infolinks

Tampilkan postingan dengan label 3D. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 3D. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 September 2011

[Review] CAPTAIN AMERICA: THE FIRST AVENGER (2011)

Director Joe Johnston Writers Christopher Markus, Stephen McFeely
 Cast Chris Evans, Hayley Atwell, Hugo Weaving
Distributor Paramount Pictures Genre Action, Adventure, Sci-Fi, 3D

Banyak alasan yang membuat kita merasa sayang untuk tidak menonton film-film yang hadir di tahun 2011 ini. Selain banyaknya sekuel dari film-film terdahulu masing-masing yang sangat dinanti, atau mungkin semakin menggebyarnya balutan 3D dalam pemasaran film, alasan terbesar adalah melimpahnya sajian summer ambisius yang diantaranya terselip beberapa film superhero adaptasi komik, diantaranya adalah Captain America: The First Avenger.

Ada yang menarik dari tahun 2011. Seperti yang saya katakan diatas, tahun ini dijadikan ajang “perkelahian” bagi banyak karakter berkekuatan super untuk memikat jutaan moviegoer yang kelihatannya tidak tahan lagi menunggu. Sebelum berbicara lebih jauh, entah ini pikiran saya pribadi atau mungkin ada juga yang merasa, kok sepertinya sebagian besar live-action dari Marvel punya hasil yang lebih bagus ya ketimbang punyanya DC Comics? Lihat saja banyaknya film-film Batman dan Superman yang cukup banyak dicerca. Ya meskipun begitu rasanya kebangetan kalau trilogy Batman versi Nolan dilupakan (sangat jelas ia memiliki ciri khas sendiri untuk memaksimalkan dan menaikkan pamor DC). Justru Marvel terbukti lebih konsisten dalam melahap habis-habis budget film untuk mengadaptasi tokoh-tokoh komiknya untuk selanjutnya diadaptasi ke dalam bentuk film. Dan so happy to say, hasilnya kebanyakan bagus. Well, bagaimana dengan yang satu ini?
Di tahun 1942 dimana Perang Dunia II sedang berlangsung, Amerika Serikat sedang gencar-gencarnya melawan Nazi. Memanfaatkan segala yang mampu dilakukan, AS sendiri terus-terusan merekrut pemuda di negaranya untuk dijadikan tentara dan bergabung dengan pasukan militer untuk dikirim ke medan perang di Eropa. Steve Rogers (Chris Evans) hanyalah pria kurus kerempeng dengan tinggi tidak sampai 170 cm dan mengidap asma. Keadaan fisiknya yang lemah membuat dirinya sering di-bully dan tergolong ‘kaum outcast’. Tidak peduli akan kondisinya tersebut, ia punya niat yang sangat besar untuk bergabung dengan kemiliteran. Berkali-kali mencoba, dirinya selalu ditolak dikarenakan tidak memenuhi syarat, bahkan Rogers yang memalsukan identitasnya itu tetap saja ketahuan.

Di sela-sela kunjungan ke future technologies exhibiton bersama sahabatnya, Bucky Barnes (Sebastian Stan), sikap ngotot Rogers untuk masuk kemiliteran muncul kembali dan akhirnya dipertemukan dengan ilmuwan Dr. Abraham Erskine (Stanley Tucci) yang membantunya untuk masuk ke dalam pelatihan kemiliteran. Di pelatihan ia bertemu dengan seorang ‘wonder woman’, Peggy Carter (Hayley Atwell), yang bersikap sangat tegas dan keras. Melihat niatnya yang sangat besar, Rogers diberi kesempatan lebih jauh untuk dijadikan objek dari misi rahasia “Project Rebirth” dimana dirinya disuntik serum khusus yang pada akhirnya merubah bentuk dirinya menjadi lebih tinggi, kekar, dan 4x lebih lincah dari manusia biasa dalam kinerja fisik maupun otak. Dengan dirinya yang baru, Rogers kini berubah menjadi “Captain America”, pahlawan kuat yang berjuang menyelamatkan negerinya dari pemimpin organisasi rahasia NAZI, Hydra, yaitu Johann Schmidt / Red Skull (Hugo Weaving).
Seperti yang saya katakan di awal artikel tadi, sebagian besar adaptasi live-action dari DC Comics terbukti tidak memuaskan. Lihat saja dari Superman versi jadul yang for me personally gak tertarik, dan untung diperbaiki sedikit lewat Superman Returns. Ada juga Batman and Robins yang oh-my-god sampah banget. Kegagalan dalam penggarapan yang sangat memperihatinkan tersebut coba diperbaiki oleh Nolan dengan menunjukkan bahwa prospek film yang dimiliki DC Comics bisa jadi berhasil kalau ditangani oleh tangan yang betul. Jujur saya sendiri gak pernah suka sama Tim Burton yang kayaknya makin lama makin overstyle dalam membuat karya-karyanya. Ya namanya juga udah style sendiri ya. Kembali ke Marvel, publisher komik yang satu ini beruntung memiliki jajaran film live-action yang sebagian besar bias dibilang baik dan memenuhi standar. Lihat saja mulai dari trilogy Spiderman yang terlihat seperti pintu gerbang dari kejayaan Marvel ke depannya.

But for me personally, X-Men adalah film superhero terbaik. Diluar menurunnya kualitas di The Last Stand, makin parah di spin-off Wolverine, dan untungnya diperbaiki bahkan sangat istimewa dalam prekuel First Class. Nah, melanjutkan kesuksesannya tersebut, Marvel memperkenalkan sebuah Marvel Cinematic Universe. Apa itu? Saya singkat jadi MCU, ini adalah superhero-superhero Marvel yang dishare oleh Marvel Studios dan nantinya akan disatukan ke dalam proyek mahakarya Marvel, yaitu The Avengers. Sebelum dipersatukan, satu-satu dibuat dulu spin-off nya. Mulai dari Iron Man dan Iron Man 2 (paling bagus dibandingkan spin-off MCU lainnya) arahan Jon Favreau dengan bintang Robert Downey Jr.. Selain itu ada The Incredible Hulk diikuti Thor dan Captain America di tahun yang sama. Lima superhero ini bisa ditonton dalam satu film, yaitu salah satu proyek paling ambisius tahun depan, The Avengers. Tidak hanya itu, beberapa side-kick atau tokoh pembantu dari masing-masing film juga akan muncul, sebut saja Black Widow dan Pepper Potts sampai si archer yang tidak memiliki spin-off sendiri, Hawkeye. Mereka semua dipertemukan oleh ketua agen rahasia S.H.I.E.L.D, Nick Furry.

Lalu bagaimana dengan Captain America: The First Avenger? Jujur saya termasuk orang yang puas dengan film ini. Selaku sutradara, Joe Johnston berhasil memvisualisasikan karakter Steve Rogers ini. Captain America memiliki premis sederhana yang sangat teramat umum, yaitu from zero to hero. Tidak hanya Rogers yang pernah mengalami nasib tersebut, Spiderman pun terkenal akan sejarah awalnya yang hanya seorang pemuda nerd berkacamata dan akhirnya berubah menjadi kuat berkat sengatan laba-laba. Premis simple itu dijabarkan dengan kuat namun dengan penekanan sederhana dan tidak melupakan unsure komikal dan fun itu sendiri. Dari awal saya sudah bersemangat mengikuti dan sangat enjoy walaupun sekitar 40 menit pertama cerita berkutat sebatas masa-masa menderita si Rogers yang masih bertubuh kerempeng. Tapi itu bukanlah masalah. Agak risih mendengar kritikkan banyak orang yang mempersalahkan durasi film ini yang katanya overlength. Hello, it is only ten minutes different to Thor. Sangatkah krusial untuk dipermasalahkan? Bahkan bagi saya Captain America: The First Avenger jauh lebih baik dibanding Thor yang terlalu berpaku pada myth dan aksi laga. Satu catatan penting adalah, di saat cerita merubah fokus menuju konflik utama dan action sequence, pendalaman karakter dan penekanan premis cerita tetap dilakukan secara konsisten. Lihat saja bagaimana karakter Steve Rogers tidak ada hentinya memperlihatkan sisi manusiawi bahkan sisi outcast nya yang terkadang konyol, tapi tetap membangun sisi heroic lewat aksi-aksinya. Premis cerita yang saya sebutkan tadi juga tetap ditekankan sepanjang film lewat dialog-dialog bagus yang bagi saya charming banget.

Kelemahan bisa dilihat dalam divisi acting. Diluar karakterisasi yang baik, penampilan acting para pemain didalamnya bisa dibilang biasa saja. Tidak buruk, hanya lemah. Chris Evans yang sebelumnya pernah menjadi superhero dalam Fantastic Four bermain cukup baik disini, jauh lebih dari karakter lainnya. Tidak istimewa, tapi bisa dibilang menarik. Beruntung dirinya diberikan porsi utama yang sangat maruk sehingga terasa menutup karakter lainnya. Walaupun begitu, rasanya aneh dan berlebihan kalau karakter lain dianggap gak penting. Saya suka dengan tokoh sahabat Rogers, si Bucky. Karakter ini cukup mewarnai cerita dengan beberapa humor selipan. Ada juga Peggy Carter yang melengkapi syarat film; ada cowo pasti ada cewe. Dua karakter pembantu ini juga cukup bermanfaat untuk mewarnai suasana cerita, terutama saat dramatis di pertengahan dan konklusi film. Agak disayngkan tokoh yang dimainkan Stanley Tucci begitu cepat dimatikan. Oh iya jangan lupakan si Stark yang surprisingly diberikan porsi cukup banyak. Sayangnya bagi saya si Red Skull lah yang tidak dimainkan sebagaimana seharusnya seorang villain. Like I said, banyak loh humor-humor disini. Mulai dari ‘masa kerempeng’ si Rogers, aksi panggung Sang Capt. America yang memalukan, saat Peggy melihat foto dirinya di liontin Rogers, sampai pertanyaan tanpa henti si Rogers mengenai “fondue” antara Peggy dan Stark. Inilah yang membedakan Captain America dari spin-off Avengers lain, yaitu dimaksimalisirnya sisi humor dan premis cerita tanpa mengganggu isi film itu sendiri.

Big applause saya berikan bagi kinerja sisi teknikal film. Mulai dari shot visual effect CGI untuk mencurangi bentuk badan Chris Evans hingga terlihat kerempeng. Banyak teknik dilakukan disini, mulai dari memakai body double dan nantinya ‘ditimpa’ wajah Evans sampai scene shot yang dilakukan dua kali. Cara ini mengingatkan saya akan Benjamin Button yang juga melakukan cara ini, dan sukses di Oscar. Hal lain yang dikerjakan dengan bagus adalah cinematography yang dikerjakan Shelly Johnson. Suka banget sama cinemato-nya yang impressive, jarang loh ada superhero film yang member perhatian lebih di sisi ini. Action sequences juga asik, gak kurang gak berlebihan. Agak bingung loh banyak orang yang ngomong aksi nya kurang gimana gitu, padahal pas dan bagus. Development lainnya yang menarik perhatian saya adalah art direction yang memanjakkan mata. Feel ’40-an bener-bener dapet dan juga tone warna yang colourful dan pekat semakin buat saya betah nonton. Bahkan kalau boleh sedikit lebay, make-up sampai costume design juga oke loh. Sejauh film-film yang telah saya tonton tahun ini, Captain America punya prospek Oscar yang kuat di bagian teknik.  Oh iya hampir lupa, duo Stephen McFeely dan Christopher Markus yang menangani screenplay terlihat lumayan terpengaruh oleh proyek mereka sebelumnya, yaitu tiga film Narnia yang lekat akan unsur film keluarganya.
Talking point...
Captain America is hugely and superbly fun ride to leads people into The Avengers trimming. Not as boring as people says.

Rate :
1  2  3.5  4  5

Kamis, 18 Agustus 2011

A biggest fantasy that puts a spell on me: HARRY POTTER

Director 
Chris Colombus (1-2), Alfonso Cuaron (3), Mike Newell (4), David Yates (5-8)
Cast Daniel Radcliffe, Emma Watson, Rupert Grint
Distributor Warner Bros. Pictures Genre Adventure, Fantasy, Family, 3D

Ten years and eight films. But I needed a week only for catching up this epic saga ever made, Harry Potter. Dimulai dan diakhiri oleh J.K Rowling sebagai penulis novelnya. Dimulai oleh Chris Colombus dan diakhiri oleh David Yates sebagai sutradara dari versi filmnya. It All Ends.

Seperti yang sering gw katakan, awalnya gw bukanlah pecinta film serial ini. Bukan karena gw udah pernah nonton lantas nggak suka, bukan. Melainkan hanya karena orangtua gw yang dari kecil terlalu mengekang gw dan nggak memperbolehkan anak-anaknya untuk nonton sesuatu yang berbau magic atau kegelapan. Hahaha, memang berlebihan, kalo mau kasar anggap saja mereka rada oldschool *nggak sopan*. Well, sangat jelas kenapa gw nggak ngerti Harry Potter. Daridulu suka ada kesempatan untuk marathon dari seri pertama sampai yang mutakhir, tapi sepertinya bad-luck terus-terusan menghinggapi gw. Pas ada momen orang-orang jadi gila karena novel atau film Harry Potter terbaru muncul, sampai diomongin dimana-mana, berbeda dengan gw. Gw cukup stay cool dan menganggap tidak ada apa-apa. Halah halah, tapi itulah gw dulu, hahaha. And then everything is changed, kira-kira dua minggu lalu ketika instalmen terakhir dari franchise ini masuk ke Indonesia, rasa penasaran gw yang telah tertumpuk sepuluh tahun muncul juga. I wanted to watch this saga desperately, so I tried to download all of it, and then I watch them each a day. Seketika gw berpikir, sayang banget nggak pernah nonton di bioskop. Pasti bertahun-tahun ke depan serial ini bakal diingat sepanjang masa karena kehebatan yang dikatakan banyak orang. Alhasil gw tonton film terakhirnya, Harry Potter and The Deathly Hallows Pt. 2. Apa tanggapan gw terhadap film ini, sekaligus keseluruhan serialnya? Ok, cukup sudah curhat berlebihan gw.
Seri terakhir dari franchise Harry Potter ini masih melanjutkan kisah yang terpotong di Harry Potter and The Deathly Hallows Pt. 1. Di bagian yang pertama, Harry dikisahkan memasukki usia 17 tahun dimana dirinya telah mencapai kedewasaan secara dunia sihir. Yang berarti ia bebas untuk melakukan magic dan melindungi dirinya sendiri, tidak seperti dirinya dahulu yang masih dilindungi mantera supaya terlindung dari Voldemort. Di bagian pertama pula Hogwarts mengalami kehancuran. Paska 'pengkhianatan' yang dilakukan Severus Snape, ia membocorkan beberapa rahasia hingga akhirnya The Dark Lord dan pengikutnya berhasil mengambil alih kekuasaan di Hogwarts. Sementara itu, tiga sekawan, yaitu Harry, Hermione, dan Ron melakukan misi penyelamatan sendiri. Mereka mendatangi Hogwarts yang telah berubah, tetapi ketahuan oleh Bellatrix dan pasukannya. Dobby si Elf datang untuk menyelamatkan mereka semua.

Part 1 diakhiri dengan kematian mengharukan salah satu karakter, dan Voldemort yang mendatangi kubur Dumbledore untuk merebut tongkat sihir terkuat di dunia, Elder Wand. Untuk menghancurkan kuasa gelap yang berkuasa untuk sementara dan pemimpinnya sendiri, Harry harus memusnahkan tujuh horcrux yang ada di dunia. Horcrux merupakan jimat yang digunakan untuk menyimpan nyawa Voldemort. Masing-masing horcrux mewakili nyawanya yang tersisa. Sudah tiga horcrux yang berhasil dimusnahkan beberapa tahun sebelumnya, yaitu diari Tom Riddle, cincin Gaunt, dan terakhir liontin Slytherin. Masih ada empat lainnya di luar sana yang entah berada dimana. Horcrux terakhir ternyata berada di sesuatu yang sangat dekat dengan diri Voldemort dan selalu mengikuti kemana ia pergi. Harry, Hermione, dan Ron beserta pembela Hogwarts lainnya bersatu padu untuk menentang kuasa hitam dan The Dark Lord. For the very last time.
Agak bingung sih mau omongin apa aja dan yang mana dulu. Di luar baru aja selesai nonton semuanya, gw juga belum baca semua novelnya. Padahal sepertinya akan lebih enak aja gitu kalo udah baca, jadi bisa buat komparisasi antara dua media yang berbeda. Oiya sebelumnya, mohon maaf kalau ada beberapa kesalahan informasi atau isi cerita. Dan mungkin artikel ini rada berantakan mau ngomongin apa dulu, hahaha. Mari kita mulai from the very first film. Harry Potter and The Philosopher's Stone merupakan awal dari tujuh cerita utama Harry Potter. Seri yang pertama ini sebenarnya dulu memiliki sub-judul yang berbeda, yaitu "...and the Sorcerer's Stone" untuk region Amerika Serikat. Hmmm, nggak tahu kenapa, tapi kalau nggak salah judul aslinya yang "Philosopher's" deh. Dengan durasi cukup lama sekitar 159 menit, awalnya gw pikir bakal rada membosankan apalagi melihat premis cerita yang agak sederhana dan versi bukunya sendiri yang nggak tebal banget. Tapi ternyata tidak, di serinya yang pertama ini, Harry Potter memulai ceritanya dengan sangat lembut. Harry Potter 1 ini punya cerita yang belum terlalu dalam, agak terasa komikal dengan banyak selingan humor cerdas gaya J.K Rowling. Tapi masih setia dengan beberapa sisi dark yang diperlembut demi membantu orang tahu apa sih yang sedang dan akan terjadi ke depannya. 

Masih sama seperti yang pertama, Harry Potter and The Chamber of Secrets tetap menawarkan kisah yang menarik untuk diikuti anak-anak beserta pengalaman fantasi yang menyenangkan. Kalau yang pertama lebih banyak menceritakan asal muasal Potter secara mendasar, serta perkenalan akan boarding-school Hogwarts. Adalah sangat memorable apabila gw mengingat momen-momen di Harry Potter yang pertama. Diawali Dumbledore dan Prof. McGonagall mengantar bayi Harry untuk dititipkan ke keluarga yang nantinya sangat jahat, lalu saat Harry beserta murid-murid 1st year dipakaikan sorting-hat untuk mengklasifikasikan kelas yang layak bagi semua anak. Nah, yang beda disini adalah Chris Colombus menaikkan daya pikat penonton sedikit lebih tinggi demi menyesuaikan kisah J.K Rowling yang mulai memasukki konflik 'good vs evil' dimana Harry dipertemukan dengan Tom Riddle wujud manusia dan makhluk mistik Basilisk. Oiya hampir lupa, sebenernya di Harpot 1 dia sudah bertemu dengan Voldemort yang masih 'numpang' di kepala orang. Si tiga sekawan sudah melakukan challange untuk pertama kalinya yaitu magic-chess (gw nggak tahu apa istilahnya, jadi buat sendiri saja). Tapi gw merasa di film kedua lah si Chris lebih mencoba untuk nggak main aman. Chamber of Secrets turut juga berperan sebagai awal dimana Harry melakukan misi penghancuran You-Know-Who, dimana ia menghancurkan buku diari Tom Riddle yang pada saat itu belum mengerti mengenai horcrux. Overall, Chamber of Secrets adalah sekuel yang sangat baik untuk menaikkan pamor Harry Potter.

Semuanya berubah 180 derajat di serinya yang ketiga, yaitu Harry Potter and The Prisoner of Azkaban. Banyak yang berubah disini. Di luar penampilan para pemain yang lebih dewasa, tidak 'sebocah' di kedua film sebelumnya, Prisoner of Azkaban memiliki sutradara yang baru yaitu Alfonso Cuaron. Selaku penulis novel, J.K. Rowling semakin memperdalam kesan dark di kisah Harry Potter ini. Seri yang ketiga ini memiliki banyak challange dan konflik yang semakin menghantui, misalnya kehadiran Dementor dan kaburnya Sirius Black yang sangat menghantui. Perkelahian antara Harry vs Dementors sangatlah menegangkan sekaligus menakutkan. Dengan pintar si Rowling memperjelas konklusi dari beberapa masalah/kejadian sedemikian jelas, dan berhasil divisualisasikan oleh Cuaron dengan sangat kelam. Hal lain yang gw suka adalah beberapa karakter yang perannya disini lebih 'terlihat' dan mengawali banyak pertanyaan. Diantaranya adalah sosok Snape yang membingungkan, di pihak manakah ia berada. Karakter Draco Malfoy turut dipertajam sedikit kenakalannya. Ya, masih sebatas 'nakal'. Jangan lupakan kasus Sirius Black vs Lupin vs Snape vs si tikus (lupa namanya) beserta tiga sekawan di bawah pohon oak yang disusun dengan cerdas oleh Rowling. "Expecto patronum", mantera paling saya ingat dari Harry Potter ada di seri yang ketiga ini. 
Untuk kedua kalinya franchise ini melakukan 'tukar tambah' kursi sutradara. Kali ini, Mike Newell si pengarah Four Weddings and Funeral dipercaya untuk merangkai cerita si bocah penyihir lewat visualisasi yang lebih kelam. Bedanya disini adalah Mike Newell masih menyesuaikan kesan dark itu dengan tetap memunculkan banyak humor khas Harry Potter. Banyak challange dan kejadian yang bersifat fun juga dibuat dengan cukup baik, misalnya Quidditch World Cup dan prom-night versi Hogwarts (gw lupa apa namanya). Tapi diluar banyaknya hal penting yang diperkenalkan, menurut gw Harry Potter and The Goblet of Fire ini nggak seseru tiga film sebelumnya. Ada yang bilang begitu karena nggak konsistennya si Newell terhadap cerita asli di novel itu sendiri. Nggak tahu juga sih, yang pasti gw nggak bisa comment. Nggak krusial sih untuk terlalu dimasalahkan, paling tidak Harry Potter semakin memberikan kesan loveable pada franchise ini. Lagipula di seri yang keempat ini banyak hal penting lain yang divisualisasikan dengan baik. Diantaranya adalah kematian Cedric yang dibuat sangat mengharukan dan bangkitnya si You-Know-Who. Berlanjut di Harry Potter and The Order of Phoenix, dan untuk terakhir kalinya berganti sutradara. David Yates memulai debut Harry Potternya di seri yang kelima ini dan terus mengkomandani sisanya sampai yang terakhir. Banyak yang berbeda dari cara Yates mengarahkan film Harry Potter. Yates lebih unggul dalam melakukan pendewasaan karakter-karakter secara perlahan dan lebih baik ketimbang pendahulunya. Kesan dark dan cerita yang lebih berat pun merupakan salah satu unsur penting dari gaya si Yates ini. 

Harry Potter mengalami kemunduran sedikit di seri yang keenam, Harry Potter and The Half Blood Prince. Kembali dengan David Yates, Harry Potter memiliki konflik yang tidak seperti semua film terdahulu. Half Blood Prince memiliki banyak kelemahan khususnya gaya penceritaan yang tidak terlalu intens. Berusaha meminimalisir efek visual mungkin agar nggak mengganggu jalan cerita, film keenam ini justru agak berantakkan susunan ceritanya. Walaupun begitu, Harry Potter tetap seru kok untuk ditonton. Film ini juga membuka kekacauan dan kesuraman yang menandakan bahwa Harry Potter tidak terlalu aman sebagai tontonan anak kecil. Beberapa tokoh juga diberikan porsi lebih oleh J.K Rowling, misalnya masa kecil Tom Riddle dan juga pendewasaan karakter si Draco Malfoy dalam menumbuhkan dark-sidenya. Sangat disayangkan kematian Dumbledore tidak se-wah ekspektasi gw, terlalu biasa. Malah banyak yang bilang versi novel bercerita lebih sedih. Bagaimanapun, Severus Snape semakin menarik hati gw disini. Tokoh yang nantinya menjadi favorite gw. 

Mengakhiri sekaligus melengkapi rangkaian Harry Potter sepenuhnya, Harry Potter and The Deathly Hallows akhirnya hadir di akhir dekade lalu dan di awal dekade ini. Lah? Ya, instalmen terakhir Harry Potter dibagi menjadi dua bagian, yaitu Part 1 dan Part 2. Nah kebetulan nih gw baru aja selesai baca novelnya (paragraf ini ditulis jauh sesudah banyak paragraf di atas -_-). Menurut gw Harry Potter yang terakhir ini merupakan konklusi dari sebuah rangkaian kisah fantasi yang sangat baik. Walaupun awalnya banyak yang yakin dibuat sampai dua bagian semata-mata untuk meraih pendapatan yang lebih, menurut gw gak sepenuhnya benar. Okelah, pernyataan itu gak bisa dibantah. Toh memang benar kan pemasukkan jad lebih besar. Tetapi yang menjadi nilai lebih dari keputusan pembagian itu adalah, David Yates berhasil mengadaptasi hampir semua cerita di versi novel menjadi visual gambar dengan baik. Hampir gak ada hal-hal penting yang dilewatkan, membuat Deathly Hallows lebih mendetail. Walaupun begitu gw kadang-kadang merasa sayang aja gitu harus dibagi dua gitu, padahal kalau saja disatukan, sensasi menonton jadi lebih seru karena durasi yang sangat lama seperti lords of The Rings dan untungnya didukung oleh kualitas film adaptasi yang luar biasa. 
Jujur gw agak bingung mau ngomongin apa lagi. Mungkin karena gw bukan seorang yang sangat setia, walaupun sekarang gw agak tergila-gila sama Harry Potter. Intinya banyak sekali hal-hal positif yang perlu kita lontarkan untuk memuji this biggest franchise all the time. Baik itu dari sisi kualitas cerita beserta beberapa hal yang rasanya menggurui, kualitas dalam penggarapannya pun sangatlah menakjubkan. Bagaimana seluruh sutradara dari semua film merangkai unsur-unsur buku sedemikian jelas dan tidak melupakan banyak hal yang bersifat krusial, dan juga bagaimana para kru lainnya bekerja sama baiknya seperti visualisasi efek yang hampir semua eye-popping. Banyak hal yang gw dapat dari Harry Potter. Some of those are, how to deal with death and how mortality is exist. Pendewasaan karakter yang berjalan perlahan-lahan juga menunjukkan bahwa seseorang pasti bisa dan akan tumbuh secara jasmani maupun rohani, it doesn't care either how stupid or pity their childhood are. Lihat saja kontribusi besar-besaran yang dilakukan banyak sekali karakter yang rasanya tidak terduga, ambil contoh saja si Neville Longbottom maupun Luna Lovegood. Diluar itu, pendewasaan karakter ini juga membuktikan kecerdasan J.K. Rowling dalam menulis sebuah cerita, tetap memperdulikan tulisan-tulisan terdahulu yang terbuka kemungkinan untuk mudah dilupakan. 

Tadinya mau buat semacam award atau list mengenai hal-hal di dalam Harry Potter, tapi rasanya gak ada waktu -_-. Severus Snape is my favorite character. Kenapa gw suka dia? Jelas karena kekompleksan karakternya yang rumit dan penuh twist. Snape adalah sosok yang 'mengancam'. He can be either good or bad, but in the end he turned out to be good. There is evidence of his goodness, and evidence that he is evil. Ya, selain rumit, tak kelak menimbulkan banyak spekulasi. Oh how I love you, Snape. Hal lain yang gw suka tentu adalah The Weasley, contoh keluarga 'outcast' yang gak kenal ampun sama setiap orang yang menghina mereka. Gw suka bagaimana keluarga fiksi ini digambarkan sebagai sesuatu yang memalukan tapi menggembirakan berkat seluruh anggota yang unik dan berciri khas. Jangan lupakan sosok Umbridge, si anggota kementerian yang sifatnya sangat memuakkan. Lupakan bagaimana kebencian semua witches, muggles, or whatever kepada You-Know-Who. Karena dari lubuk kebencian gw yang paling dalam, Umbridge lah yang lebih menyebalkan dan sering sekali muncul rasa kesal dalam diri saya ketika memandang wajah dan kelakuannya. 

Sekedar ungkapan kecewa sedikit, ada beberapa yang gak sejalan dengan ekspektasi awal gw. Misalnya adegan kematian Dumbledore, seperti yang telah gw katakan tadi, yang rasanya tidak dibuat terlalu menyentuh. Kejadian "Forest Again" pun rasanya agak menggelitik, tidak se-intens di novel. Lihat saja bagaimana Harry Potter yang berpura-pura mati di film langsung terbangun sebegitu aneh dan lucu, sekali lagi, tidak seperti di novel. Ah, lupakan sajalah, bukan suatu hal yang patut dijadikan masalah. Toh, meskipun begitu, semuanya berjalan bagus-bagus saja dan tidak mengurangi keseruan cerita. Perlu diakui, gw agak bingung artikel gw yang satu ini adalah artikel, feature biasa, atau curhatan (hahahaha-_-). Diluar kata-kata yang gw rangkai agak berantakan, faktor malas mungkin bisa dijadikan alasan. Agak nyesal sih kenapa gw tidak membuat artikel seperti yang biasanya gw buat, maklum, terlalu banyak yang harus ditulis kalau satu-satu. Alhasil, mungkin terlihat seperti tulisan nostalgia satu minggu kali ya? Ah, gak penting. It's going to be weird that there's no harry potter we had been waiting on, but it would be a shame to try to recreate them. Just don't. And I think Prisoner of Azkaban & both Deathly Hallows films are the best from all others. But why the last two finale films really excites me? Because both of them are the epic conclusion of harry potter saga that puts a spell on me. Howsoever, Harry Potter is GREAT.

Rate : (overall)
1  2  3  4  5 

Rabu, 23 Maret 2011

[Review] GNOMEO & JULIET (2011)

"A little adventure goes a lawn way"
Director :
Kelly Asbury

Cast :
James McAvoy
Emily Blunt
Michael Caine
Maggie Smith
Ashley Jensen

Distributor :
Touchstone Pictures

Genre :
Animation, Comedy, Family, Romance, 3D








Setelah berpuluh-puluh kali karyanya dijadikan referensi maupun naskah dasar suatu adaptasi film, kali ini untuk kesekian kalinya karya William Shakespeare diadaptasi kedalam bentuk motion picture. Adalah Gnomeo & Juliet, animasi keluarga yang perilisannya memanfaatkan momen sebelum hari Valentine tahun ini. Tidak bisa dipungkiri bahwa sebuah film akan lebih diuntungkan bila mengatur tanggal rilis bertepatan atau disekitar hari-hari penting dan memorable. Tetapi disamping hal tersebut, Gnomeo & Juliet menset momen itu juga sebagai pendukung plot cerita yang mengetengahkan kisah cinta. Kembali ke topik pembuka, dari judul saja sudah terbesit dengan jelas karya Shakespeare apa yang menjadi fondasi kuat animasi awal tahun 2011 ini, tak usah saya sebutkan pasti anda tahu kan apa yang saya maksud. Walau sebelumnya sudah dibuat adaptasi layar lebar dengan bintang Leonardo DiCaprio, Kelly Asbury (Shrek 2, Spirit: Stallion of Cimarron) sepertinya masih bisa percaya diri membuat ulang dengan bentuk animasi. Tidak mau sendirian, ia mengajak delapan orang lainnya untuk bersama-sama 'mengeroyok' naskah tragis Romeo and Juliet yang dewasa menjadi sebuah cerita ringan, lucu, dan menarik bagi semua kalangan. Nama-nama terkenal bahkan legendaris berjejer satu persatu sebagai pengisi suara film ini. Dipimpin James McAvoy (Wanted, Atonement) dan Emily Blunt (The Wolfman, The Young Victoria) yang mengisi suara kedua karakter sentral, Gnomeo & Juliet coba 'pamer' dengan menggandeng beberapa nama besar seperti Jason Statham (Transporter, Crank) sampai bintang rock legendaris Ozzy Osbourne.
Memiliki rumah bersebelahan tidak selalu mendukung timbulnya keakuran. Itulah yang dialami Mrs. Montague (Julie Waters) dan Mr. Capulet (Richard Wilson) dari dulu sampai sekarang. Sekali saja mereka bertemu atau berpapasan, pasti ada saja yang diperdebatkan. Namun perseteruan mereka tidak pernah berakhir walaupun keduanya sedang tidak bertemu, ternyata gnome atau hiasan kebun kedua orang itu mengalami hal serupa. Gnome-gnome kecil itu akan berubah menjadi hidup layaknya manusia kalau majikan mereka sedang tidak mengawasi. Layaknya Mrs. Montague dan Mr. Capulet, kubu terbagi menjadi dua. Ada gnome biru milik Mrs. Montague, ada juga gnome merah milik Mr. Capulet. Gnome biru diketuai oleh Lady Bluebury (Maggie Smith), sedangkan gnome merah diketuai oleh Lord Redbrick (Michael Caine). Setiap waktu pasti ada saja yang dipermasalahkan kedua kubu ini, yang penting tercipta kepuasan tersendiri di masing-masing kubu. Perselisihan turun temurun ini seakan 'tercoreng' oleh pertemuan tidak sengaja yang terjadi antara Gnomeo (James McAvoy) dan Juliet (Emily Blunt) yang berubah menjadi cinta. Gnomeo adalah putra dari pemimpin gnome biru, sedangkan Juliet adalah putri dari pemimpin gnome merah. Miris memang, disaat cinta terlarang ini tumbuh semakin kuat di benak masing-masing pihak, permusuhan yang terjadi antara kedua kubu gnome berlangsung semakin panas dan tak terkendali.
Jangan mengharapkan kisah tragis dan kelam Romeo and Juliet akan kembali mewarnai plot cerita animasi yang satu ini. Sebaliknya, Gnomeo & Juliet berjalan dengan kisah yang malahan lucu dan lebih ringan, walaupun kisah cinta dilematis tetap mendasari hubungan antara Gnomeo dan Juliet. Memang tidak mengejutkan hal ini terjadi, karena pada dasarnya film ini adalah animasi yang ditujukkan bagi penikmat film ringan nan menghibur. Tidak bisa dipungkiri keberhasilan tim yang mengurusi segala hal teknik film ini. Gnomeo & Juliet terbukti berhasil menghadirkan desain animasi yang sangat memanjakkan mata dengan tekstur warna yang sedemikian cerah dan detail-detail pencahayaan terang benderang yang berpadu dengan baik sehingga membantu kesempurnaan teknik animasi. Keberhasilan hal teknik ini semakin terasa berkat tembang-tembang lagu Sir Elton John dalam mengiringi banyak adegan. Suasana pun berpadu menjadi ceria dan berwarna sehingga durasi 82 menit yang terbilang singkat tidak terasa barjalan sedemikian cepat. Gnomeo & Juliet bukanlah film Pixar bahkan DreamWorks yang terkenal dengan gaya penceritaan dan teknik animasi berkualitas dan tidak jarang dijuluki 'kelas Oscar'. Tapi sangat disayangkan cerita berjalan tanpa improvisasi besar yang menjanjikan sehingga naskah tidak terlihat sebagai fondasi utama penambah nilai plus. Oke, saya tidak mengharapkan kemajemukkan cerita dan visual mahakarya layaknya Toy Story atau Avatar bahkan kedewesaan kisah berbalut visual kelam layaknya 9 atau The Illusionist. Tapi jangan lupakan tim 'perombak' naskah yang beranggotakan sembilan orang itu, apa yang mereka kerjakan? Rasanya jumlah orang seekstrim itu harusnya mampu membuat film dieksplorisasi lebih tinggi dengan eksploitasi cerita yang jauh lebih kuat dan berkualitas. Lupakan hal tersebut, karena mungkin mereka punya alasan bahwa Gnomeo & Juliet ditujukkan bagi anak-anak yang hanya peduli oleh segi visual dan lelucon maupun tingkah laku karakter yang humoris. Diluar kelemahan naskah yang telah saya singgung, film animasi ini mampu mengeksploitasi sisi humoris cerita dengan banyak dialog berisi lelucon yang tidak bisa dipungkiri kelucuannya dalam membuat saya mengeluarkan tawa besar. Dari segi pengisi suara, hmm, rasanya tidak penting disinggung, karena menurut saya pribadi siapapun yang mengisi tetap saja tidak bisa memberikan kontribusi besar bagi peningkatan kualitas film. Oke, Nanette adalah tokoh yang paling mengundang perhatian saya, bukan karena suaranya melainkan dialog-dialognya yang mendominasi sisi humoris dalam film. Ada juga sekumpulan gnome supermini dari kubu merah yang mengundang tawa lewat gerak-gerik dan suara mereka yang unik dan konyol, hmm, mirip minions-nya Despicable Me.
Talking point...
Diluar kemiskinan eksploitasi naskah yang seharusnya dilakukan dan premis sederhana maupun ending yang predictable, Gnomeo & Juliet tetaplah animasi wajib tonton berkat dukungan dominasi visual animasi yang eye-candy dan lelucon-lelucon yang melahirkan citra dan pesona yang sangat menyenangkan.

Rate :
3 out of 5

Selasa, 15 Maret 2011

DRIVE ANGRY (2011)

"All Hell Breaks Loose"
Director :
Patrick Lussier

Cast :
Nicolas Cage

Amber Heard
Billy Burke

William Fichtner
David Morse

Distributor :
Summit Entertainment

Genre :
Action, Thriller, Supernatural, 3D









Lirik dulu posternya; Yap, Nicolas Cage (National Treasure, Sorcerer's Apprentice). Jangan sampai salah mengenali pria berambut gondrong nanggung ini. Lalu siapa 'pajangan' yang duduk di sebelah jok Cage? Yap, Amber Heard (Zombieland, Pineapple Express). Cewe yang mungkin menjadi nilai tambah apalagi bagi kalangan pria ini--shit, hate to say this--baru-baru ini mengaku bahwa dirinya adalah seorang lesbian. Tidak hanya mereka berdua, film yang lebih layak dimasukkan ke dalam 'perbendaharaan' film kelas-B ini juga dipermanis oleh beberapa aktor yang tidak setenar Cage, sebut saja Billy Burke (Twilight, New Moon) dan William Fichtner (Crash, Armageddon). Diarahkan oleh Patrick Lussier (Dracula 2000, White Noise 2: The Light), Drive Angry ikutan unjuk gigi lewat teknologi 3D yang juga disematkan ke dalam film ini, ya, selain menambah pundi-pundi uang mungkin juga agar film tambah 'dikenal' kemunculannya. Saya tak terlalu mengerti mengapa ada 'film bule' bisa masuk ke Indonesia, tapi menurut beberapa penjelasan yang saya baca hal ini dikarenakan Drive Angry tidak termasuk 'film MPAA'. Tapi semoga saja direktorat pajak negeri Indonesia yang menyedihkan ini, dan juga pihak Hollywood membuka jalan keluar yang lebar bagi masuknya film-film Hollywood yang masih saya tunggu sampai sekarang. Sebagai tambahan, anda yang nonton film ini di bioskop Indo mungkin mengalami hal yang sama dengan saya; subtitle dengan font besar, aneh, dan kadang beberapa dialog tidak diterjemahkan. John Milton (Nicolas Cage) adalah sosok misterius, berambut aneh, dan tiba-tiba saja muncul di permukaan bumi ini--ya, Milton merupakan orang yang sesungguhnya telah mati dan masuk ke neraka, dan kembali ke bumi untuk menjalankan suatu misi. Misi kedatangannya ke bumi tidak lain adalah untuk menyelamatkan ekistensi satu-satunya sisa keturunannya, yaitu sang cucu. Dikisahkan anak Milton dibunuh oleh seorang pemimpin sekte aliran sesat pemuja setan bernama Jonah King (Billy Burke). Pria sadis itu tidak enggan menculik bayi wanita tersebut, alias cucu Milton, untuk dijadikan tumbal dan akan dibunuh tepat di hari bulan purnama. Menurut mereka bayi tidak bersalah ini adalah kunci terbukanya jalan menuju neraka dan menguasai seluruh dunia. Di bumi Milton bertemu dengan Piper (Amber Heard), wanita yang baru saja berhenti bekerja sebagai pramusaji sebuah kafe kecil. Berawal dari Milton numpang mobil Piper, lalu ikut campur dalam permasalahan cinta wanita tersebut dengan pacarnya, Piper terpaksa ikut Milton berkelana dan setelahnya Piper merasa dirinya terpanggil untuk menemani Milton. Sambil berusaha memburu sekte sesat yang menculik cucunya, ternyata ada orang, eh, pihak lain yang memburu Milton. Ia adalah sosok tanpa nama yang menamai dirinya dengan sebutan The Accountant (William Fichtner), 'sipir' neraka dengan misi menangkap Milton yang kabur dari 'penjara'. Perburuan berantai pun dimulai--sipir mengejar tahanan, tahanan mengejar penculik. Tidak ketinggalan Piper yang mempertanyakan apa yang sebenarnya sedang terjadi dalam hari yang sangat sial itu. Jujur sampai sekarang saya belum lihat trailer film ini, hanya sebatas poster yang saya jadikan informasi utama. Dilihat dari posternya mungkin tidak tertebak apa tema maupun inti cerita film ini. Tapi kalau dilihat dari Nic Cage di poster film ini, cerita semacam Ghost Rider yang terlintas di pikiran saya. Jawabannya; hampir. Drive Angry ternyata mengusung tema yang mirip dengan Ghost Rider. Sosok dari neraka datang ke bumi, tapi bedanya kendaraan yang hadir di Drive Angry murni made in earth. Meskipun banyak yang menganggap Drive Angry terlalu berlebihan dalam mengeksploitasi sex dan kekerasan tanpa mempedulikan segi cerita, Drive Angry nyatanya masih bisa dikategorikan sebagai film yang menghibur. Jika ditelusuri plot ceritanya, mungkin penonton, termasuk saya, menganggap film berdurasi 104 menit ini menghadirkan jalan cerita yang terlampau aneh dan gampang dijumpai dalam beberapa film. Di luar kedangkalan jalan cerita yang konyol, Drive Angry mampu menghibur kita dengan komposisi action yang hampir mendominasi durasi film. Dari awal sampai akhir film terus berjalan dengan mengeksploitasi action blak-blakkan dan kekerasan di adegan demi adegan. Ya, semua fitur ini terus-terusan dieksploitasi diluar batas tanpa henti, tapi tetap saja menciptakan suatu hiburan yang sangat baik dan tidak tanggung-tanggung. Kehebatan fitur action yang digarap baik oleh Patrick Lussier ini mungkin pengaruh dari pengalaman Patrick yang sebelumnya sering menggarap ataupun bergabung dalam tim di film-film sejenis seperti My Bloody Valentine 3D dan Scream. Secara keseluruhan, semua hal ini berhasil menutupi kedangkalan unsur cerita. Teknologi 3D yang dipakai juga tidak murahan, menggunakan embel-embel 'shot-in-3D', lagi-lagi eksploitasi 3D disematkan dengan baik lewat adegan berdarah-darah, ledakan-ledakan, hingga balapan mobil. Ya, namanya juga film kelas-B--sebuah cap bagi film-film yang mengandung eksloitasi besar-besaran terhadap unsur sex, kekerasan, dan banyak subjek ekstrim. Dari departemen akting tidak ada yang menonjol, walau bermain cukup baik namun Nic Cage tetap saja tidak memberikan perubahan besar bagi kualitas karirnya yang semakin menurun. Selain itu dengan berani dan sangar Amber Heard bermain cukup baik, malah Billy Burke rasanya yang lebih pantas di cap sebagai pemanis film. Dan jangan tertipu oleh posternya, Drive Angry bukanlah film yang pantas dipelototi anak kecil, walau beberapa nudity dan sex scene telah disensor, tetap saja kata-kata kasar dan kekerasan bersebaran dimana-mana. Well, walau plot cerita yang diusung terlihat murahan, Drive Angry terbukti unggul dalam mengeksploitasi semua unsur penting dalam kelas-B yang berhasil sampai di garis finish; menghibur.

Rate :
3/5

Kamis, 10 Februari 2011

THE GREEN HORNET (2011)

"Breaking The Law To Protect It"
Director :
Michael Gondry

Cast :
Seth Rogen
Jay Chou
Cristoph Waltz
Cameron Diaz
David Harbour

Distributor :
Sony Pictures

Genre :
Action, Comedy, 3D







The Green Hornet merupakan acara serial radio produksi tahun 1932 dan semakin melejit di tahun-tahun berikutnya, sampai dibuat adaptasi komiknya. Tidak hanya itu, tahun 1966 dibuat juga adaptasi serial televisinya - dengan Van Williams sebagai Green Hornet sedangkan side-kicknya si Kato diperankan oleh aktor legendaris Bruce Lee. Yang unik adalah bukannya tokoh Green Hornet yang terkenal dan disukai, tapi malah si Kato yang malah banyak mendapat penggemar. Di tahun 1992 sebenarnya sudah direncanakan untuk dibuat adaptasi layar lebarnya. Tetapi karena kendala kekosongan kursi pemain dan sutradara, proyek ini terus mundur. Nama Nicolas Cage dan Jack Gylenhaal sempat dikabarkan akan memerankan karakter Green Hornet. Hingga akhirnya Michael Gondry dipastikan akan duduk di kursi sutradara, komedian Seth Rogen yang sukses dengan Superbad-nya pun ikut ambil bagian sebagai pemeran Green Hornet. Sementara itu aktor sekaligus penyanyi asal Taiwan, yaitu Jay Chou, dipercayakan untuk memerankan Kato.The Green Hornet sendiri bercerita mengenai Britt Reid - yang notabene merupakan anak dari pengusaha kaya James Reid. Karena kematian ayahnya tersebut, Britt dipercayakan untuk memimpin perusahaan surat kabar milik ayahnya, The Daily Sentinel. Kemudian Britt dipertemukan oleh seorang pelayan lewat peristiwa 'kopi'. Pelayan handal itu bernama Kato, tidak hanya jago membuat kopi, ia ternyata handal dalam urusan rakit-merakit mobil dan jago bela diri. Pertemuan mereka berlanjut hingga Kato dan Britt terlibat dalam aksi kejahatan di pinggir jalan. Didasari rasa ingin menolong orang akan kejadian itu, mereka pun memutuskan untuk menjadi superhero yang memerangi kejahatan dengan fasilitas mobil modifkasi canggih bernama 'Black Beauty' yang dibuat oleh Kato. Britt pun menamai dirinya dengan julukan 'Green Hornet' - yang selanjutnya terkenal ke seluruh penjuru kota karena aksi pahlawannya bersama Kato. Aksi Green Hornet ini ternyata meresahkan seorang mafia Jerman di LA, Benjamin Chudnofsky - yang ingin melenyapkan kedua superhero baru ini.The Green Hornet berhasil membuat saya ketawa terbahak-bahak dengan humor konyol yang banyak diucapkan oleh Britt. Seth Rogen terbukti mampu mengubah ekspetasi saya terhadap film ini yang awalnya saya kira full-packed-of-'high'-action. Ternyata film berdurasi 119 menit ini lebih mengutamakan sisi komedi ketimbang jalan cerita rumit yang banyak dihadirkan film superhero sejenis. Kehadiran humor yang mendominasi adegan demi adegan juga terbukti mampu menutup kesederhanaan plot ceritanya. Ya patut saya maklumi untuk film bergenre seperti ini memang tidak butuh sebuah jalan cerita berat - yang nantinya malah memusingkan penonton dan bisa mengubur kehebatan aksi dan humornya. Aksi bodoh yang dilakukan oleh Rogen mengubah image seorang Green Hornet yang mungkin banyak dikira sebagai superhero pemberani. Perlu ditekankan, Kato-lah sebenarnya yang menjadi pusat perhatian di film ini. Tidak hanya karena tampang orientalnya, ia lebih membangun sebuah image keren dibanding si Britt. Perannya terlihat natural dengan memancarkan kharisma seorang Jay Chou yang dikenal banyak orang. Mungkin ada sebagian orang yang menganggap karakter Kato disini cukup menjadi sorot utama film, menghancurkan sinar si Green Hornet. Untuk pemain pembantu lainnya seperti Cameron Diaz dan Cristoph Waltz terlihat biasa saja sebagai pemanis. Mereka bagaikan tempelan di film ini - hanya untuk melengkapi film superhero dengan kehadiran villain dan love interest ataupun pendamping wanita. Well, The Green Hornet terbukti enterntaining dengan dominasi suguhan adegan aksi yang keren dan humor konyol yang cukup berkualitas untuk film sejenis ini. Lagi-lagi film yang baik sebagai pembuka tahun 2011 :)



Rate :
3.5/5