infolinks
Jumat, 16 September 2011
[Review] CAPTAIN AMERICA: THE FIRST AVENGER (2011)
Kamis, 18 Agustus 2011
A biggest fantasy that puts a spell on me: HARRY POTTER
Rabu, 23 Maret 2011
[Review] GNOMEO & JULIET (2011)
Director : 

Talking point...
Diluar kemiskinan eksploitasi naskah yang seharusnya dilakukan dan premis sederhana maupun ending yang predictable, Gnomeo & Juliet tetaplah animasi wajib tonton berkat dukungan dominasi visual animasi yang eye-candy dan lelucon-lelucon yang melahirkan citra dan pesona yang sangat menyenangkan.
Selasa, 15 Maret 2011
DRIVE ANGRY (2011)
Director :Patrick Lussier
Cast :
Nicolas Cage
Amber Heard
Billy Burke
William Fichtner
David Morse
Distributor :
Summit Entertainment
Genre :
Action, Thriller, Supernatural, 3D
Lirik dulu posternya; Yap, Nicolas Cage (National Treasure, Sorcerer's Apprentice). Jangan sampai salah mengenali pria berambut gondrong nanggung ini. Lalu siapa 'pajangan' yang duduk di sebelah jok Cage? Yap, Amber Heard (Zombieland, Pineapple Express). Cewe yang mungkin menjadi nilai tambah apalagi bagi kalangan pria ini--shit, hate to say this--baru-baru ini mengaku bahwa dirinya adalah seorang lesbian. Tidak hanya mereka berdua, film yang lebih layak dimasukkan ke dalam 'perbendaharaan' film kelas-B ini juga dipermanis oleh beberapa aktor yang tidak setenar Cage, sebut saja Billy Burke (Twilight, New Moon) dan William Fichtner (Crash, Armageddon). Diarahkan oleh Patrick Lussier (Dracula 2000, White Noise 2: The Light), Drive Angry ikutan unjuk gigi lewat teknologi 3D yang juga disematkan ke dalam film ini, ya, selain menambah pundi-pundi uang mungkin juga agar film tambah 'dikenal' kemunculannya. Saya tak terlalu mengerti mengapa ada 'film bule' bisa masuk ke Indonesia, tapi menurut beberapa penjelasan yang saya baca hal ini dikarenakan Drive Angry tidak termasuk 'film MPAA'. Tapi semoga saja direktorat pajak negeri Indonesia yang menyedihkan ini, dan juga pihak Hollywood membuka jalan keluar yang lebar bagi masuknya film-film Hollywood yang masih saya tunggu sampai sekarang. Sebagai tambahan, anda yang nonton film ini di bioskop Indo mungkin mengalami hal yang sama dengan saya; subtitle dengan font besar, aneh, dan kadang beberapa dialog tidak diterjemahkan.
John Milton (Nicolas Cage) adalah sosok misterius, berambut aneh, dan tiba-tiba saja muncul di permukaan bumi ini--ya, Milton merupakan orang yang sesungguhnya telah mati dan masuk ke neraka, dan kembali ke bumi untuk menjalankan suatu misi. Misi kedatangannya ke bumi tidak lain adalah untuk menyelamatkan ekistensi satu-satunya sisa keturunannya, yaitu sang cucu. Dikisahkan anak Milton dibunuh oleh seorang pemimpin sekte aliran sesat pemuja setan bernama Jonah King (Billy Burke). Pria sadis itu tidak enggan menculik bayi wanita tersebut, alias cucu Milton, untuk dijadikan tumbal dan akan dibunuh tepat di hari bulan purnama. Menurut mereka bayi tidak bersalah ini adalah kunci terbukanya jalan menuju neraka dan menguasai seluruh dunia. Di bumi Milton bertemu dengan Piper (Amber Heard), wanita yang baru saja berhenti bekerja sebagai pramusaji sebuah kafe kecil. Berawal dari Milton numpang mobil Piper, lalu ikut campur dalam permasalahan cinta wanita tersebut dengan pacarnya, Piper terpaksa ikut Milton berkelana dan setelahnya Piper merasa dirinya terpanggil untuk menemani Milton. Sambil berusaha memburu sekte sesat yang menculik cucunya, ternyata ada orang, eh, pihak lain yang memburu Milton. Ia adalah sosok tanpa nama yang menamai dirinya dengan sebutan The Accountant (William Fichtner), 'sipir' neraka dengan misi menangkap Milton yang kabur dari 'penjara'. Perburuan berantai pun dimulai--sipir mengejar tahanan, tahanan mengejar penculik. Tidak ketinggalan Piper yang mempertanyakan apa yang sebenarnya sedang terjadi dalam hari yang sangat sial itu.
Jujur sampai sekarang saya belum lihat trailer film ini, hanya sebatas poster yang saya jadikan informasi utama. Dilihat dari posternya mungkin tidak tertebak apa tema maupun inti cerita film ini. Tapi kalau dilihat dari Nic Cage di poster film ini, cerita semacam Ghost Rider yang terlintas di pikiran saya. Jawabannya; hampir. Drive Angry ternyata mengusung tema yang mirip dengan Ghost Rider. Sosok dari neraka datang ke bumi, tapi bedanya kendaraan yang hadir di Drive Angry murni made in earth. Meskipun banyak yang menganggap Drive Angry terlalu berlebihan dalam mengeksploitasi sex dan kekerasan tanpa mempedulikan segi cerita, Drive Angry nyatanya masih bisa dikategorikan sebagai film yang menghibur. Jika ditelusuri plot ceritanya, mungkin penonton, termasuk saya, menganggap film berdurasi 104 menit ini menghadirkan jalan cerita yang terlampau aneh dan gampang dijumpai dalam beberapa film. Di luar kedangkalan jalan cerita yang konyol, Drive Angry mampu menghibur kita dengan komposisi action yang hampir mendominasi durasi film. Dari awal sampai akhir film terus berjalan dengan mengeksploitasi action blak-blakkan dan kekerasan di adegan demi adegan. Ya, semua fitur ini terus-terusan dieksploitasi diluar batas tanpa henti, tapi tetap saja menciptakan suatu hiburan yang sangat baik dan tidak tanggung-tanggung. Kehebatan fitur action yang digarap baik oleh Patrick Lussier ini mungkin pengaruh dari pengalaman Patrick yang sebelumnya sering menggarap ataupun bergabung dalam tim di film-film sejenis seperti My Bloody Valentine 3D dan Scream. Secara keseluruhan, semua hal ini berhasil menutupi kedangkalan unsur cerita. Teknologi 3D yang dipakai juga tidak murahan, menggunakan embel-embel 'shot-in-3D', lagi-lagi eksploitasi 3D disematkan dengan baik lewat adegan berdarah-darah, ledakan-ledakan, hingga balapan mobil. Ya, namanya juga film kelas-B--sebuah cap bagi film-film yang mengandung eksloitasi besar-besaran terhadap unsur sex, kekerasan, dan banyak subjek ekstrim. Dari departemen akting tidak ada yang menonjol, walau bermain cukup baik namun Nic Cage tetap saja tidak memberikan perubahan besar bagi kualitas karirnya yang semakin menurun. Selain itu dengan berani dan sangar Amber Heard bermain cukup baik, malah Billy Burke rasanya yang lebih pantas di cap sebagai pemanis film. Dan jangan tertipu oleh posternya, Drive Angry bukanlah film yang pantas dipelototi anak kecil, walau beberapa nudity dan sex scene telah disensor, tetap saja kata-kata kasar dan kekerasan bersebaran dimana-mana. Well, walau plot cerita yang diusung terlihat murahan, Drive Angry terbukti unggul dalam mengeksploitasi semua unsur penting dalam kelas-B yang berhasil sampai di garis finish; menghibur.
Rate :
3/5
Kamis, 10 Februari 2011
THE GREEN HORNET (2011)
The Green Hornet merupakan acara serial radio produksi tahun 1932 dan semakin melejit di tahun-tahun berikutnya, sampai dibuat adaptasi komiknya. Tidak hanya itu, tahun 1966 dibuat juga adaptasi serial televisinya - dengan Van Williams sebagai Green Hornet sedangkan side-kicknya si Kato diperankan oleh aktor legendaris Bruce Lee. Yang unik adalah bukannya tokoh Green Hornet yang terkenal dan disukai, tapi malah si Kato yang malah banyak mendapat penggemar. Di tahun 1992 sebenarnya sudah direncanakan untuk dibuat adaptasi layar lebarnya. Tetapi karena kendala kekosongan kursi pemain dan sutradara, proyek ini terus mundur. Nama Nicolas Cage dan Jack Gylenhaal sempat dikabarkan akan memerankan karakter Green Hornet. Hingga akhirnya Michael Gondry dipastikan akan duduk di kursi sutradara, komedian Seth Rogen yang sukses dengan Superbad-nya pun ikut ambil bagian sebagai pemeran Green Hornet. Sementara itu aktor sekaligus penyanyi asal Taiwan, yaitu Jay Chou, dipercayakan untuk memerankan Kato.
The Green Hornet sendiri bercerita mengenai Britt Reid - yang notabene merupakan anak dari pengusaha kaya James Reid. Karena kematian ayahnya tersebut, Britt dipercayakan untuk memimpin perusahaan surat kabar milik ayahnya, The Daily Sentinel. Kemudian Britt dipertemukan oleh seorang pelayan lewat peristiwa 'kopi'. Pelayan handal itu bernama Kato, tidak hanya jago membuat kopi, ia ternyata handal dalam urusan rakit-merakit mobil dan jago bela diri. Pertemuan mereka berlanjut hingga Kato dan Britt terlibat dalam aksi kejahatan di pinggir jalan. Didasari rasa ingin menolong orang akan kejadian itu, mereka pun memutuskan untuk menjadi superhero yang memerangi kejahatan dengan fasilitas mobil modifkasi canggih bernama 'Black Beauty' yang dibuat oleh Kato. Britt pun menamai dirinya dengan julukan 'Green Hornet' - yang selanjutnya terkenal ke seluruh penjuru kota karena aksi pahlawannya bersama Kato. Aksi Green Hornet ini ternyata meresahkan seorang mafia Jerman di LA, Benjamin Chudnofsky - yang ingin melenyapkan kedua superhero baru ini.
The Green Hornet berhasil membuat saya ketawa terbahak-bahak dengan humor konyol yang banyak diucapkan oleh Britt. Seth Rogen terbukti mampu mengubah ekspetasi saya terhadap film ini yang awalnya saya kira full-packed-of-'high'-action. Ternyata film berdurasi 119 menit ini lebih mengutamakan sisi komedi ketimbang jalan cerita rumit yang banyak dihadirkan film superhero sejenis. Kehadiran humor yang mendominasi adegan demi adegan juga terbukti mampu menutup kesederhanaan plot ceritanya. Ya patut saya maklumi untuk film bergenre seperti ini memang tidak butuh sebuah jalan cerita berat - yang nantinya malah memusingkan penonton dan bisa mengubur kehebatan aksi dan humornya. Aksi bodoh yang dilakukan oleh Rogen mengubah image seorang Green Hornet yang mungkin banyak dikira sebagai superhero pemberani. Perlu ditekankan, Kato-lah sebenarnya yang menjadi pusat perhatian di film ini. Tidak hanya karena tampang orientalnya, ia lebih membangun sebuah image keren dibanding si Britt. Perannya terlihat natural dengan memancarkan kharisma seorang Jay Chou yang dikenal banyak orang. Mungkin ada sebagian orang yang menganggap karakter Kato disini cukup menjadi sorot utama film, menghancurkan sinar si Green Hornet. Untuk pemain pembantu lainnya seperti Cameron Diaz dan Cristoph Waltz terlihat biasa saja sebagai pemanis. Mereka bagaikan tempelan di film ini - hanya untuk melengkapi film superhero dengan kehadiran villain dan love interest ataupun pendamping wanita. Well, The Green Hornet terbukti enterntaining dengan dominasi suguhan adegan aksi yang keren dan humor konyol yang cukup berkualitas untuk film sejenis ini. Lagi-lagi film yang baik sebagai pembuka tahun 2011 :) 










