau X-Men First Class merupakan instalmen pertama dari proyek trilogi baru yang secara langsung terpisah dari empat film sebelumnya. Dua sekuel sudah dipersiapkan untuk melengkapi trilogi-prekuel ini. Di film X-Men terbaru ini, ada satu hal yang coba dikembalikan, yaitu seragam warna kuning yang digunakan para mutan di komik.

Mari berbicara mengenai isi filmnya. First of all, perlu gw nyatakan bahwa prekuel ini adalah film yang sangat berhasil dalam mengembangkan banyak ekspektasi dan membuang jauh-jauh segala keraguan gw sebelumnya. Dengan cerdas First Class menghadirkan banyak unsur penting seperti yang dimiliki dua film X-Men terdahulu, segi cerita maupun visualisasi. Bicara visualisasi, jangan diremehkan dulu karena yang satu ini memiliki efek visual yang ditata dengan baik berikut editing-sequence yang bagus dan tidak membingungkan. Visual efeknya sendiri nggak 'wah' banget sih, tapi udah layak dikatakan baik apalagi dibantu sound-editingnya yang cukup menggelegar. X-Men memang tidak pernah pusing-pusing untuk memaksimalisir bagaimana sebuah film dapat enjoyable sebatas berkat peran efek visual semata. Melainkan bagaimana orang bisa asik nonton melalui cerita yang nggak sampah dan memiliki banyak isu kuat di dalamnya. Masih sama seperti fim-film sebelumnya, X-Men First Class ini kembali memperdebatkan isu kemanusiaan dan rasialisme. Semuanya disampaikan lewat penggambaran karakter mutan-mutan yang bisa dibilang kasihan. Segala bentuk diskriminasi coba ditentang mereka walaupun kenyataannya sangat sulit mempengaruhi manusia untuk sedikit mengerti. Yang gw dapet adalah jangan bisa menilai dan men-cap seseorang dengan gampangnya tanpa tahu gimana sih mereka suffering selama ini. Kasihan loh melihat mutan-mutan yang nggak tahu kenapa mereka bisa jadi seperti itu malahan ditentang mati-matian oleh manusia. Well, mereka kan nggak minta untuk jadi seperti itu, kenapa harus dianggap jahat? 
Sebenarnya yang menjadi topik utama disini adalah hubungan antara Charles Xavier "Profesor X" dan Erik Lehnsherr "Magneto". Udah bukan rahasia kalau ke depannya mereka justru malah bersaing dan bertarung mati-matian. Ini lah yang mau dijelaskan First Class, apa penyebab dari pertarungan dua sosok penting ini. Ada yang nyadar nggak sih, di film-film X-Men pertama si Magneto sering banget manggil Professor X dengan "Hello, old friend"? Dari conversation pendek itu lah yang jadi cikal bakal gw untuk penasaran ke depannya, emang apa sih yang terjadi di masa lalu? Untungnya semuanya terjawab lewat kehadiran prekuel ini. Gw suka banget melihat perbedaan karakter antara mereka yang dulu dan nantinya. Kalo di masa depan si Professor X digambarkan sebagai sosok yang sangat dingin, beda sekali dengan masa mudanya. Charles dulunya adalah sosok yang cerdas dan bisa dibilang lebih lentur dari masa tuanya. Sedangkan Erik di masa muda tergambar sebagai sosok dingin yang haus dendam, berbeda dengan masa tuanya yang kejam namun tidak serapuh dirinya dahulu. Dua tokoh utama tersebut dimainkan dengan sangat baik oleh duo James McAvoy dan Michael Fassbender. McAvoy memerankan sosok Charles dengan penggambaran yang sempurna lewat sisi karismatis dan terbuka. Sedangkan perhatian justru lebih tertuju ke penampilan Fassbender, yang menurut gw adalah penokohan sekaligus penampilan terbaik dalam film. Sosoknya yang emosional dan terkesan destruktif dibangun sangat baik dengan penjiwaan karakter yang sempurna dan sukses merebut hati gw. Beda banget loh, padahal di X-Men yang dulu gw rada benci sama Magneto. Tapi disini gw kasihan dan suka banget sama wataknya, gw bahkan masih care sampai di saat-saat dia meninggalkan Charles sekalipun.

X-Men: First Class menandai awal berkembangnya pertanyaan cukup membingungkan dari kisah superhero ini; "mana yang baik, mana yang salah". Bagi manusia yang totally nggak tahu bagusnya eksistensi mutan dan menganggap mereka membahayakan, mungkin sah-sah saja mereka begitu, toh mereka kan nggak ngerti. Dan bagi mutan, mereka jelas nggak suka cara manusia memperlakukan mereka yang terang-terangan menolak keberadaan mereka. Skema good vs. evil juga kadang jadi pertanyaan besar dalam X-Men. Ya seperti yang gw tulis tadi, orang kadang bingung mana yang salah mana yang benar. But for me personally, human are totally wrong at this point and should have to apologize to mutants, hahaha. Ada beberapa selingan dialog yang stuck di otak gw dan gw akui bener-bener bagus. First Class memiliki salah satu chemistry terbaik yang pernah ada dari dua tokoh utamanya, yaitu Charles dan Erik. Chemistry mereka berdua adalah faktor utama dalam terdorongnya kesuksesan naskah yang tidak membosankan. Tidak seperti spin-off Wolverine yang lebih terpaku ke konflik fisik antara dua tokoh, disini Matthew Vaughn lebih tertarik untuk menghadirkan konflik verbal dalam pola pikir keduanya yang jelas sangat berbeda. Diluar dendamnya karena sang ibu dibunuh oleh Shaw, Erik memiliki pandangan kokoh yaitu manusia adalah rival semua mutan dan harus dihancurkan. Sedangkan Charles Xavier masih yakin mutan bakal diterima manusia dan mau membantu pemerintahan. Bentrok ideologi mungkin terlihat dengan jelas di ending film, tapi sesungguhnya konflik antara dua orang ini sudah terjadi dari awal film. Gw suka sama dua quote yang secara gamblang memperlihatkan perbedaan antara mereka. Yang pertama adalah perkataan Charles, "Killing will not bring you peace.", lalu statement Erik yang sudah terlihat kokoh, "Tomorrow, mankind will know that mutants exist. They will fear us, and that fear will turn to hatred."

Selain dua karakter terdepan di atas, masih ada beberapa mutan yang turut meramaikan X-Men: First Class ini. Yang paling saya suka adalah karakter Raven a.k.a Mystique dan Hank a.k.a Beast yang keduanya sama-sama dilematis. Mystique dan Beast memiliki penampilan yang mencolok dibanding yang lain. Kalau di tiga film X-Men pertama sosok Mystique hanya bisa dilihat lewat tubuh biru nya, disini semua bisa melihat penampilan luar lainnya yang terlihat seperti manusia. Begitu pula dengan Beast. Dua sosok 'biru' disamping diperankan dengan baik oleh Jennifer Lawrence dan Nicholas Hoult, dimana karakter mereka awalnya nggak percaya diri sama diri mereka yang agak menakutkan, tapi pada akhirnya sanggup menerima. Suka banget sama  “Mutant and proud” yang mempertajam isu rasial atau diskriminasi yang mereka hadapi. Selain mereka masih ada beberapa mutan lain yang nggak kalah unik. Sebut saja Havok (Lucas Till) yang mampu membelah apapun dengan laser merah yang keluar dari tubuhnya. Mirip Cyclops kan? Nggak usah bingung, karena dalam komik Havok adalah ayah dari Cylops. Ada Banshee (Caleb Landry Jones) yang memiliki suara supersonik yang memekakkan telinga, lalu Angel (Zoe Kravitz), seorang stripper yang bisa terbang dan mengeluarkan ludah api. Di kelompok villain, ada Sebastian Shaw yang mampu menyerap energi dan menggunakannya. Ada Emma Frost (January Jones), si ahli telepati yang bisa berubah bentuk menjadi kristal. Jangan bingung kalo pernah lihat Frost di X-Men: The Last Stand, karena keduanya adalah orang yang berbeda. Masih di sisi villain, ada Azazel si setan merah dan Riptide si storm-maker, yang sangat disayangkan keduanya bagaikan tempelan karena tidak ada satupun cerita dan dialog disodorkan bagi mereka. Masih ada satu mutan lagi yang mati lebih dulu, tapi saya lupa. Oiya, nggak ketinggalan Moira MacTaggert, anggota CIA yang turut bekerja sama dalam menjalankan visi dan misi Charles. 
Talking point...
Bromance oh bromance. X-Men: First Class semakin memperkuat rasa cinta saya pada semua film X-Men. Awal dari trilogi-prekuel yang menakjubkan, didukung oleh chemistry antar semua cast yang terjalin dengan sangat kuat. Jangan lupakan ending film yang 100% mengharukan, gw aja sampai merinding. I think X-Men First Class is the best of the five xmen films, at this point, the best film of 2011 (so far).

Rate :
1  2  3  4  5

Senin, 01 Agustus 2011

[Review] FLIPPED (2010)

Director Rob Reiner Cast Callan McAuliffe, Madeline Carol, Rebecca De Mornay
Distributor Warner Bros. Pictures Genre Drama, Comedy, Romance


Rob Reiner mungkin termasuk satu dari sekian banyaknya sutradara terbaik yang paling terkenal. Tidak hanya itu, layaknya beberapa sutradara yang memiliki gaya atau ciri khas sendiri dalam berkarya, Reiner juga punya keunikkan sendiri dalam membuat film-filmnya. Ya, coming-of-age story merupakan gaya bercerita yang seringkali diterapkan Reiner dalam beberapa filmnya. Siapa sih yang nggak tahu Stand By Me? (pasti ada lah). Film klasik '80-an yang layak dicap sebagai masterpiece seorang Rob Reiner. Tidak hanya berkutat seputar coming-of-age saja, Reiner tidak jarang menawarkan tontonan keluarga atau romansa. Walaupun begitu, tetap saja semua karya Reiner sepertinya terlihat sama yaitu memiliki nuansa warm dan memikat.
Bersettingkan tahun '60-an, Bryce Loski (Callan McAuliffe) adalah bocah enam tahun yang baru saja pindah bersama keluarganya di sebuah perumahan. Di depan rumahnya, tinggal anak bernama Juli Baker (Madeline Carol), gadis belia seumuran Bryce yang membuat Bryce agak ilfeel. Bagaimana tidak, Jodi yang keadaan ekonomi keluarganya jauh dibawah Bryce seketika minta berkenalan dengannya dan kemudian langsung jatuh cinta. Bryce sangat terganggu oleh tingkah laku Juli tersebut. Belum selesai sampai disitu, Bryce kembali dibayang-banyangi oleh gadis tersebut kala mendapati ia satu kelas dengannya. Memasuki usia 11 tahun, Juli masih belum tobat untuk membuat Bryce ilfeel. Juli terus mengikuti kemanapun Bryce pergi.

Merasa muak dengan apa yang ia alami selama ini, Bryce terpaksa memacari gadis terkenal di sekolahnya dan jelas hal ini membuat Juli kesal dan lambat laun jadi patah semangat. Walaupun hubungannya dengan gadis itu berakhir dengan konyol, paling tidak berhasil membuat Juli menghindar dan melegakan Bryce. Tapi Juli tetap menunjukkan perhatiannya kepada Bryce dengan memberikan telur hasil ternaknya secara rutin. Miris, keluarga Bryce takut mengkonsumsi telur tsb karena takut bervirus. Tidak mau menyinggung perasaan Juli, Bryce tetap menerima telur dan lebih memilih untuk membuang ke tempat sampah hingga akhirnya tertangkap basah oleh Juli. Karena tindakan Bryce, Juli berusaha untuk menjauhi Bryce, walau faktanya susah untuk dilakukan dan ia memang masih suka. Apa yang terjadi setelahnya adalah Flipped (terbalik). Bryce diam-diam juga suka Juli dan mengejarnya untuk minta maaf. Perlahan, mereka menyadari apa yang mereka cari selama ini dan apa yang harus dilakukan to get it right.
Satu ciri khas penting dalam film-film Rob Reiner adalah seringnya ia menyisipkan scene-scene bernuansa tenang dan heartwarming. Meskipun begitu, kekhasan ini tetap Reiner sejajarkan dengan tema yang ia bawakan dan pesan yang mau ia sampaikan ke penonton (yang seringkali bernafas kekeluargaan). Dan kali ini lewat sajian coming-of-age, Reiner mengedepankan sebuah pertanyaan: bagaimana perbedaan bisa mempengaruhi perubahan seseorang? Yang kali ini kehidupan tumbuh dewasa ia jadikan contoh. Coming-of-age memang salah satu jenis film yang saya suka dan mudah untuk disukai. Film-film seperti ini biasanya memperlihatkan pentingnya kehidupan masa kecil yang dipenuhi perasaan labil dan sering banget dilupakan, padahal mestinya bisa dijadikan pedoman dan pelajaran.

Dan ada satu hal yang paling unik dari Flipped, yaitu dipakainya dua sudut pandang berbeda melalui perspektif Bryce dan Juli (him and her). Jangan kaget pas nonton film ini anda menemukan banyak scene yang diulang, dan jangan ngira dvd yang ditonton rusak hingga di-rewind segala hahaha. Flipped bisa dibilang berkesan repetitif yang sangat kental dalam membawakan alur cerita. Satu peristiwa bisa diulang dua kali dengan sudut pandang yang berbeda. Saya beri contoh, coba bayangkan si A menabrak si B, lalu si A merasa sangat bersalah dan mengira si B marah besar. Dan ternyata, si B menganggap hal itu sepeleh a.k.a not a big deal to think about. Beda pemikiran kan? Inilah yang sangat saya sukai dari Flipped. Kayaknya don't judge a book by its cover bisa dijadikan alasan Rob Reiner untuk memilih cara repetitif seperti ini. Jangan terlalu yakin dengan apa yang orang utarakan, sebagus atau sejelek apapun yang mereka omongin. Toh nggak ada yang tahu isi hati orang kan? Orang bisa aja munafik. Flipped meyakinkan pemikiran bahkan ketakutan Bryce dalam satu peristiwa tidak tentu benar. Lewat perspektif kedua, yaitu Juli (bisa dituker tergantung perspektif siapa yang duluan muncul), ternyata perbedaan pemikiran terjadi diantara keduanya. Tidak hanya itu, Flipped juga menasihati orang untuk terbuka dan jangan menyimpan suatu masalah/dendam/ketakutan, keluarkan saja semua itu dan pasti masalah selesai kan. Itulah yang Bryce dan Juli tidak lakukan di awal, tapi pada akhirnya mampu mereka fix.

Masih banyak hal satir lainnya di dalam Flipped. Diantaranya masalah keluarga yang lagi-lagi berkutat seputar perbedaan satu sama lain. Ya, sebagian besar yang Flipped singgung adalah perbedaan. Banyak sekali hal kecil yang disusun dengan sempurna. Ayah Bryce adalah contoh dari sebuah ketakutan akan tercermarnya nama baik dan ironisnya ia jaga hal itu dengan kesombongan dan kemunafikan. Sekali lagi, don't judge a book by its cover, harus ditekankan pada karakter ayah Bryce disini. Diluar hal negatif yang disudutkan pada karakternya, ayah Bryce memiliki sebuah cara untuk menutupi kelemahan dan berusaha untuk menunjukkan apa yang ia punya (walau tetap ironis). Ia bukan ciri bapak yang membela, tapi menutupi. Apapun kejelekkan keluarganya hanya bisa ia tutupi (lihat scene meja makan pas mereka membicarakan instrument-interest). 

Flipped beruntung memiliki dua karakter sentral yang dimainkan dengan baik oleh Callan McAuliffe dan Madeline Carol. Sebuah kesenangan tersendiri bagi saya untuk menonton Flipped, yang pasti karena dua bintang remaja ini. Kesan warm dan delightful sebagian besar timbul dari penampilan mereka. Ya, cara mereka memainkan karakter Bryce dan Juli mempelajari masalah dengan teliti dan menghargai, bahkan discreet-love satu sama lain merupakan joy of watching Flipped. Trust me (it works -_-), pandangan orang terhadap dua karakter ini pasti sangat berbeda dari mereka di opening dan ending. Sinematografi dan editing yang sangat amat warm juga menjadi kepuasan sendiri untuk menonton film ini. Flipped tidak memiliki tema berat bahkan peristiwa atau kejadian yang bisa menggoncang perasaan saat menonton. Instead, Flipped lebih memilih untuk membantu orang-orang berpikir lebih luas dan tegas tentang humanity lewat "masa kecil" yang simple dari Bryce dan Juli. 
Talking point...
Flipped is a movie about a kid becoming a man. Dikemas sederhana dengan hasil yang loveable dan mengundang senyum paska menonton. Dibantu oleh divisi akting yang sama menyenangkan dan baiknya, termasuk para aktor dewasa yang turut membantu pembentukan sisi emosional dalam cerita, ini adalah ajang nostalgia seorang Rob Reiner yang memuaskan bagi saya. Oh iya, ada Rebecca De Mornay yang main di Risky Business loh di film ini.


Rate :
3.5 out of 5