infolinks

Tampilkan postingan dengan label Comedy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Comedy. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 November 2011

[Short Review] THE HELP & CONTAGION (2011)

Sejauh ini ada satu film berensemble cast terbaik yang saya kagumi; The Social Network. Didukung oleh kombinasi cerita, directorial, dan sisi teknikal film lainnya. Hadirnya para aktor yang sebelumnya tidak terlalu dipertimbangkan mengisi jajaran pemain di ensemble cast yang out of ordinary. Alhasil bisa dibilang yang didapat adalah ‘born to be rising star’ bagi semua aktor tersebut yang ikut berperan di departemen akting film David Fincher tersebut. Tahun ini ada banyak film embel-embel ensemble cast of the year, kali ini adalah The Help dan Contagion. Dua film yang termasuk terbaik tahun ini.

THE HELP
Director Tate Taylor Writer Tate Taylor
 Cast Emma Stone, Bryce Dallas Howard, Viola Davis, Octavia Spencer
Distributor Dreamworks SKG Genre Drama, Comedy

Diangkat dari buah pena Kathryn Sockett berjudul sama, The Help mengangkat isu rasialisme di era 1960-an ke dalam balutan drama komedi. Dengan Jackson, Mississippi yang terkenal akan its summer’s heat sebagai settingnya, Skeeter Phelan (Emma Stone) adalah ‘would-be-writer’ kalangan kaya raya dan berbeda dari sebagian teman rasisnya. Pada zaman itu, kaum hitam banyak bekerja sebagai 'maid' atau pembantu. Skeeter  meyakinkan dua maid untuk diam-diam berkerja dengannya dalam penulisan buku mengenai kaum hitam. Penulisan buku itu pun membuka pintu besar bagi perubahan kedua pihak; langkah meraih persamaan rasial, dan juga pencapaian publishing buku tersebut berikut dengan karir si Skeeter sendiri.

The Help mengambil settingan waktu pada masa pergolakan sosial waktu itu. Naskahnya berkonsentrasi pada konflik ‘same but different’ antar dua individu dengan maksud menyederhanakan cerita untuk berikutnya bisa dikembangkan sendiri dalam ruang lingkup yang lebih besar. The Help tidak memiliki jalan cerita yang bersifat lecture berkaitan dengan kesederhanaannya. Kekuatan The Help justru datang dari karakterisasi jajaran cast yang sempurna. Walaupun bukan the real star di sini, Emma Stone dengan baik menekankan semangat seorang wanita sebagai seorang leader (ada hubungannya dengan emansipasi mungkin?). Bryce Dallas Howard sedikit lebih baik sebagai antagonis yang insensitive. Dua scene-stealer adalah Octavia Spencer dan Jessica Chastain yang memberikan unsur komikal dan tetap memiliki adegan kuat tersendiri – misalnya perang pie Hilly vs Minny, saat Minny dipecat karena menggunakan toilet Hilly, dan juga ketika Celia ditolak Hilly, cs. secara menyakitkan. Viola Davis adalah bintang disini, dengan penampilannya yang sangat emosional. Penampilannya yang mendominasi buzz bagi film ini menjadi titik kebingungan; apakah dia leading actress atau hanya sebagai supporting role? The Help merupakan salah satu bintang besar di summer 2011. Dan kemungkinan besar akan maju sebagai frontrunner bidang performances di award season nanti. At least please give Davis another nomination, and I hope for Spencer also. Ingat waktu pertama kali Davis mendapat Oscar buzz karena posisinya sebagai ‘scene-stealer’ di Doubt?

Rate : 1 2 3 4½ 5

CONTAGION
Director Steven Soderbergh Writer Scott Z. Burns
 Cast Matt Damon, Kate Winslet, Jude Law, Marion Cotillard
Distributor Warner Bros. Pictures Genre Drama, Thriller

Contagion memiliki judul yang dengan cepat merasuki dan menyebar di pikiran saya, apa yang akan menular di film ini; entah itu virus penyakit atau hal supernatural mustahil yang biasanya terlihat menjijikkan. Lupakan zombie, alien, atau apakah itu yang ada dipikiran anda, karena Contagion berbicara mengenai instrumen ketakutan baru yang lebih real dan mewabah di 60% belahan bumi. Beth Emhoff (Gwyneth Paltrow) baru saja pulang dari Hong Kong dan bertemu dengan sang suami, Mitch (Matt Damon) serta dua anaknya di Minneapolis. Beth yang terlihat lemah seketika jatuh di dapur, mulut mengeluarkan busa, dan meninggal dengan cara yang menakutkan. Kematiannya yang disebabkan virus yang diprediksi berasal dari kelelawar mengundang reaksi besar di berbagai negara, setelah virus itu menginfeksi jutaan manusia lainnya.

Contagion punya banyak nama besar didalamnya, selain dua nama diatas, ada juga Kate Winslet, Marion Cotillard, Jude Law, sampai John Hawkes yang tidak menonjol. Sepanjang durasi, Contagion mengalir dengan kecepatan dan konsentrasi yang mengerikan. Ceritanya sendiri dibuat se-real mungkin dengan menambahkan segala teori biologikal rumit dalam pembahasannya. Contagion sedikit membuat saya paranoid akan kebersihan di sarana publik. Contagion juga membangkitkan memori lama akan awal-awal munculnya virus HIV, Ebola, flu babi, etc. yang diselimuti ketidakberdayaan manusia. Ini adalah well-made film yang mendekati sempurna, dengan naskah yang pintar dan penampilan jajaran cast yang baik. Tidak ada yang menonjol disini, semua aktor bermain secara equal sesuai porsinya masing-masing. Definitely one of this year’s bests, and I’m currently considering this to be one of my top10 list later. Satu hal teknikal yang mengundang Oscar buzz lumayan besar adalah scoring ciptaan Cliff Martinez yang merangsang dan buat merinding. Sebelumnya ia juga menangani scoring untuk The Lincoln Lawyer dan Drive.

Rate : 1 2 3 4½ 5

Senin, 01 Agustus 2011

[Review] FLIPPED (2010)

Director Rob Reiner Cast Callan McAuliffe, Madeline Carol, Rebecca De Mornay
Distributor Warner Bros. Pictures Genre Drama, Comedy, Romance


Rob Reiner mungkin termasuk satu dari sekian banyaknya sutradara terbaik yang paling terkenal. Tidak hanya itu, layaknya beberapa sutradara yang memiliki gaya atau ciri khas sendiri dalam berkarya, Reiner juga punya keunikkan sendiri dalam membuat film-filmnya. Ya, coming-of-age story merupakan gaya bercerita yang seringkali diterapkan Reiner dalam beberapa filmnya. Siapa sih yang nggak tahu Stand By Me? (pasti ada lah). Film klasik '80-an yang layak dicap sebagai masterpiece seorang Rob Reiner. Tidak hanya berkutat seputar coming-of-age saja, Reiner tidak jarang menawarkan tontonan keluarga atau romansa. Walaupun begitu, tetap saja semua karya Reiner sepertinya terlihat sama yaitu memiliki nuansa warm dan memikat.
Bersettingkan tahun '60-an, Bryce Loski (Callan McAuliffe) adalah bocah enam tahun yang baru saja pindah bersama keluarganya di sebuah perumahan. Di depan rumahnya, tinggal anak bernama Juli Baker (Madeline Carol), gadis belia seumuran Bryce yang membuat Bryce agak ilfeel. Bagaimana tidak, Jodi yang keadaan ekonomi keluarganya jauh dibawah Bryce seketika minta berkenalan dengannya dan kemudian langsung jatuh cinta. Bryce sangat terganggu oleh tingkah laku Juli tersebut. Belum selesai sampai disitu, Bryce kembali dibayang-banyangi oleh gadis tersebut kala mendapati ia satu kelas dengannya. Memasuki usia 11 tahun, Juli masih belum tobat untuk membuat Bryce ilfeel. Juli terus mengikuti kemanapun Bryce pergi.

Merasa muak dengan apa yang ia alami selama ini, Bryce terpaksa memacari gadis terkenal di sekolahnya dan jelas hal ini membuat Juli kesal dan lambat laun jadi patah semangat. Walaupun hubungannya dengan gadis itu berakhir dengan konyol, paling tidak berhasil membuat Juli menghindar dan melegakan Bryce. Tapi Juli tetap menunjukkan perhatiannya kepada Bryce dengan memberikan telur hasil ternaknya secara rutin. Miris, keluarga Bryce takut mengkonsumsi telur tsb karena takut bervirus. Tidak mau menyinggung perasaan Juli, Bryce tetap menerima telur dan lebih memilih untuk membuang ke tempat sampah hingga akhirnya tertangkap basah oleh Juli. Karena tindakan Bryce, Juli berusaha untuk menjauhi Bryce, walau faktanya susah untuk dilakukan dan ia memang masih suka. Apa yang terjadi setelahnya adalah Flipped (terbalik). Bryce diam-diam juga suka Juli dan mengejarnya untuk minta maaf. Perlahan, mereka menyadari apa yang mereka cari selama ini dan apa yang harus dilakukan to get it right.
Satu ciri khas penting dalam film-film Rob Reiner adalah seringnya ia menyisipkan scene-scene bernuansa tenang dan heartwarming. Meskipun begitu, kekhasan ini tetap Reiner sejajarkan dengan tema yang ia bawakan dan pesan yang mau ia sampaikan ke penonton (yang seringkali bernafas kekeluargaan). Dan kali ini lewat sajian coming-of-age, Reiner mengedepankan sebuah pertanyaan: bagaimana perbedaan bisa mempengaruhi perubahan seseorang? Yang kali ini kehidupan tumbuh dewasa ia jadikan contoh. Coming-of-age memang salah satu jenis film yang saya suka dan mudah untuk disukai. Film-film seperti ini biasanya memperlihatkan pentingnya kehidupan masa kecil yang dipenuhi perasaan labil dan sering banget dilupakan, padahal mestinya bisa dijadikan pedoman dan pelajaran.

Dan ada satu hal yang paling unik dari Flipped, yaitu dipakainya dua sudut pandang berbeda melalui perspektif Bryce dan Juli (him and her). Jangan kaget pas nonton film ini anda menemukan banyak scene yang diulang, dan jangan ngira dvd yang ditonton rusak hingga di-rewind segala hahaha. Flipped bisa dibilang berkesan repetitif yang sangat kental dalam membawakan alur cerita. Satu peristiwa bisa diulang dua kali dengan sudut pandang yang berbeda. Saya beri contoh, coba bayangkan si A menabrak si B, lalu si A merasa sangat bersalah dan mengira si B marah besar. Dan ternyata, si B menganggap hal itu sepeleh a.k.a not a big deal to think about. Beda pemikiran kan? Inilah yang sangat saya sukai dari Flipped. Kayaknya don't judge a book by its cover bisa dijadikan alasan Rob Reiner untuk memilih cara repetitif seperti ini. Jangan terlalu yakin dengan apa yang orang utarakan, sebagus atau sejelek apapun yang mereka omongin. Toh nggak ada yang tahu isi hati orang kan? Orang bisa aja munafik. Flipped meyakinkan pemikiran bahkan ketakutan Bryce dalam satu peristiwa tidak tentu benar. Lewat perspektif kedua, yaitu Juli (bisa dituker tergantung perspektif siapa yang duluan muncul), ternyata perbedaan pemikiran terjadi diantara keduanya. Tidak hanya itu, Flipped juga menasihati orang untuk terbuka dan jangan menyimpan suatu masalah/dendam/ketakutan, keluarkan saja semua itu dan pasti masalah selesai kan. Itulah yang Bryce dan Juli tidak lakukan di awal, tapi pada akhirnya mampu mereka fix.

Masih banyak hal satir lainnya di dalam Flipped. Diantaranya masalah keluarga yang lagi-lagi berkutat seputar perbedaan satu sama lain. Ya, sebagian besar yang Flipped singgung adalah perbedaan. Banyak sekali hal kecil yang disusun dengan sempurna. Ayah Bryce adalah contoh dari sebuah ketakutan akan tercermarnya nama baik dan ironisnya ia jaga hal itu dengan kesombongan dan kemunafikan. Sekali lagi, don't judge a book by its cover, harus ditekankan pada karakter ayah Bryce disini. Diluar hal negatif yang disudutkan pada karakternya, ayah Bryce memiliki sebuah cara untuk menutupi kelemahan dan berusaha untuk menunjukkan apa yang ia punya (walau tetap ironis). Ia bukan ciri bapak yang membela, tapi menutupi. Apapun kejelekkan keluarganya hanya bisa ia tutupi (lihat scene meja makan pas mereka membicarakan instrument-interest). 

Flipped beruntung memiliki dua karakter sentral yang dimainkan dengan baik oleh Callan McAuliffe dan Madeline Carol. Sebuah kesenangan tersendiri bagi saya untuk menonton Flipped, yang pasti karena dua bintang remaja ini. Kesan warm dan delightful sebagian besar timbul dari penampilan mereka. Ya, cara mereka memainkan karakter Bryce dan Juli mempelajari masalah dengan teliti dan menghargai, bahkan discreet-love satu sama lain merupakan joy of watching Flipped. Trust me (it works -_-), pandangan orang terhadap dua karakter ini pasti sangat berbeda dari mereka di opening dan ending. Sinematografi dan editing yang sangat amat warm juga menjadi kepuasan sendiri untuk menonton film ini. Flipped tidak memiliki tema berat bahkan peristiwa atau kejadian yang bisa menggoncang perasaan saat menonton. Instead, Flipped lebih memilih untuk membantu orang-orang berpikir lebih luas dan tegas tentang humanity lewat "masa kecil" yang simple dari Bryce dan Juli. 
Talking point...
Flipped is a movie about a kid becoming a man. Dikemas sederhana dengan hasil yang loveable dan mengundang senyum paska menonton. Dibantu oleh divisi akting yang sama menyenangkan dan baiknya, termasuk para aktor dewasa yang turut membantu pembentukan sisi emosional dalam cerita, ini adalah ajang nostalgia seorang Rob Reiner yang memuaskan bagi saya. Oh iya, ada Rebecca De Mornay yang main di Risky Business loh di film ini.


Rate :
3.5 out of 5

Minggu, 19 Juni 2011

Missed Ones in Early 2011 - Pt. 1

Tahun 2011 mungkin akan terus diingat, apalagi dengan peristiwa awal tahun-nya yang sangat mengagetkan para moviegoer bahkan semua orang yang suka nonton dan nunggu film-film baru muncul. Eits, hanya di Indonesia loh. Siapa sih yang nggak tahu masalah itu, film luar nggak bisa masuk Indonesia karena sekelumit masalah pajak yang sepertinya belum ditemukan jalan keluar yang bisa nguntungin dua pihak, yaitu pihak perpajakkan Indo sama MPAA. Yap, masalahnya kan emang langsung pada pihak MPAA, yang menjadi payung bagi enam penyalur film terbesar di Hollywood sana yang gemar menyodorkan banyak film bagus apalagi yang bernafas blockbuster.

Kadang suka sedih jadi masyarakat Indo, hmm, kadang udah nggak ngerti deh gimana cara menjalankan nasionalisme dan patriotisme (?). Oke keluar jalur kan. Meskipun nggak bisa nonton film-film luar yang paling ditunggu, tetep aja ada satu jalan pintas paling menyenangkan. Dvd bajakan dan download!! Hahaha, berikut lima film rilisan awal tahun 2011 yang pada akhirnya berhasil saya tonton. Masih ada banyak lagi sih, nanti saya posting-in sisanya. Lima dibawah ini termasuk film-film yang tergolong memuaskan/cukup bagus/keren, berikutnya akan saya post yang surprisingly bad.

THE ADJUSTMENT BUREAU
Director George Nolfi
Cast Matt Damon, Emily Blunt, Terence Stamp, Anthony Mackie
Distributor Universal Pictures
Genre Sci-Fi, Drama, Romance, Thriller
Release Date 4 March 2011 
Rate 3 out of 5
Mungkin Matt Damon belum bisa lepas dari bayang-bayang Bourne Trilogy-nya sehingga terlihat pasti mau banget menerima job membintangi film yang satu ini, The Adjustment Bureau. Diadaptasi dari cerita pendek berjudul The Adjustment Team, David Norris (Matt Damon) adalah politisi yg gagal mendapat kursi senator setelah dikalahkan rival kampanye-nya. Di saat-saat paska kekalahannya, secara tidak sengaja ia bertemu dgn seorang balerina bernama Elise (Emily Blunt). Di masa2 keduanya semakin dekat, hubungan mereka terancam oleh komplotan pria bertopi yang menganggap diri mereka sebagai agen takdir dan berusaha memisahkan David-Elise dgn alasan mereka keluar jalur dari takdir yang telah digariskan. Duduk di kursi sutradara, George Nolfi menjadikan The Adjustment Bureau sebagai debut karir penyutradaraannya yg pertama kali, setelah sebelumnya banyak menulis naskah u/ film-film sejenis seperti The Bourne Ultimatum dan Ocean's Twelve. Hmm, The Adjustment Bureau sendiri bukanlah sesuatu yg baru kalau dilihat sekilas. Kejar-kejaran, penguntit misterius, dll, mungkin hal yang sering dijumpai dalam film-film layaknya franchise Bourne dan Ocean's. Tapi melihat isi ceritanya sendiri, The Adjustment Bureau sedikit dibikin beda lewat pengembanan unsur sci-fi yang di-pak tidak berlebihan dan tetap "menghormati" banyak unsur lainnya seperti drama-romans itu sendiri. 

Menyinggung masalah George Nolfi yg menjadikan ini sebagai debut-nya, hasil adaptasi ini tergolong sebuah proyek yang berhasil mencapai garis kepuasan, tidak berarti sukses. Dengan mem-"blender" banyak genre ke dalamnya, semuanya berbaur dengan tidak berantakkan. Misalnya dari drama-romans yang selalu diberikan jatah tersendiri untuk mereka menikmati timingnya, lalu seketika disodorkan intens ketegangan lewat konflik antara agen takdir dan David Norris yang sebenernya pro-kontra, tidak ketinggalan lumayan banyaknya singgungan politik dan masalah kebimbangan dalam menentukkan tujuan hidup. Untung saja semuanya diatur dengan seimbang, walaupun kadang saya agak dikecewakan oleh minim-nya kejar-kejaran yang jarang muncul. The Adjustment Bureau sendiri masih memiliki banyak hal klise dimana-mana, contohnya fakta tiga tahun terpisahnya si David dan Elise. Agak ganjil loh dalam waktu sebegitu lama mereka nggak pernah ketemu sekalipun, okelah tau itu kota gede, tapi bukannya mereka suka pergi di jalur yang sama? Saya aja susah untuk nggak bisa "kebetulan ketemu" sama orang yang pernah ditemui. Hmm, selain itu, saya jg mendapati banyak hal yang harusnya bisa dilakukan para agen takdir untuk mencegah David, tapi nyatanya mereka nggak mampu, apalagi kalau disangkut-pautkan dengan ability yang mereka punya. So, kalau kata saya, film ini termasuk karya yang tergolong biasa. Nggak "wah", dan nggak "wooo". Oiya saya agak ngerasain sensasi Eagle Eye dicampur Butterfly Effect pas nonton The Adjustment Bureau!

LIMITLESS
Director Neil Burger
Cast Bradley Cooper, Abbie Cornish, Robert De Niro, Andrew Howard
Distributor Relativity Media
Genre Sci-Fi, Thriller
Release Date 8 March 2011 
Rate 2.5 out of 5
Setelah karirnya ngelonjak sejak Hangover-nya yang asli lucu tapi menurut saya orang-orang menanggapi agak berlebihan, Bradley Cooper sepertinya tambah naik lewat banyak film ber-script biasa tapi punya tingkat hiburan yang nggak terbantahkan. Kali ini di Limitless, lagi-lagi film yang jual muka tajamnya yang mencolok, Bradley Cooper memerankan seorang penulis yang sedang kelabakan dikejar deadline nulis. Tampang berantakan, hidup semrawut, sampai keadaan ekonomi yang terlihat cukup-cukupan jadi berubah drastis saat ia ketagihan mengkonsumsi NZT-48, sebuah "pil superhero" rujukan mantan adik-ipar nya yang bentuknya mini-bening. To the point aja, Limitless ngebosenin. Nggak berarti sampah, tapi alurnya sukses buat saya terobsesi untuk mendorong tubuh saya segera menggapai empuknya tempat tidur di sebelah ruangan tv. Premisnya sih menarik, berhasil buat saya penasaran dari awal tahun. Harapan saya tuh bisa melihat  tontonan yang saya kira sci-fi pinter, eh ternyata semua hal yang diceritakan terlalu ngasih fokus berat ke gimana karakter Bradley dari suffer-happy-struggle-dying. 

Saya sendiri tidak ngerti obat macam apa yang bisa ngubah pola pikir sampai pola hidup seseorang kayak di film ini, emang sih udah dijelasin, tapi tetep nggak logic aja gitu. Oke, namanya film,pasti fiksi, nggak logic, so buang aja akal pikir sehat kita bukan? Tapi anehnya udah tau Limitless sajian sci-fi yang didalamnya punya premis yang bener2 fantasi, tapi kenapa malah dilingkupin cerita yang ngarah ke arah problema kehidupan. Alhasil saya bertanya, "ini film mau nusuk arti penting dari kata humanis, ato mau semrawutin otak saya dengan misteri pil yang less-explained itu? Well, sekali lagi, nggak sampah kok. Tapi kalo disebut film pintar ya nggak bisa, kalo mau tepat anggap aja ini menghibur. Bradley, hmm, main cukup bagus. Ada karakter yang nggak penting disini, Robert DeNiro! Eits salah, karakternya sih nggak bisa dibilang nggak penting, tapi munculnya nama DeNiro sangatlah nggak penting. Hey, kenapa nggak kontrak aktor kelas C aja yang mungkin bisa lebih ngidupin karakter-nya DeNiro yang muncul kadang2 tsb. Hemat biaya dong! Aneh banget ngeliat nama DeNiro ikutan nampang di poster. Lagian nggak ngaruh kok sama arah cerita.  

HANNA
Director Joe Wright
Cast Saoirse Ronan, Eric Bana, Cate Blanchett, Tom Hallander
Distributor Focus Features
Genre Action, Crime, Thriller
Release Date 8 April 2011 
Rate 3.5 out of 5
Jarang rasanya untuk menemukan film bernyawa kuat di musim-musim awal tahun. Biasanya di masa caturwulan pertama dalam satu tahun, kebanyakan film yang beredar bisa dibilang sebagai penyejuk atau pemanasan untuk menunggu hadirnya film2 summer/blockbuster. Seperti yg saya bilang tadi, "jarang", berarti belum tentu "tidak ada". Nah, di tengah kejarangan tersebut, di tahun 2011 terhitung ada beberapa penyejuk yang saya maksud. Selain Source Code yang mengejutkan itu, ada Hanna yang rilis bulan April lalu. Bercerita mengenai Hanna (Saoirse Ronan), gadis tangguh yang hidup bersama sang "ayah", Eric Heller (Eric Bana) di tengah hutan terpencil daerah kutub. Hanna dilatih ayahnya sedari kecil layaknya militer, segala macam kekuatan fisik, otak, dan psikis disodori ayahnya untuk sesuatu yang pada dasarnya tidak terlalu dimengerti oleh Hanna hingga suatu saat ia dan sang ayah harus berpisah demi menjalani misi revenge pada musuh bebuyutan mereka, Marissa Wiegler (Cate Blanchett). Hmm, Joe Wright mungkin lebih terkenal dengan film2 melodrama-nya, misalnya Atonement yang turut dibintangi si "Hanna". Menilik track-record nya yang kelihatan lebih berfokus pada satu genre saja, Wright terbilang berhasil mengeksploitasi keberaniannya untuk tampil beda lewat Hanna ini. 

Dari awal sampai film berakhir, ada dua hal yang saya rasa memiliki similarity terhadap apa yang ditawarkan dalam film ini. Dengan karakternya yang "buta dunia", Hanna seakan mengingatkan saya terhadap film The Island thn 2005 lalu. Dan dengan sosok gadis tangguh yang dicap pada diri Hanna ini, sosok Hit-Girl lah yang pertama kali tercetus dalam pikiran saya. Sepertinya terlalu "munafik" bagi orang untuk berusaha menolak fakta adanya kesamaan antara dua karakter ini. Sebagai penyejuk di cawu awal tahun 2011, Hanna adalah suguhan yang menarik. Film ini beruntung memiliki isi yang di-pak sebegitu lengkap tanpa menimbulkan kesan berantakan. Pertama yang pasti penampilan ketiga tokoh sentral, ada Saoirse yang main gesit luar-dalam dan meyakinkan ketangguhannya lewat tatapan dingin menipunya tsb, ada juga Eric Bana yang hmm, yang walau tidak se-"pria" Hanna tapi tetap menaikkan tensi emosi dalam cerita, dan yang terakhir adalah Cate Blanchett beserta Tom Hallander sbg antagonis yg sukses membuat saya antipati. Unsur kedua yang menjadi kekuatan film ini adalah diaturnya shot demi shot kamera yang memiliki arti sendiri dari tiap adegannya, mungkin untuk menekankan detil kejujuran dari revenge dalam cerita. Semuanya berbaur jadi satu dengan rapi dan lebih mengesankan lewat scoring yang asik dan tidak se-seram ceritanya sendiri. Well, Hanna tergolong sebuah sajian yang forgettable dan tidak terlalu istimewa, terlihat dari naskah cerita yang tidak sedetil "pembantaian" teknik filmnya. But, dilihat dari pencapaian seorang Wright, Hanna rasanya boleh dijadikan salah satu film terbaik di cawu pertama tahun 2011.


DIARY OF A WIMPY KID:
RODRICK RULES
Director David Bowers
Cast Zachary Gordon, Devon Bostick, Robert Capron, Rachael Harris
Distributor 20th Century Fox
Genre Comedy
Release Date 25 March 2011 
Rate 3 out of 5
Setelah sukses dengan penghasilan yang nggak disangka sebelumnya, Diary of Wimpy Kid kembali lagi hanya berselang satu tahun dari rilisan film yang pertama. Dengan sub-title "Rodrick Rules" yang emang dari judul buku asli, film ini tetap menceritakan kehidupan belia Greg Heffley (Zachary Gordon). Kalo yang pertama ceritanya tentang gimana si Greg "menderita" di awal2 masa middle-school/smp, yang kedua ini tetep ngasih "penderitaan" ke dia lewat tingkah laku kakaknya yang jengkelin. Hmmm, saya sangat suka bukunya yang tidak susah2 tanpa hal rumit seperti kebanyakan novel standard yang sok tinggi. Cerita simple, guyonan2 kocak, sampai aksi heboh nan lebay Greg dkk yang divisualisasikan ke bentuk adapted movie book tergolong berhasil di tingkatannya. 

Agak bingung kenapa banyak kritikus2 pro diluar sana yang nganggep nih film ancur dan ruwet, pertanyaannya, ancur dimananya om?! Emang sih film pertama nggak konsisten mau ngasih jokes yang di beberapa scene banyak hal klise yang kayaknya mustahil aja gitu, ya namanya juga bo'ongan/fiksi atau lebih tepatnya pure hiburan. Saya bilang sih yang kedua ini lebih lucu, lengkap dengan karakter2 pelengkap yang nggak sekedar ramein, seperti si india Chirag yang berhasil buat saya kesel setengah mati. Bingung kalo mau cari kelemahannya, bukan maksud saya film ini sempurna, tapi agak maksa aja gitu kalo ngekritik film ini terlampau dalam. Oiya tapi saya makin nggak suka aja sama yang meranin Rodrick, kadang porsinya malah buat suasana agak hambar. Tetep lucu sih. Dan kalo mau bilang ngena ke saya sendiri, hmm, agak. Karena seperti saya bilang tadi, banyak hal klise di sana-sini yang pure fiksi (nggak tahu juga sih mungkin di amrik sana banyak terjadi). Dengan pendapatan yang menyenangkan bagi kedua filmnya, Diary of A Wimpy Kid punya potensi jadi franchise panjang yang sangat beda dilihat genre-nya. Kalo nggak salah novelnya berjumlah lima seri.


PAUL
Director Greg Mottola
Cast Seth Rogen, Simon Pegg, Nick Frost, Kristen Wiig
Distributor Universal Pictures
Genre Comedy, Adventure
Release Date 18 March 2011 
Rate 3 out of 5
Bicara Paul, pasti yang pertama tercetus di kepala adalah duo aktor yang membintanginya, siapa lagi kalo bukan Simon Pegg dan Nick Frost yang beken akan kolaborasi langganan mereka di beberapa film. Setelah Shaun of The Dead dan Hot Fuzz, dua orang ini main satu screen lagi dalam "komedi alien", Paul. Diceritakan Graeme Willy (Simon Pegg) dan Clive Gollings (Nick Frost) adalah dua sahabat dari Inggris yang sering liburan bersama. Terbang jauh dari kampung halaman ke Amerika untuk menghadiri Comic-Con (pameran komik akbar tahunan), sesosok alien bernama Paul terpaksa harus bergabung dgn RV mereka di tengah perjalanan malam yang mengejutkan. Perjalanan panjang penuh kejutan pun mau tidak mau harus mereka jalani demi menyelamatkan Paul dari bahaya misterius yang tengah mengejarnya, lengkap dengan kawan2 baru yg mereka bertiga temui di tengah perjalanan. Yang menjadi faktor bagi saya untuk mau cepet2 nonton Paul adalah nama-nama yang menghiasi jajaran pemain didalamnya. Hmm, sebut aja Pegg-Frost, Kristen Wiig, Blythe Danner, Jason Bateman, Jane Lynch, dll. Agak kaget awalnya liat nama-nama kayak mereka main bareng, jarang aja rasanya isinya bagus semua dan saya kenali untuk film yang bisa dibilang pemasarannya nggak kerasa heboh. Sayang sekali setelah nonton, bahkan pas lagi nonton, ternyata Paul nggak lucu-lucu amat seperti yang banyak orang kira, termasuk saya. Nggak tahu apa mungkin saya ngarep-nya terlalu berlebihan, tapi tetap aja Paul tidak memberikan pengalaman ngakak yang memuaskan.  Padahal film udah diawali dgn lumayan baik, lewat opening datang-nya alien ke bumi yang  agak kontras sama suasana film seiring berjalannya waktu. Dari mikir bakal dapet tontonan komedi ala Pegg/Frost yang seperti sy bilang tadi, kelihatan beda dari awal, eh semuanya seakan surut kayak ombak ketika film sudah berjalan sekitar setengah jam. Ada beberapa momen, bahkan lumayan banyak, yang mau dibuat lucu tapi sayangnya jadi canggung. Soo, kalo mau dihitung, saya lebih banyak ngeluarin senyum dibanding ngakak. 

Tapi Paul tidak jatuh gitu aja berkat adanya beberapa aktor yang sangat membantu meningkatkan tingkat kelucuan film ini. Dan yang paling ngundang perhatian tentu saja karakter-nya Kristen Wiig, yang digambarkan sbg "bible freak" tapi tergoyahkan imannya karena dipengaruhi Paul dan duo Pegg-Frost. Karakter Wiig ini mungkin agak nyindir orang-orang yang nggak bisa berdiri sendiri, yang gampang berubah tanpa peduli akibat dan nggak bisa pegang omongan sendiri (pesan ini lebih ditekankan di ending pas tepatnya omongan Paul "be yourself, speak to your heart"). Justru kalo boleh ngomong, Wiig tampil lebih lucu dibanding Pegg-Frost. Oiya hampir lupa, ada juga Seth Rogen sbg pengisi suara Paul, suaranya sih hmm, menurut saya mengomentari sebuah "suara" sepertinya agak nggak penting. Jane Lynch yang numpang lewat sampai cameo si bos misterius yg nggak saya duga turut memberikan momen unik tersendiri. Once again, bukannya jayus, tapi masih banyak kekurangan disana-sini yang menyebar dalam sebuah "Paul" (oiya banyaknya F-bomb saya rasa sedikit memberi kharisma lawak bagi film).

Jumat, 10 Juni 2011

[Double Shot] RISKY BUSINESS & MEAN GIRLS

Akhirnya setelah lama nggak mereview atau buat artikel, tiba-tiba timbul niat lagi. Masih sama seperti beberapa bulan lalu, saya sebenernya lagi sering-seringnya nonton film-film terutama film yang terbilang penting. Dan berhubung sangat banyaknya film yang saya tonton, dan tidak punya banyak waktu untuk ngetik, jadi agak susah juga ngebagi waktu *males*. Artikel saya ini bukan quick review. Dua film ini: Risky Business dan Mean Girls sengaja saya gabungkan karena kedua film berikut memiliki genre yang sama. Tidak hanya itu, pembahasan yang saya tulis memiliki keterkaitan yang relevan satu sama lain. Oiya, dan lagi, artikel saya kali ini mungkin terlihat lebih ke membicarakan persoalan yang disinggung/disindir mereka.

Kedua film ini adalah film teen coming-of-age comedy. Membahas sosialita kehidupan yang sangat mengena, terutama pada kaum remaja, Risky Business dan Mean Girls tidak hanya menawarkan hiburan semata. Adanya pesan dan sindiran pintar nan cerdik yang sangat dalam dengan jelas saya rasakan dan mengerti. 

RISKY BUSINESS (1983)
Director Paul Brickman
Cast Tom Cruise, Rebecca De Mornay, Curtis Armstrong, Joe Pantoliano
Distributor Warner Bros. Pictures
Genre Comedy
Rate *****
Joel Goodson, diperankan dengan baik oleh Tom Cruise, hanyalah seorang murid sekolah menengah atas. Eh, tidak 'hanya' sih, dia kaya dan bisa dibilang untuk di jaman itu hidupnya sangat mewah. Jangan menganggap Joel hanyalah anak kaya raya seperti karakter2 kaya yang bodoh nan sombong seperti di kebanyakan film. Di sekolahnya ia adalah anggota Future Enterprises, semacam club atau kalo disini sering disebul ekstrakurikuler yang memberikan latihan mengenai perbisnisan. Kedua orangtua Joel adalah tipe orang tua yang strict, segala keperluan berikut aktivitas Joel diatur dan diawasi sedemikian teliti dan seteratur mungkin.

Suatu hari kedua orang tua Joel berurusan dan pergi ke luar kota untuk seminggu dan meninggalkan Joel sendirian, dengan segala aturan dan beribu nasihat yang pasti agak enek buat seorang laki-laki seperti Joel. Nah sudah ketahuan kan apa yang akan dilakukan Joel demi mengambil keuntungan dari kebebasannya ini? Berawal dari ide usil temannya yang akhirnya ia patuhi, Joel mengisi hari-hari bebasnya tersebut dimulai dengan memanggil jasa pekerja seks komersial bernama Lana (Rebecca De Mornay). Having free sex, lalu masalah yang tidak diharapkan menghancurkan 'kebebasan' Joel tersebut. Kehadiran Lana yang tadinya diharapkan hanya untuk satu malam memanjang menjadi berhari-hari, demi membantu Joel membersihkan semua bukti kesalahan yang bisa tercium orang tuanya nanti.
Sebenernya nggak kepikiran untuk nonton film yang terbilang jadul ini. Satu kali baca review dari blog orang, nggak tau kenapa saya jadi tertarik. Mungkin daya tarik pertama adalah nama si Tom Cruise, aktor yang pasti agak mustahil kalo nggak ada yang tahu. Eh, belum lengkap, tidak hanya nama seorang Tom Cruise semata yang membuat saya tertarik. Faktor browsing info nih film, ternyata Risky Business adalah garis start atau awal dari gemilangnya karir aktor yang paling terkenal namanya lewat aksi misi rahasia dan loncat-loncat gedungnya itu loh. Walaupun film ini adalah pertama kali dia jadi lead actor, nggak tau kenapa kayaknya Tom Cruise lebih dikenal awal karirnya dengan Top Gun, iya nggak sih? Ato cuma saya aja yang dulu mikir seperti itu. Risky Business disutradarai oleh Paul Brickman yang sama sekali saya nggak tahu. 

Agak bingung juga sih mau ngomongin darimana dulu. Oiya, faktor lain saya mau nonton film ini adalah genrenya sendiri sebagai sebuah film coming-of-age comedy yang termasuk tipe film saya. Risky Business mungkin merupakan awal dari kebangkitan film bergaya remaja yang kemudian semakin marak setelahnya. Tapi agak jarang menemukan yang seperti ini, Risky Business memiliki kelebihan dalam mengemas satir yang sangat ngena ke anak-anak sekolahan, khususnya anak SMA, atau manusia2 yang sedang memasuki masa pubertas. Satu hal penting yang sangat diidam-idamkan dari karakter Joel itu sendiri yang pasti adalah kebebasan *mungkin kalimat-kalimat berikut agak sedikit dicampur curhat*. Satu hal penting yang hendak diperlihatkan Risky Business adalah sejauh mana obsesi seorang remaja membawa kita. Mungkin dengan jalan cerita yang mengalir kepada masalah2 dari kesalahan Joel seakan malah terlihat film ini mau menyindir berikut menasihati remaja2 untuk mematuhi orang tua, dengar-dengaran, kalau tidak malapetaka akan menghinggapimu. Bukan.  Malah menurut saya, justru kaum orang tua itu sendiri yang menjadi sasaran sindir dari film ini. Miris juga loh jadi anak yang baru2 mau masuk usia dewasa, rasanya menjengkelkan sekali apa-apa masih dikekang orangtua. Bukannya mau menolak ajaran orang tua ataupun kurang ajar, tapi kadang mereka harus bijak juga dong dengan memberi aturan yang kadang mereka lupakan apa hak kita. Oke, orang tua memang berkewajiban penuh menjaga anaknya yang masih dibawah umur. Tapi ingat, kewajiban harus dilakukan tanpa melupakan hak dari orang yang berkaitan dengan kewajiban tersebut.
Kadang orang tua cuma bisa marah-marah tanpa alasan yang jelas, hanya semata untuk memuaskan gairah marah2 mereka (nggak semuanya seperti ini mungkin, tapi saya mengalaminya). Intinya, walaupun kita sebenarnya ada di pihak atau sisi yang benar, dengan kata lain misalnya orang tua sebenernya yang salah, mereka nggak akan mungkin mengalah meskipun mereka tahu kita lah yang sesungguhnya benar. Yang namanya orang tua terlalu berpaku sama hukum alam yang mengharuskan mereka mengekang anak dibawah umur. Ugh screw that rule! Asal mereka tahu di keadaan orang yang mendekati batas umur tuh, pikiran orang tsb tidak jauh berbeda dari pemikiran dewasa, sudah tahu mana yang salah/benar. Yap, sekelumit curcol saya diatas pasti apa yang coba digambarkan Risky Business. Mungkin contoh yang ditunjukkan film ini sangat berseberangan dengan arah pemikiran bangsa timur, tapi itulah Amerika. Untuk kelas teen coming-of-age comedy, Risky Business tidak ketinggalan dalam penggarapannya, misalnya editing ataupun angle kamera yang memang ketebak jadulnya tapi masih asik ditonton dan tetep aja tidak menghilangkan kesan lucunya. Oiya jangan lupakan shoot camera di opening dan juga ending yang dimulai/diakhiri dari close-up wajah si Joel tepatnya di kacamatanya itu. Hal yang sampai kini menjadi ciri khas sebuah Risky Business, sampai di posternya juga. Tidak ketinggalan scene dance si Joel pas sendirian di rumah, hal yang identik sekali dari film ini. Hal yang menjadi ke-khas-an yang lain mungkin adegan having sex di kereta yang sebenernya agak lucu tapi memorable aja gitu.

Risky Business adalah sebuah komedi satir remaja yang gemilang. Gemilang dari penampilan bintang-bintangnya yang pertama. Menggunakan film ini sebagai ajang awal karir suksesnya hingga sekarang, bahkan mendapat nominasi Golden Globe pertamanya berkat film ini, Tom Cruise berhasil membawakan film ini dari titik awal film berjalan dengan banyak hal-hal penting yang sangat ngena ke orang2, remaja khususnya, hingga klimaks film yang berakhir dengan melegakan. Rebecca De Mornay juga bagus, karakternya yang ngeselin dan ngebuat hidup Joel merana sangat amat membuat saya kesel juga pada awalnya. Dia juga tampil frontal disini dengan adegan seksnya, anehnya sekarang dia nggak terlalu terdengar gaungnya. Ada quote yang paling saya suka dari Risky Business, "What the fuck" gives you freedom. Freedom brings opportunity. Opportunity makes your future. Ya nggak usah pusingin apa yang orang omongin tentang lo (dalam kisah Joel sendiri mungkin jangan peduli sama apa kekangan orang tua yang suka bikin enek). Intinya dengan bodo amat itu lagian siapapun bakal bisa meraih kebebasannya dengan bener, tanpa dipusingin pikiran jenuh/keresahan apa yang orang omongin. Risky Business menurut saya sendiri adalah sebuah masterpiece di kelasnya, sebuah karya Paul Brickman yang mendekati kesempurnaan di bilangan komedi satir. Untuk dicompare sama film sejenis yang lebih modern pun nggak kalah. Classic entertaining.


MEAN GIRLS (2006)
Director Mark Waters
Cast Lindsay Lohan, Rachel McAdams, Amanda Seyfried, Lachey Chabert
Distributor Paramount Pictures
Genre Comedy
Rate ****
Cady Heron (Lindsay Lohan) hanyalah gadis polos yang mungkin jumlah temannya terjangkau dalam hitungan jari. Tidak berarti ia adalah cewe kuper, semua ini hanya karena dirinya tidak pernah mengalami kehidupan sekolah reguler, melainkan mendapat didikan di homeschooling dari kecil. Menghabiskan sebagian besar kehidupannya di Africa, Cady beserta kedua orangtuanya (Ana Gasteyer dan Neil Flynn) memutuskan untuk pindah kembali ke kota asalnya di Illinois, Amerika Serikat. Memulai kehidupan baru, Cady akhirnya disekolahkan ke sekolah menengah atas reguler dan berkesempatan berbaur dengan sosialita pada umumnya. 

Kehidupan sekolah di North Shore High School tidak semudah yang ia bayangkan. Semua orang berpecah menjadi bagian-bagian dan sulit bagi Cady untuk mendapat teman bahkan mendapat kursi kosong yang memperbolehkan dirinya untuk makan bersama orang-orang. Cady pun mendapat teman, Janis (Lizzy Caplan) cewe gothic dan Damien (Daniel Franzese), dua orang ini mengerti akan keberagaman jenis maupun group2 di sekolah tersebut dan mengajari Cady bagaimana cara untuk 'bertahan hidup'. Suatu kali Cady diajak bergabung oleh geng cewe terkenal yang menamai diri mereka sebagai The Plastics yang diketuai oleh Regina George (Rachel McAdams) dan beranggotakan dua orang cewe yang malah kelihatan seperti pengikut atau kasarnya pembantu. Diterimanya Cady kedalam geng tersebut dimanfaatkan dirinya serta Janis dan Damien untuk melakukan konfrontasi diam2 yang bertujuan untuk memecahbelah mereka. Tidak semudah yang dipikirkan, rencana awal seakan berubah seiring perubahan yang dialami Cady.
Satu lagi teen comedy yang terbilang sukses di masanya. Kalau tahun '80-an punya Risky Business, sepertinya dekade 2000-an punya-nya Mean Girls. Yap, Mean Girls termasuk salah satu komedi remaja terbaik di kelasnya. Mungkin gaya yang dibawakan Mean Girls agak berbeda dengan Risky Business secara perbedaan masa yang terbilang cukup jauh sehingga menimbulkan kesan yang sangat berbeda antara keduanya. Film ini disutradarai oleh Mark Waters, pria yang memang lebih sering mengarahkan film-film seperti yang satu ini, tapi ada juga yang beda seperti The Spiderwick Chronicles yang sangat disayangkan berhenti hanya di seri pertama padahal filmnya termasuk bagus dan lumayan seru. Tahu Freaky Friday yang juga dibintangi oleh Lindsay Lohan setahun sebelum Mean Girls beredar? Nah itu juga filmnya pria ini. Contoh lainnya adalah Just Like Heaven, hingga Ghost of Girlfriends Past yang menurut saya agak bosenin, oiya ada juga film dia tahun ini tapi lupa namanya *males buka imdb lagi*. Mark Waters terbilang konsisten dalam mengeluarkan film-filmnya yang kebanyakan film ringan seperti Mean Girls, dan dari semua filmnya yang udah saya tonton kebanyakan fun-fun aja dan nggak berkesan rugiin waktu saya, termasuk Mean Girls pastinya.

Lagi-lagi membicarakan kehidupan anak-anak remaja. Bedanya kali ini Mean Girls langsung berfokus penuh kepada kehidupan di masa-masa SMA yang terkenal paling macem2 deh masalah serta keruwetannya yang tidak semata sibuk belajar. Ya saya sebagai anak ABG, dan juga masih SMA, sekali lagi merasa sangat ngena oleh apa yang dibicarakan film seperti ini. Bedanya Mean Girls lebih nyata dan emang terjadi sampai saat ini. Dan bedanya lagi film ini tidak secara langsung ngena ke saya secara pribadi, melainkan ke keadaan masa-masa SMA yang persis sama. Hmm, banyak yang bilang masa sekolah menengah atas tuh pengalaman yang paling nggak bisa dilupain, bahkan kata orang-orang masa kuliah aja masih kalah seru sama tingkat yang ini. Well, emang kelihatan sih dari cerita temen-temen saya yang lebih tua ataupun orang tua saya. Fakta penting yang ada di film ini: high school society. Yap, nggak cuman dalam kehidupan bermasyarakat aja ada tingkatan strata yang bisa membeda-bedakan orang seperti kaya-miskin. Memang sudah kenyataan hal seperti ini juga ada di dunia nyata, tidak hanya di film. Mean Girls jelas sangat menyindir dengan cara yang lugas terselubung lewat unsur lawakan yang dibawa. Saya bukannya cuma bisa ngomong, karena memang hal pembedaan ini sungguh terjadi di sekolah saya dan kami sebagai anak sekolahan zaman sekarang yakin ada di banyak sekolah, khususnya jakarta selatan yang lebih marak. Apalagi SMA *sensor* yang terkenal parah.

Pasti ada juga yang nggak ngerti apa aja sih golongan-golongan di sekolahan jaman sekarang. Yang saya ketahui dan sungguh ada di sekolah saya *no offense guys if i mention your label*: sporty guy, popular girls, nerds, bullied ones (yang paling umum sih empat itu). Dalam satu lingkup angkatan pasti ada aja anak-anak sporty yang biasanya anggota tim basket/futsal dan nggak jarang 'merangkap' sebagai tukang iseng atau ngerjain anak-anak yang tergolong lemah dan penakut. Kadang saya juga berpikir, apa sih salah mereka dan maksud tuh tukang bully melakukan that dumb shit? Biasanya sih nggak lain supaya terlihat keren, alhasil jadi terkenal dan bisa dibilang jadi jeger/ikon angkatan. Ada juga  cewe-cewe popular, disini digamabarin oleh The Plastics, yang kayaknya tuh sekolah emang nyari tuh label eksis/popular dan menyingkirkan arti sekolah sebenernya. Dan biasanya sih ya cewe-cewe kayak gini nggak jarang bodoh-bodoh dan tukang nyontek *ehem saya sering sih sebenernya hahaha*. Dan yap, sama halnya seperti di The Plastics yang isinya ada Regina sebagai pemimpin yang ibaratnya emang paling terkenal dari orang-orang terkenal. Ada juga cewe popular seperti Gretchen dan Karen yang terlihat seperti penguntit. Terlihat fiksi sih emang, tapi mau dibilang apa hal itu memang ada. Kadang orang-orang seperti ini terlihat bangga aja gitu dengan sikap dan kebodohan mereka, apa yang mau disanjung coba? Dan lebih enek lagi kalo orang seperti mereka pacaran, cewe blo'on-cowo blo'on, ugh, koreksi diri dulu dong. Semuanya digambarkan dengan sangat baik lewat Mean Girls. Dulu pas pertama kali nonton saya nggak terlalu ngerti sama segala satirnya, tapi tiap nonton berulang-ulang dan saya sendiri yang makin dewasa dan mengerti, suatu pemikiran timbul dan saya emang akui semua itu nyata bukan fiksi belaka.  
Kadang saya suka ragu apa benar apa yang ada di film-film kebanyakan seperti Mean Girls sungguh terjadi di luar sana, dalam hal ini adalah negeri paman sam. Apa yang terjadi di kehidupan SMA indonesia jelas masih jauh lebih baik daripada yang suka kita lihat di film. Dan ternyata, saat saya tanya keluarga saya yang sudah lama hidup di sana, memang benar apa yang sering diperlihatkan film adalah nonfiksi. Katanya bullying di sana terlewat parah, malah katanya yang namanya orang makan di wc emang sering ada. Nggak tahu apa yang harus dilakukan untuk merubah semua ini, memang salah dari akarnya dan sulit untuk melakukan perubahan. Pola hidup dengan pembagian tingkatan strata seperti ini sepertinya sudah tertanam di pikiran manusia dalam-dalam. Saya tidak mengatakan bahwa saya termasuk orang yang bersih dan layaknya malaikat. Hahaha tidak, kadang emang suka ketawa melihat aksi penekanan yang embel-embelnya cuma buat bercanda. Makanya itu, seperti saya bilang tadi, susah untuk diperbaiki. Kembali ke bahasan mengenai filmnya sendiri, Mean Girls tidak hanya bicara mengenai tingkatan-tingkatan di SMA yang makin lama terkesan universal. Mean Girls juga berbicara mengenai obsesi akan kesempurnaan, yang disini diperlihatkan lewat obsesi si Regina akan badan yang sempurna *kirimin lagu born this way*. Ada juga sindiran tentang orang tua ceroboh yang terlalu memperbolehkan anaknya melakukan apa saja. Berkaitan dengan artikel Risky Business saya, saya bukannya ingin orang tua tuh memberikan kebebasan yang terlalu berlebihan. Tetapi seorang orang tua cukup menyetarakan kewajiban mereka dan hak seorang anak dengan adil ya kan. Ada juga sindiran mengenai eksistensi kaum gay (pasti banyak di amerika sana) yang kadang susah untuk berbaur. Saya bukanlah orang yang setuju dengan orientasi seksual seperti itu, tapi bukan berarti kita boleh mengatur seenaknya kaum tersebut kan? Toh mereka manusia, selama nggak mengganggu ya nggak apa-apa lah.

Oiya, ada lagi isu tentang rumor yang saya tangkap. Poin penting disini adalah menghargai perbedaan. Segimana-mananya orang, sejelek apapun mereka physically, ataupun perilaku memalukan mereka mungkin yang suka terlihat, apa untungnya untuk lo buat nyebarin segala cap ke orang-orang tersebut? Semua hal sindiran tersebut dikemas dengan sangat baik lewat naskah yang dirangkai ulang oleh Tina Fey yang turut mengambil peran sebagai guru Cady. Walaupun aslinya diadaptasi dari novel orang berjudul Queen Bees and Wannabes, naskah yang disusun ulang oleh Tina Fey terbukti sangat menggigit dan sukses mengena lewat filmnya sendiri. Dengan menyamarkan segala satir demi satir ke dalam ruang lingkup komedi remaja, semuanya tidak hilang begitu saja lewat dialog-dialog tajam yang berubah-ubah sasarannya, kadang mengarah langsung ke problema sekolahan itu sendiri dan kadang juga tetap mempertahankan unsur lawakan yang dibawa. Bicara Mean Girls siapa sih yang lupa sama Lindsay Lohan? Dia bermain dengan baik disini. Suka sedih kalo ngeliat perbedaan seorang Lohan dulu yang innocent dan sekarang yang jadi bitchy dan bener-bener nakal. Bagaimanapun, Lohan di Mean Girls bermain sangat tegas dalam mengatur suasana dan membangun karakternya dari invisible jadi popular dengan cara yang fun. Yang berbeda dari Lohan dalam penampilannya disini adalah, kalau kebanyakan bintang remaja bermain terlalu spontan dan riangnya menjadi berlebihan hingga jadi nggak jelas karakter mereka mau ngarah ke mana, Lohan disini lebih tenang dan confident dalam berekspresi. 

Dengan menonton Mean Girls, tidak akan semudah itu membantu kita merubah pola pikir atau pola hidup dalam menjalani masa-masa seperti yang digambarkan: tingkat strata, rumor, kepercayaan diri, acceptance. Tidak semudah itu. Tapi setidaknya Mean Girls memberi kita gambaran kecil untuk sedikit membantu kita belajar dan berusaha untuk keluar dari budaya seperti itu, paling tidak usahakan sebisa mungkin. Perubahan justru timbul dari usaha kecil dan konsistensi dalam mencapainya. Berhenti deh peduli sama tingkat strata atau apalah itu. Mengutip pikiran Vampibots di artikel The Breakfast Club nya, semua orang punya kelebihan dan kekurangan. Buktinya seorang sporty guy dan popular girl nggak jarang ada yang bodoh (kenyataan). Dan kaum nerds, diluar penampilan mereka itu, mereka bisa ngebanggain orang kok dengan otak smart mereka. Justru mereka yang nantinya berkemungkinan mengubah dunia. Who knows? Siapa yang tahu kalo orang yang suka lo siksa ke depannya lebih sukses daripada lo dan lo malah bisa jatoh. Inget, hukum karma/ tabur-tuai. Soo, Mean Girls adalah tontonan pintar dalam memberi pelajaran bagi kita lewat embel-embel komedinya. Buktinya, saya sampai celoteh sepanjang ini. [Daniel Putra]

Rabu, 23 Maret 2011

[Review] GNOMEO & JULIET (2011)

"A little adventure goes a lawn way"
Director :
Kelly Asbury

Cast :
James McAvoy
Emily Blunt
Michael Caine
Maggie Smith
Ashley Jensen

Distributor :
Touchstone Pictures

Genre :
Animation, Comedy, Family, Romance, 3D








Setelah berpuluh-puluh kali karyanya dijadikan referensi maupun naskah dasar suatu adaptasi film, kali ini untuk kesekian kalinya karya William Shakespeare diadaptasi kedalam bentuk motion picture. Adalah Gnomeo & Juliet, animasi keluarga yang perilisannya memanfaatkan momen sebelum hari Valentine tahun ini. Tidak bisa dipungkiri bahwa sebuah film akan lebih diuntungkan bila mengatur tanggal rilis bertepatan atau disekitar hari-hari penting dan memorable. Tetapi disamping hal tersebut, Gnomeo & Juliet menset momen itu juga sebagai pendukung plot cerita yang mengetengahkan kisah cinta. Kembali ke topik pembuka, dari judul saja sudah terbesit dengan jelas karya Shakespeare apa yang menjadi fondasi kuat animasi awal tahun 2011 ini, tak usah saya sebutkan pasti anda tahu kan apa yang saya maksud. Walau sebelumnya sudah dibuat adaptasi layar lebar dengan bintang Leonardo DiCaprio, Kelly Asbury (Shrek 2, Spirit: Stallion of Cimarron) sepertinya masih bisa percaya diri membuat ulang dengan bentuk animasi. Tidak mau sendirian, ia mengajak delapan orang lainnya untuk bersama-sama 'mengeroyok' naskah tragis Romeo and Juliet yang dewasa menjadi sebuah cerita ringan, lucu, dan menarik bagi semua kalangan. Nama-nama terkenal bahkan legendaris berjejer satu persatu sebagai pengisi suara film ini. Dipimpin James McAvoy (Wanted, Atonement) dan Emily Blunt (The Wolfman, The Young Victoria) yang mengisi suara kedua karakter sentral, Gnomeo & Juliet coba 'pamer' dengan menggandeng beberapa nama besar seperti Jason Statham (Transporter, Crank) sampai bintang rock legendaris Ozzy Osbourne.
Memiliki rumah bersebelahan tidak selalu mendukung timbulnya keakuran. Itulah yang dialami Mrs. Montague (Julie Waters) dan Mr. Capulet (Richard Wilson) dari dulu sampai sekarang. Sekali saja mereka bertemu atau berpapasan, pasti ada saja yang diperdebatkan. Namun perseteruan mereka tidak pernah berakhir walaupun keduanya sedang tidak bertemu, ternyata gnome atau hiasan kebun kedua orang itu mengalami hal serupa. Gnome-gnome kecil itu akan berubah menjadi hidup layaknya manusia kalau majikan mereka sedang tidak mengawasi. Layaknya Mrs. Montague dan Mr. Capulet, kubu terbagi menjadi dua. Ada gnome biru milik Mrs. Montague, ada juga gnome merah milik Mr. Capulet. Gnome biru diketuai oleh Lady Bluebury (Maggie Smith), sedangkan gnome merah diketuai oleh Lord Redbrick (Michael Caine). Setiap waktu pasti ada saja yang dipermasalahkan kedua kubu ini, yang penting tercipta kepuasan tersendiri di masing-masing kubu. Perselisihan turun temurun ini seakan 'tercoreng' oleh pertemuan tidak sengaja yang terjadi antara Gnomeo (James McAvoy) dan Juliet (Emily Blunt) yang berubah menjadi cinta. Gnomeo adalah putra dari pemimpin gnome biru, sedangkan Juliet adalah putri dari pemimpin gnome merah. Miris memang, disaat cinta terlarang ini tumbuh semakin kuat di benak masing-masing pihak, permusuhan yang terjadi antara kedua kubu gnome berlangsung semakin panas dan tak terkendali.
Jangan mengharapkan kisah tragis dan kelam Romeo and Juliet akan kembali mewarnai plot cerita animasi yang satu ini. Sebaliknya, Gnomeo & Juliet berjalan dengan kisah yang malahan lucu dan lebih ringan, walaupun kisah cinta dilematis tetap mendasari hubungan antara Gnomeo dan Juliet. Memang tidak mengejutkan hal ini terjadi, karena pada dasarnya film ini adalah animasi yang ditujukkan bagi penikmat film ringan nan menghibur. Tidak bisa dipungkiri keberhasilan tim yang mengurusi segala hal teknik film ini. Gnomeo & Juliet terbukti berhasil menghadirkan desain animasi yang sangat memanjakkan mata dengan tekstur warna yang sedemikian cerah dan detail-detail pencahayaan terang benderang yang berpadu dengan baik sehingga membantu kesempurnaan teknik animasi. Keberhasilan hal teknik ini semakin terasa berkat tembang-tembang lagu Sir Elton John dalam mengiringi banyak adegan. Suasana pun berpadu menjadi ceria dan berwarna sehingga durasi 82 menit yang terbilang singkat tidak terasa barjalan sedemikian cepat. Gnomeo & Juliet bukanlah film Pixar bahkan DreamWorks yang terkenal dengan gaya penceritaan dan teknik animasi berkualitas dan tidak jarang dijuluki 'kelas Oscar'. Tapi sangat disayangkan cerita berjalan tanpa improvisasi besar yang menjanjikan sehingga naskah tidak terlihat sebagai fondasi utama penambah nilai plus. Oke, saya tidak mengharapkan kemajemukkan cerita dan visual mahakarya layaknya Toy Story atau Avatar bahkan kedewesaan kisah berbalut visual kelam layaknya 9 atau The Illusionist. Tapi jangan lupakan tim 'perombak' naskah yang beranggotakan sembilan orang itu, apa yang mereka kerjakan? Rasanya jumlah orang seekstrim itu harusnya mampu membuat film dieksplorisasi lebih tinggi dengan eksploitasi cerita yang jauh lebih kuat dan berkualitas. Lupakan hal tersebut, karena mungkin mereka punya alasan bahwa Gnomeo & Juliet ditujukkan bagi anak-anak yang hanya peduli oleh segi visual dan lelucon maupun tingkah laku karakter yang humoris. Diluar kelemahan naskah yang telah saya singgung, film animasi ini mampu mengeksploitasi sisi humoris cerita dengan banyak dialog berisi lelucon yang tidak bisa dipungkiri kelucuannya dalam membuat saya mengeluarkan tawa besar. Dari segi pengisi suara, hmm, rasanya tidak penting disinggung, karena menurut saya pribadi siapapun yang mengisi tetap saja tidak bisa memberikan kontribusi besar bagi peningkatan kualitas film. Oke, Nanette adalah tokoh yang paling mengundang perhatian saya, bukan karena suaranya melainkan dialog-dialognya yang mendominasi sisi humoris dalam film. Ada juga sekumpulan gnome supermini dari kubu merah yang mengundang tawa lewat gerak-gerik dan suara mereka yang unik dan konyol, hmm, mirip minions-nya Despicable Me.
Talking point...
Diluar kemiskinan eksploitasi naskah yang seharusnya dilakukan dan premis sederhana maupun ending yang predictable, Gnomeo & Juliet tetaplah animasi wajib tonton berkat dukungan dominasi visual animasi yang eye-candy dan lelucon-lelucon yang melahirkan citra dan pesona yang sangat menyenangkan.

Rate :
3 out of 5